KEDIRI – Aroma manis gulali, warna-warni permen lawas, hingga deretan mainan yang akrab dengan masa kecil seolah membuka kembali pintu kenangan. Di tengah riuh Pesta Rakyat, produk-produk tempo dulu itu kembali menemukan tempatnya.
Adalah Cemal-Cemil, usaha yang membawa aneka jajanan, mainan, dan pernak-pernik jadul, yang turut meramaikan gelaran tersebut. Bagi pengunjung, lapak itu bukan sekadar tempat membeli makanan atau mainan, melainkan ruang kecil untuk kembali menyentuh kenangan masa lalu.
Pemilik Cemal-Cemil wilayah Jawa Timur, Eko Wiyono, mengatakan usaha tersebut mulai dirintis pada 2010 dengan pusat di Jakarta. Seiring waktu, jangkauannya meluas ke berbagai daerah, mulai dari Bandung, Surabaya, Malang hingga sejumlah wilayah di Jawa Timur.
Menurut Eko, keikutsertaan dalam event keramaian seperti Pesta Rakyat menjadi salah satu strategi pemasaran yang cukup menjanjikan. Tingginya jumlah pengunjung membuat peluang produk terjual semakin besar.
“Acara seperti ini sangat berpengaruh karena potensi terjualnya tinggi, apalagi pengunjungnya ramai. Di samping itu, penjual makanan tradisional seperti ini juga masih jarang, sehingga kompetitornya bisa dibilang minim,” ujar Eko.
Cemal-Cemil tidak hanya mengandalkan event untuk menjangkau konsumen. Usaha tersebut juga memperluas pemasaran melalui kerja sama dengan sejumlah hotel dan tempat makan di Kota Batu, di antaranya Singhasari Resort dan Cafe Sontoloyo.
Konsep yang dibawa tetap sama: menghadirkan kembali jajanan, permainan, serta berbagai pernak-pernik yang pernah menjadi bagian dari keseharian masyarakat pada masa lalu.
Bukan Sekadar Jajanan, Ada Cerita di Baliknya
Produk yang ditawarkan Cemal-Cemil cukup beragam. Pengunjung dapat menemukan jajanan jadul, permen, ciki, gulali, rambut nenek, hingga beragam mainan tradisional.
Tak berhenti pada makanan dan permainan, lapak tersebut juga menawarkan peralatan berbahan enamel seperti piring dan cangkir yang memiliki karakter khas tempo dulu.
Bagi sebagian orang, produk-produk tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi mereka yang pernah tumbuh bersamanya, jajanan dan mainan itu membawa cerita yang jauh lebih panjang.
Satu bungkus jajanan bisa mengingatkan pada masa sekolah. Sebuah mainan sederhana dapat membawa ingatan pada sore hari ketika anak-anak bermain tanpa layar di tangan.
Eko menilai nilai itulah yang membuat produk jadul tetap memiliki pasar hingga sekarang.
Menurutnya, keberadaan jajanan tradisional bukan semata-mata tentang menjual makanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan budaya.
“Sebenarnya jajanan tradisional ini kan kita melestarikan budaya. Banyak juga edukasinya, seperti mainan-mainan jadul supaya anak-anak tidak terlalu sering bermain HP,” jelasnya.
Di tengah kebiasaan anak-anak yang semakin lekat dengan perangkat digital, mainan tradisional dinilai dapat menjadi alternatif aktivitas yang memperkenalkan kembali permainan dari generasi sebelumnya.
Barang Tak Selalu Mudah Dicari
Di balik warna-warni produk yang tertata di lapak, terdapat tantangan yang tidak sederhana. Eko mengatakan salah satu kendala utama dalam menjalankan usaha tersebut adalah ketersediaan barang.
Sejumlah produk dibuat secara terbatas oleh perajin. Kondisi itu membuat proses pengadaan tidak selalu bisa dilakukan secara cepat.
Cemal-Cemil pun mengambil produk dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Solo, Blitar, Surabaya, dan Malang. Setiap daerah memiliki perajin dengan produk dan proses produksi yang berbeda.
Akibatnya, pemenuhan stok terkadang membutuhkan waktu cukup panjang.
“Barang-barang seperti ini tidak sekali beli langsung ada. Kadang harus menunggu lama sampai ready. Jadi kami harus pesan, sabar menunggu, dan sering mengecek barang,” kata Eko.
Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi usaha yang mengandalkan produk-produk tradisional. Ketika permintaan meningkat, stok tidak selalu dapat langsung ditambah seperti produk pabrikan yang diproduksi dalam jumlah besar.
Namun, keterbatasan itu justru menjadi bagian dari karakter produk jadul yang mereka tawarkan.
Nostalgia yang Berbuah Jutaan Rupiah
Di balik cerita tentang pelestarian budaya, bisnis jajanan jadul ternyata juga memiliki potensi ekonomi yang cukup menarik.
Eko menyebut omzet Cemal-Cemil ketika mengikuti event seperti Pesta Rakyat dapat mencapai sekitar Rp4 juta hingga Rp6 juta per hari, terutama saat jumlah pengunjung sedang tinggi.
Angka tersebut menunjukkan bahwa nostalgia bukan hanya mampu menarik perhatian, tetapi juga dapat menjadi peluang usaha ketika dikemas dengan tepat.
Bagi Cemal-Cemil, keramaian event menjadi ruang untuk mempertemukan produk-produk masa lalu dengan konsumen dari berbagai generasi.
Anak-anak dapat mengenal jajanan dan permainan yang mungkin belum pernah mereka temui. Sementara orang dewasa memperoleh kesempatan untuk kembali mencicipi rasa yang pernah menemani masa kecil.
Di titik itulah nostalgia bertemu dengan peluang ekonomi.
Berharap Lebih Banyak Ruang untuk UMKM
Eko berharap pemerintah semakin sering menghadirkan kegiatan yang memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan dan memasarkan produknya.
Menurut dia, event yang mengangkat unsur budaya memiliki manfaat ganda. Selain membantu menjaga keberadaan produk tradisional, kegiatan tersebut juga dapat membuka peluang pasar bagi pelaku usaha kecil.
“Harapannya, pemerintah sering mengadakan kegiatan yang potensial seperti ini. Selain untuk budaya, juga bisa membangun iklim yang lebih baik untuk UMKM dan memberikan tempat bagi kami untuk memasarkan produk,” pungkasnya.
Kehadiran Cemal-Cemil di Pesta Rakyat pada akhirnya membawa cerita yang lebih panjang dari sekadar transaksi jual beli.
Di antara gulali, permen, ciki, rambut nenek, mainan tradisional, hingga piring dan cangkir enamel, terselip upaya menjaga sesuatu yang perlahan bisa hilang ditelan zaman.
Jajanan jadul mungkin berasal dari masa lalu. Namun, ketika kembali dihadirkan di tengah keramaian, ia menemukan kehidupan baru: menjadi nostalgia bagi orang dewasa, pengetahuan bagi generasi muda, sekaligus peluang ekonomi bagi pelaku UMKM.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



