KEDIRI – Lumpur menjadi arena perburuan ratusan warga di Omah Sawah Burengan, Kota Kediri, Minggu (23/8). Dengan tangan kosong, para peserta berjibaku menangkap belut yang licin dalam lomba yang menjadi bagian dari Festival Omah Sawah.
Sorak-sorai pecah setiap kali seekor belut berhasil ditaklukkan. Tak peduli tangan, kaki, hingga pakaian berlumur lumpur, peserta terus bergerak cepat memburu tangkapan sebanyak-banyaknya.
Lomba belut tersebut terbuka untuk masyarakat umum dan digelar tanpa dipungut biaya. Ketua Panitia Festival Omah Sawah, Heru Wijaya, mengatakan panitia menyiapkan sekitar 150 kilogram belut dan 50 ekor bebek untuk perlombaan.
Antusiasme warga pun terbilang tinggi. Ratusan peserta dari Kota dan Kabupaten Kediri turut ambil bagian dalam lomba yang menghadirkan suasana riuh sekaligus penuh kegembiraan tersebut.
Pada sesi pertama, peserta diberi waktu 30 menit untuk menangkap belut sebanyak-banyaknya. Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah tangkapan, dengan tambahan kejutan berupa belut yang diberi tanda pita berwarna kuning, merah, dan hijau.
Belut maupun bebek yang berhasil ditangkap peserta juga boleh dibawa pulang. Aturan sederhana itu membuat perlombaan terasa seperti perayaan bersama—di mana lumpur, tawa, dan keberuntungan bertemu dalam satu arena.
Heru mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata ditujukan sebagai hiburan. Festival itu juga menjadi upaya mengajak masyarakat kembali mengenal suasana dan kehidupan di sawah, sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.
“Harapannya, kegiatan ini bisa menumbuhkan kembali rasa cinta kepada sawah sekaligus mempererat kerukunan antarwarga karena kami buka untuk umum agar masyarakat bisa berkumpul dan guyub bersama,” katanya.
Keseruan itu turut dirasakan Tofan, warga Tirtoudan. Sejak awal, ia memang sudah berniat mengikuti lomba. Tanpa menggunakan alat, ia memburu belut dengan tangan kosong hingga seluruh tangan dan bajunya dipenuhi lumpur.
Usahanya tak sia-sia. Tofan berhasil menangkap lebih dari 20 ekor belut. Namun, keberuntungannya belum berhenti di sana.
Di antara puluhan belut yang didapat, terdapat seekor belut berpita hijau. Tangkapan istimewa itu membuat Tofan berhak membawa pulang hadiah berupa sepeda.
Bagi para peserta, perlombaan tersebut mungkin hanya berlangsung selama beberapa puluh menit. Namun, di tengah lumpur dan riuh tawa, Festival Omah Sawah menghadirkan kembali satu hal yang kerap jauh dari hiruk-pikuk perkotaan: keseruan sederhana ketika warga berkumpul, bermain, dan merasakan kembali denyut kehidupan di sawah.
Jurnalis: Anisa Fadila



