Ide Baik Tak Pernah Padam di Ruang Rapat, Kota Kediri Bagikan Inovasi SIM PKK

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Gagasan baik tak seharusnya berhenti di satu meja, apalagi terkunci di satu daerah. Semangat tak pernah padam ditunjukkan Kota Kediri, melahirkan sebuah inovasi administrasi kader diperkenalkan dalam Forum Perempuan se-Bakorwil I Madiun sebagai upaya membawa kerja organisasi perempuan ke arah yang lebih praktis dan terintegrasi.

Pertemuan bertajuk Sinergi Perempuan itu berlangsung di Ruang Joyoboyo, Balai Kota Kediri, Senin (10/8). Forum tersebut mempertemukan organisasi perempuan dari 10 kabupaten/kota di wilayah Bakorwil I Madiun.

Mereka terdiri atas Tim Penggerak PKK, Dharma Wanita Persatuan (DWP), Perwosi, dan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) dari Kabupaten Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Pacitan, Kediri, serta Kota Madiun dan Kota Kediri.

Pertemuan rutin itu tidak hanya menjadi ruang silaturahmi. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi arena untuk saling bertukar pengalaman, membandingkan program, sekaligus menemukan cara baru dalam menjawab persoalan di masing-masing daerah.

Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin, menilai forum lintas daerah seperti ini memiliki nilai strategis. Menurut dia, setiap wilayah memiliki karakter, kultur, dan tantangan yang berbeda sehingga pendekatan dalam menjalankan program pun tidak selalu bisa diseragamkan.

“Ini sangatlah strategis. Kita bisa saling studi banding dan studi kasus satu sama lain, baik dari Tim Penggerak PKK, Dekranasda, dan lain-lain,” kata Arumi.

Perbedaan tersebut, kata Arumi, justru dapat menjadi sumber kekuatan. Keberhasilan sebuah program di satu daerah dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Sebaliknya, persoalan yang muncul di suatu daerah bisa menjadi pelajaran agar tidak terulang di tempat lain.

Dengan pola seperti itu, forum perempuan tidak sekadar menjadi tempat bertemu, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan gagasan dari pengalaman nyata di lapangan.

Pertemuan yang digelar secara bergiliran di kabupaten/kota se-Bakorwil I Madiun turut membuka kesempatan bagi setiap daerah untuk menunjukkan program unggulan dan inovasinya secara langsung.

Koordinator Bakorwil juga memiliki peran penting dalam menjaga aliran komunikasi antara daerah dan TP PKK Provinsi Jawa Timur. Berbagai persoalan, laporan, serta capaian dari kabupaten/kota dapat disampaikan melalui koordinator tersebut untuk kemudian menjadi bahan koordinasi di tingkat provinsi.

Plt Koordinator TP PKK Bakorwil I Madiun, Ny. Fitri Heru Wahono Santoso, mengatakan kebersamaan antara TP PKK, DWP, Perwosi, dan GOW selama ini menjadi salah satu modal dalam mendukung program pembangunan.

Sinergi itu menyentuh berbagai bidang, mulai dari pemberdayaan perempuan, pembinaan keluarga, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pendidikan, hingga pengembangan prestasi olahraga perempuan.

Karena itu, komunikasi dan koordinasi lintas organisasi dinilai perlu terus dirawat agar berbagai program tidak berjalan sendiri-sendiri dan manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Dari Administrasi hingga Digitalisasi

Ketika Kota Kediri mendapat kesempatan menjadi tuan rumah, forum tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperkenalkan sejumlah inovasi lokal.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan pertemuan semacam ini seharusnya tidak berakhir ketika para peserta meninggalkan lokasi. Menurut dia, nilai utama forum justru terletak pada gagasan yang dapat dibawa pulang dan diterapkan di daerah masing-masing.

“Ini akan berdampak dan bisa dirasakan jauh lebih lama ketika ide-ide baik yang lahir dari kegiatan ini diwujudkan di daerah masing-masing,” kata Vinanda.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan Kota Kediri adalah Sistem Informasi Manajemen (SIM) PKK.

Sistem tersebut dikembangkan untuk membantu kader mengelola administrasi dan pelaporan agar prosesnya lebih mudah, cepat, serta terintegrasi.

Bagi organisasi yang aktivitasnya bersentuhan langsung dengan masyarakat, administrasi dan pelaporan merupakan bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan program. Karena itu, digitalisasi diharapkan dapat membantu kader mengelola pekerjaan tersebut dengan lebih praktis.

Ketua TP PKK Kota Kediri, Hj. Faiqah Azizah Muhammad Qowimuddin, mengatakan SIM PKK diperkenalkan sebagai bagian dari upaya menyederhanakan proses administrasi kader.

“Kami meluncurkan SIM PKK sebagai upaya agar administrasi PKK semakin mudah, cepat, dan terintegrasi,” jelasnya.

Selain sistem digital tersebut, TP PKK Kota Kediri juga memperkenalkan Buku Saku Krama Kirana. Buku itu disiapkan sebagai bekal bagi kader ketika menjalankan berbagai kegiatan di lapangan.

Faiqah berharap buku tersebut dapat menjadi panduan praktis sekaligus teman bagi kader dalam menjalankan tugasnya.

Peluncuran SIM PKK ditandai dengan penyerahan bibit cabai dan Buku Saku Krama Kirana. Rangkaian acara juga diisi dengan pengukuhan pengurus Dekranasda Kota Kediri periode 2025–2030 serta penampilan paduan suara DWP Dinas Pendidikan.

Ketika Pertukaran Gagasan Berlanjut ke UMKM

Pertukaran pengalaman tidak berhenti di dalam ruangan. Para peserta kemudian diajak melihat langsung potensi ekonomi lokal yang berkembang di Kota Kediri.

Sejumlah UMKM unggulan menjadi bagian dari kunjungan tersebut. Produk yang diperkenalkan beragam, mulai dari sarung, pecel, tumpang instan, kerupuk, kain tenun, hingga batik.

Kunjungan itu menjadi gambaran bahwa pemberdayaan perempuan dan pembangunan daerah tidak hanya berbicara mengenai program organisasi, tetapi juga berkaitan dengan potensi ekonomi yang tumbuh di tengah masyarakat.

Forum Sinergi Perempuan akhirnya menjadi semacam jembatan: mempertemukan pengalaman, memperkenalkan inovasi, dan membuka kemungkinan lahirnya program baru di daerah lain.

Dengan mekanisme pertemuan yang berlangsung bergiliran, setiap kabupaten/kota memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi praktik baik sekaligus belajar dari pengalaman wilayah lain.

Sebab, sebuah inovasi tidak selalu harus lahir dari tempat yang sama. Kadang, ia tumbuh ketika satu daerah bersedia membuka pintu, memperlihatkan apa yang telah dikerjakan, lalu membiarkan daerah lain mengambil pelajaran untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakatnya.

Di Kediri, gagasan itu diwujudkan melalui pertemuan, pertukaran pengalaman, digitalisasi administrasi, hingga pengenalan potensi UMKM. Harapannya, ketika rombongan kembali ke daerah masing-masing, tidak hanya kenangan yang dibawa pulang, tetapi juga ide-ide yang dapat tumbuh menjadi perubahan nyata.

Jurnalis: Anisa Fadila