Dari Pakaian Bekas Jadi Tie-Dye, Kreativitas Warga Kediri Hidupkan Bank Sampah

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI — Tak semua gerakan menjaga lingkungan langsung mendapat sambutan positif. Hal itu juga dialami Bank Sampah Berseri RW 5 Burengan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur.

Saat pertama kali berdiri pada 2015, keberadaan bank sampah tersebut sempat memunculkan pro dan kontra. Sebagian warga masih menganggap sampah identik dengan sesuatu yang kotor dan berbau.

Namun, edukasi yang dilakukan secara bertahap perlahan mengubah pandangan warga. Sebelas tahun kemudian, Bank Sampah Berseri masih aktif dan kini memiliki sekitar 55 anggota dari RW 5 serta sejumlah wilayah di sekitarnya.

Semangat pengelolaan sampah itu terlihat ketika Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengunjungi Bank Sampah Berseri, Senin (28/9). Dalam kunjungan tersebut, Vinanda melihat berbagai hasil kerajinan warga sekaligus mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam mengelola sampah dan mengembangkan produk kreatif.

Ketua Bank Sampah Berseri RW 5 Burengan, Nunuk Sukatiningsih, mengatakan bank sampah tersebut dibentuk untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.

Nama Berseri sendiri merupakan singkatan dari bersih, sehat, rapi, dan indah.

“Pada awalnya ada pro dan kontra karena masyarakat masih berpikir kalau sampah identik dengan kotor dan bau,” ujar Nunuk.

Menurut Nunuk, penerimaan warga mulai tumbuh setelah edukasi dilakukan secara konsisten, salah satunya melalui kegiatan PKK.

Dari Sampah Jadi Produk Kreatif

Tak hanya mengumpulkan dan memilah sampah, Bank Sampah Berseri juga mendorong anggotanya memanfaatkan barang bekas menjadi produk bernilai guna.

Salah satunya melalui pembuatan kaos Tie-Dye. Ide tersebut berawal dari keinginan memanfaatkan pakaian bekas agar tidak langsung berakhir sebagai sampah.

Nunuk mempelajari teknik pembuatan Tie-Dye secara otodidak melalui YouTube. Dari proses belajar tersebut, produk kemudian dikembangkan dan mulai dipromosikan serta digunakan oleh masyarakat maupun sejumlah pihak lainnya.

Berbagai produk lain juga dibuat untuk kepentingan edukasi, seperti celengan dan tas belanja dari material bekas. Produk-produk tersebut sekaligus digunakan untuk mengenalkan konsep penggunaan kembali barang kepada anak-anak dan masyarakat.

Punya Semangat “Bank Cicilan Akhirat”

Ada satu prinsip yang menjadi penyemangat para anggota untuk terus menjalankan kegiatan tersebut secara sukarela. Mereka menyebutnya “BCA” atau Bank Cicilan Akhirat.

Bagi para anggota, kegiatan mengelola sampah bukan hanya soal nilai ekonomi. Aktivitas tersebut juga dipandang sebagai upaya menjaga lingkungan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Yang menjadikan kita semangat adalah BCA kita, Bank Cicilan Akhirat. Dari sampah menjadi berkah,” kata Nunuk.

Konsistensi selama lebih dari satu dekade membawa Bank Sampah Berseri meraih sejumlah capaian. Bank sampah tersebut pernah meraih predikat juara tingkat pratama se-Jawa Timur.

Bank Sampah Berseri juga pernah bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Heriot-Watt University di Inggris selama dua tahun.

Dukungan juga datang melalui sejumlah program pemerintah. Di antaranya pelatihan pembuatan komposter, eco enzyme, tote bag, dan serabu. Pengurus juga pernah menerima insentif pembinaan daerah setahun sekali selama sekitar empat tahun serta mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan.

Warga Sudah Terbiasa Memilah Sampah dari Rumah

Kebiasaan memilah sampah kini mulai menjadi bagian dari keseharian warga. Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya sebelum disetorkan ke bank sampah.

Untuk sampah anorganik, sebagian kemudian dijual kepada pengepul. Langkah tersebut dilakukan agar sampah tidak menumpuk, mengingat lokasi Bank Sampah Berseri juga digunakan untuk berbagai kegiatan lainnya.

Harga sampah mengikuti kondisi pasar dan harga yang ditetapkan pengepul. Untuk botol plastik, misalnya, nilainya sekitar Rp2.500 per kilogram. Dari jumlah tersebut, Rp2.300 diberikan kepada nasabah, sedangkan Rp200 menjadi bagian bank sampah.

Menurut Nunuk, kesadaran warga dalam memilah sampah kini sudah cukup terbentuk. Bahkan, kebiasaan tersebut mulai dipahami anak-anak.

“Warga di sini kesadarannya sudah tinggi. Anak-anak juga sudah paham. Jadi warga tidak harus diingatkan,” ujarnya.

Ingin Kembangkan Ecoprint hingga Pasar Luar Daerah

Meski telah berjalan selama 11 tahun, Bank Sampah Berseri masih menghadapi sejumlah kebutuhan. Pengurus, antara lain, membutuhkan perbaikan timbangan dan mesin pencacah yang mengalami kerusakan.

Ke depan, mereka juga ingin mengembangkan produk ecoprint agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk di luar daerah hingga luar negeri.

Perjalanan Bank Sampah Berseri menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di tingkat lingkungan tidak berhenti pada aktivitas memilah dan menjual sampah. Dari kegiatan tersebut, warga juga mengembangkan produk kreatif, membangun kebiasaan memilah dari rumah, serta menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

Bagi anggota Bank Sampah Berseri, sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Dengan pengelolaan dan kreativitas, barang yang sebelumnya dianggap tak bernilai dapat kembali dimanfaatkan dan memberi manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat.

 

jurnalis : Anisa Fadila