Harapan yang Nyaris Runtuh Kini Berdiri Kembali, Pemkot Kediri Rehabilitasi Rumah Korban Gempa

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di balik dinding yang retak dan tembok yang runtuh akibat gempa, tersimpan kecemasan panjang yang selama berbulan-bulan menghantui dua keluarga di Kota Kediri. Kini, secercah harapan mulai hadir. Rumah yang sebelumnya nyaris tak lagi layak dihuni perlahan akan kembali berdiri, menjadi tempat pulang yang aman bagi penghuninya.

Pemerintah Kota Kediri memulai rehabilitasi dua rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa melalui skema Belanja Tidak Terduga (BTT) pada Kamis (30/7). Program tersebut tidak hanya berfokus pada pemulihan hunian warga terdampak bencana, tetapi juga melibatkan semangat gotong royong masyarakat, anggota Pramuka, relawan, hingga kelompok swadaya masyarakat agar manfaat ekonomi turut dirasakan lingkungan sekitar.

Dua rumah yang direhabilitasi merupakan milik Rahmad Muslimin di Kelurahan Singonegaran dan Sukirin di Kelurahan Mrican. Rahmad menerima bantuan sebesar Rp58,5 juta, sedangkan Sukirin memperoleh Rp24 juta, dengan besaran bantuan yang disesuaikan berdasarkan tingkat kerusakan masing-masing rumah.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati turun langsung menyerahkan bantuan sekaligus meninjau lokasi rehabilitasi. Menurutnya, dana Belanja Tidak Terduga memang diperuntukkan bagi penanganan kerusakan akibat kondisi darurat atau force majeure, seperti gempa bumi, kebakaran, angin puting beliung, maupun banjir.

Dalam kegiatan tersebut, Vinanda didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kediri Endang Kartika Sari, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Anang Kurniawan, Wakil Ketua DPRD Kota Kediri Sudjono Teguh Widjaja, serta anggota DPRD Pujiono dari Fraksi Hanura Daerah Pemilihan Mojoroto.

“Kondisi rumah keduanya memang sudah sangat tidak layak sehingga perlu kami dukung. Kami hadir untuk meringankan beban mereka. Selain itu, keduanya juga termasuk masyarakat desil satu,” ujar Vinanda.

Ia berharap rehabilitasi tersebut tidak sekadar memperbaiki bangunan, tetapi juga menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi keluarga penerima manfaat. Menurutnya, rumah dengan kondisi rusak berat dan sanitasi yang buruk dapat berdampak langsung terhadap kesehatan penghuninya.

Semangat Gotong Royong

Vinanda juga menegaskan bahwa proses pembangunan akan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat sekitar. Rehabilitasi ditargetkan rampung dalam waktu sekitar tiga bulan.

“Kami juga menitipkan kepada para pengawas agar menjaga kualitas pembangunan. Jangan sampai bantuan pemerintah justru dikurangi sehingga menurunkan kualitas bangunan. Rumah ini harus benar-benar aman dan layak dihuni kembali,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkim Kota Kediri Anang Kurniawan menjelaskan bahwa bantuan BTT hanya dapat digunakan untuk penanganan rumah yang mengalami kerusakan akibat bencana maupun kondisi darurat lainnya.

“Hari ini penyaluran dilakukan secara simbolis di Singonegaran dan Mrican. Besaran bantuan setiap rumah berbeda-beda, tergantung tingkat kerusakan dan luas bangunannya,” katanya.

Anang mengungkapkan, saat ini terdapat empat lokasi yang tengah diproses melalui skema BTT, yakni di Kelurahan Singonegaran, Mrican, Burengan, dan Banaran. Tiga rumah mengalami kerusakan akibat gempa bumi, sedangkan satu rumah terdampak kebakaran. Selain itu, usulan rehabilitasi rumah yang rusak akibat angin puting beliung di Kaliombo, Manisrenggo, dan Ngronggo juga sedang dalam proses.

Menurut pria yang akrab disapa Abah Alle itu, bantuan disalurkan dalam bentuk uang kepada penerima manfaat. Selanjutnya, warga membentuk kelompok swadaya masyarakat untuk melaksanakan pembangunan, dengan melibatkan tenaga kerja lokal dan membeli material bangunan dari toko-toko di sekitar lokasi.

“Tukang berasal dari masyarakat sekitar, sedangkan bahan bangunan dibeli dari toko-toko di sekitar lokasi sehingga manfaat ekonominya juga dirasakan oleh masyarakat setempat,” ujarnya.

Ia memastikan seluruh tahapan pembangunan akan mendapat pendampingan dari Dinas Perkim, mulai dari proses pengajuan, pelaksanaan hingga evaluasi. Sesuai arahan Wali Kota, kualitas bangunan menjadi prioritas utama agar rumah yang direhabilitasi benar-benar kokoh, aman, dan layak ditempati kembali.

Di balik dimulainya rehabilitasi itu, tersimpan kisah pilu Rahmad Muslimin. Selama beberapa bulan terakhir, ia bersama keluarga bertahan di rumah yang dipenuhi retakan. Kondisinya semakin parah setelah gempa mengguncang wilayah tersebut sekitar dua bulan lalu hingga membuat salah satu dinding rumah roboh.

“Alhamdulillah, saya senang mendapat bantuan. Rumah ini memang sudah retak-retak, kemudian setelah gempa kerusakannya jadi semakin parah,” tutur Rahmad.

Ia masih mengingat jelas malam ketika tembok rumahnya ambruk. Peristiwa itu terjadi saat tengah malam. Beruntung, tidak ada anggota keluarga yang berada di area yang runtuh sehingga musibah tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Rehabilitasi rumah diawali dengan gotong royong anggota Pramuka, relawan, dan warga sekitar yang membantu memindahkan perabot rumah sebelum proses pembongkaran dilakukan. Dari kebersamaan itulah, harapan baru mulai dibangun—mengembalikan rasa aman yang sempat hilang akibat bencana.

jurnalis : Anisa Fadila