Bertamu Tanpa Janji, di Belanda Bisa Berakhir di Depan Pintu

✓ Link berhasil disalin
Lisse, Nederland-Di Indonesia, datang bertamu tanpa memberi kabar terlebih dahulu mungkin masih dianggap sebagai hal yang biasa. Mengetuk pintu rumah saudara, teman, atau kenalan dan berharap seseorang membukakan pintu bukan sesuatu yang terlalu aneh.
Di Belanda, ceritanya bisa berbeda.
Penulis: Sita Aulliya
Jangan heran jika suatu hari Anda datang ke rumah seseorang tanpa membuat janji, menekan bel, tetapi tidak ada yang membukakan pintu. Bukan berarti penghuni rumah sedang marah, tidak ramah, atau sengaja mengabaikan Anda. Bisa jadi mereka memang tidak merasa berkewajiban membuka pintu untuk seseorang yang kedatangannya tidak mereka ketahui sebelumnya.
Bagi masyarakat Belanda, membuat janji sebelum bertamu merupakan bagian dari cara menghargai waktu, privasi, dan kenyamanan masing-masing.
Belanda merupakan negara kecil dengan tata ruang yang sangat teratur. Dengan jumlah penduduk sekitar 18 juta jiwa, ruang menjadi sesuatu yang harus dikelola secara efisien. Mulai dari perumahan, transportasi, pertanian, hingga sistem pengairan. Apalagi sebagian wilayah negara ini berada di bawah permukaan laut.
Keteraturan itu tidak hanya terlihat dalam tata kelola negara, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Belanda umumnya dikenal praktis, disiplin, toleran terhadap perbedaan, sekaligus memiliki penghargaan yang kuat terhadap ruang pribadi. Mereka terbiasa mengatur waktu dan kegiatan secara terencana. Dalam kehidupan sosial, kenyamanan pribadi tetap menjadi bagian penting selama tidak mengganggu kepentingan orang lain.
Cuaca juga ikut membentuk kebiasaan tersebut. Angin yang kencang, suhu yang dingin, serta musim yang berubah-ubah membuat aktivitas di luar rumah tidak selalu menjadi pilihan utama. Duduk santai di teras atau balkon lebih sering dilakukan ketika cuaca sedang bersahabat, terutama pada musim panas atau pertengahan musim semi.
Di sisi lain, kemajuan teknologi membuat rumah tidak lagi sekadar tempat untuk beristirahat.
Bagi sebagian masyarakat Belanda, rumah juga merupakan tempat bekerja. Sistem kerja jarak jauh atau “working from home” telah menjadi bagian dari kehidupan kerja modern. Pertemuan dilakukan secara daring, pekerjaan diselesaikan melalui komputer, dan berbagai urusan dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah.
Karena itu, ketenangan di dalam rumah menjadi sesuatu yang bernilai.
Di tengah mobilitas yang tinggi dan aktivitas yang padat, ruang pribadi yang terbatas justru menjadi tempat untuk beristirahat dan memulihkan diri. Gangguan dari luar, termasuk kedatangan tamu yang tidak direncanakan, bisa saja dianggap mengganggu kenyamanan tersebut.
Di sinilah persoalan bertamu menjadi menarik.
Tanpa membuat janji terlebih dahulu, seorang tamu memang “boleh saja” datang. Tetapi penghuni rumah juga “boleh saja” tidak membukakan pintu.
Hal ini tentu bukan aturan tertulis yang berlaku untuk setiap orang Belanda. Ada banyak faktor yang memengaruhi seseorang ketika memutuskan membuka atau tidak membuka pintu. Namun, penghargaan terhadap privasi dan kebiasaan membuat janji terlebih dahulu merupakan bagian yang cukup kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Belanda.
Bentuk hunian mereka juga ikut memengaruhi pengalaman tersebut.
Di Belanda terdapat berbagai jenis bangunan tempat tinggal. Pada apartemen bertingkat, misalnya, satu blok biasanya memiliki pintu utama yang digunakan bersama oleh para penghuni. Kotak surat dan nomor unit umumnya tersedia di bagian luar atau di area lobi. Sementara itu, rumah-rumah berderet yang banyak dijumpai di kawasan permukiman memiliki pintu masuk masing-masing, dengan nomor rumah dan kotak surat berada di bagian depan.
Bel rumah pun tidak otomatis berarti pintu akan terbuka.
Kamera keamanan, bel digital, atau sistem interkom mungkin membantu penghuni mengenali siapa yang datang. Namun, pada akhirnya keputusan untuk membuka pintu tetap berada di tangan penghuni rumah.
Terlebih jika orang yang datang tidak dikenal dan tidak ada janji sebelumnya.
Lalu bagaimana dengan kurir yang mengantarkan barang?
Tentu situasinya berbeda. Ketika seseorang berbelanja secara daring, ia sudah mengetahui bahwa akan ada barang yang dikirim ke rumah. Menunggu kedatangan kurir menjadi bagian dari tanggung jawab pembeli.
Jika sedang tidak berada di rumah, biasanya tersedia berbagai pilihan untuk mengatur pengirima. Misalnya menentukan tempat tertentu untuk meletakkan paket, memilih lokasi pengambilan, atau memberikan instruksi kepada perusahaan pengiriman sesuai sistem yang tersedia.
Semua itu menunjukkan satu hal, bahwa masyarakat Belanda terbiasa mengandalkan cara-cara yang praktis dan sistematis untuk mengatur aktivitas sehari-hari.
Bukan berarti mereka tidak suka menerima tamu.
Keramahan tetap ada. Toleransi terhadap perbedaan juga merupakan bagian penting dalam masyarakat Belanda. Namun, keramahan tidak selalu diwujudkan dalam bentuk membuka pintu kapan pun seseorang datang.
Ada batas yang cukup jelas antara ruang sosial dan ruang pribadi.
Bagi sebagian orang Indonesia, kebiasaan ini mungkin terasa dingin atau bahkan tidak biasa. Kita terbiasa dengan budaya bertamu yang lebih spontan. Kedatangan teman atau saudara tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dalam situasi tertentu bahkan dapat dianggap sebagai bagian dari keakraban.
Di Belanda, pola hubungan sosialnya bisa berbeda.
Membuat janji bukan semata-mata soal formalitas. Ada pesan yang lebih sederhana di baliknya: “saya menghargai waktu dan ruang pribadi Anda, sehingga saya memberi tahu terlebih dahulu sebelum datang.”
Begitu pula sebaliknya, ketika seseorang tidak membuka pintu karena tidak mengetahui akan ada tamu, hal itu tidak selalu harus dimaknai sebagai penolakan pribadi.
Jadi, jika suatu hari berkunjung ke Belanda, jangan langsung tersinggung ketika bel rumah sudah ditekan tetapi pintu tak kunjung terbuka.
Mungkin Anda hanya lupa satu hal sederhana: “buatlah janji terlebih dahulu.”
Di negeri yang terbiasa hidup dengan keteraturan, menghargai privasi dan kenyamanan orang lain ternyata juga merupakan bagian dari etika bertamu.