KEDIRI — Sampah tidak selamanya harus berakhir sebagai limbah. Di tangan masyarakat yang mampu mengelolanya, sisa aktivitas rumah tangga maupun perdagangan dapat kembali memiliki nilai ekonomi.
Gagasan tersebut diperkenalkan PSDKU Universitas Brawijaya (UB) Kediri melalui Green Market, bagian dari program Kampung Lingkar Kampus (KLK). Kegiatan ini digelar pada 19–20 September 2026 di kawasan Jalan Lingkar Kampus UB Kediri.
Puluhan stan mahasiswa KKN dan masyarakat hadir dalam kegiatan tersebut. Namun, Green Market tidak sekadar menjadi tempat transaksi jual beli. Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan aktivitas ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan lingkungan dalam satu rangkaian yang saling berkaitan.
Tema “Dari Sisa, Tumbuh Asa, dari Kampung Lahir Daya” menjadi gambaran gagasan yang dibawa. Produk, konsumen, bahan yang digunakan hingga limbah dari aktivitas perdagangan diarahkan untuk menjadi bagian dari ekosistem yang lebih berkelanjutan.
Direktur PSDKU UB Kediri, Prof. Dr. Ir. Sholeh Hadi Pramono, M.S., mengatakan Green Market dikembangkan sebagai pasar berbasis lingkungan.
Menurut dia, aktivitas perdagangan perlu memperhitungkan konsekuensi berupa limbah yang dihasilkan. Limbah tersebut diupayakan tidak berhenti sebagai sampah, tetapi dikelola kembali sehingga memiliki manfaat.
“Jadi bukan sekadar secara transaksi perdagangan saja, tetapi konsekuensi daripada transaksi perdagangan itu bisa saja menghasilkan limbah. Limbah-limbah itu akan dikelola dan menjadi suatu barang yang bermanfaat,” kata Sholeh saat dikonfirmasi, Minggu (20/9).
Konsep tersebut juga dikaitkan dengan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kampus.
UB telah memberikan 10 rombong kepada masyarakat. Fasilitas tersebut nantinya tidak hanya diberikan sebagai sarana berjualan, tetapi disertai pemetaan usaha, pembinaan, dan pendampingan.
Pelaku usaha juga akan diarahkan untuk mengelola bisnis secara lebih terukur. Mulai dari pemisahan modal, pencatatan pendapatan dan keuntungan hingga penghitungan biaya operasional.
Di sisi pemasaran, pelaku UMKM akan diarahkan memanfaatkan platform digital agar aktivitas usaha dapat berkembang mengikuti perubahan pola pemasaran.
Sementara dalam aspek lingkungan, Green Market diarahkan menuju konsep zero waste. UB juga memiliki laboratorium yang dapat mendukung pengujian nutrisi dan mutu produk yang dipasarkan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, Green Market tidak hanya melihat produk sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Rangkaian aktivitas dari bahan yang digunakan, produk, konsumen, bahan habis pakai hingga limbah ditempatkan dalam satu ekosistem.
Kampus dan Kampung Saling Terhubung
Gagasan ekonomi sirkuler tersebut menjadi bagian dari program Kampung Lingkar Kampus (KLK), yang menjadi ruang kolaborasi antara UB dan masyarakat sekitar.
Ketua Kampung Lingkar Kampus (KLK) UB, Dr. Mofit Jamroni, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari gagasan kampus berdampak sekaligus bentuk tanggung jawab institusi terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
“Program ini sebagai sabuk pengaman. Bagaimana institusi harus tetap mempunyai tanggung jawab, baik secara reputasi maupun tanggung jawab sosial,” kata Mofit.
Di Kediri, program KLK untuk sementara difokuskan di Kelurahan Mrican, khususnya RT 2 RW 3 yang berada di sekitar PSDKU UB Kediri.
Program tersebut memetakan berbagai potensi yang dimiliki masyarakat, mulai dari sumber daya manusia, UMKM, lingkungan, infrastruktur hingga kelembagaan sosial dan budaya.
Setiap fakultas di UB nantinya dapat mengambil peran sesuai bidang keilmuan dan kebutuhan masyarakat. KLK juga menjadi ruang hilirisasi KKN tematik, salah satunya dengan membawa produk hasil kegiatan mahasiswa ke Green Market agar dapat dikenal dan dimanfaatkan masyarakat.
Bank Sampah Jadi Bagian dari Ekosistem
Konsep mengubah sisa menjadi nilai juga telah berjalan di Bank Sampah Pringgodani, Kelurahan Mrican. Bank sampah yang berada di RW 3 tersebut telah beroperasi sekitar tiga hingga empat tahun dengan melibatkan warga dalam pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga.
Ketua Bank Sampah Pringgodani, Riyadi, mengatakan kehadiran kampus diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah melalui edukasi kepada masyarakat.
“Saya berharap peran dari kampus bukan berupa modal, tetapi edukasi. Karena menurut saya, edukasi lebih penting,” kata Riyadi.
Bank Sampah Pringgodani tidak hanya mengandalkan pemasukan dari penjualan sampah. Warga juga dapat menyedekahkan sampah untuk kemudian dikelola dan dimanfaatkan.
“Jadi, yang punya sampah, bisa di sedekahkan ke bank sampah,” ujar Riyadi.
Sampah yang masuk kemudian dipilah berdasarkan jenisnya. Sebagian diolah menjadi berbagai produk, seperti pot dan lampu. Sampah tertentu dijual ke Bank Sampah Induk Kota Kediri, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos untuk dimanfaatkan kembali oleh warga.
Saat ini, Bank Sampah Pringgodani memiliki sekitar 100 anggota. Rata-rata sampah yang masuk mencapai lima kilogram per hari.
Meski demikian, pengelolaan sampah berbasis masyarakat masih menghadapi tantangan, terutama dalam mengubah kebiasaan warga.
Edukasi dilakukan secara berulang melalui berbagai kegiatan masyarakat, termasuk arisan bapak-bapak, arisan ibu-ibu, dan arisan tingkat RW.
“Mengubah pola pikir itu tidak semudah membalik telapak tangan. Itu yang menurut saya menjadi tantangan cukup berat,” ujarnya.
Ingin Bangun Kampung Edukasi
Ke depan, Riyadi berharap kolaborasi dengan kampus dapat berkembang melalui pembentukan kampung edukasi di RW 3, khususnya RT 2.
Konsep tersebut tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah. Warga juga ingin mengembangkan peternakan, pertanian, dan perkebunan skala kecil yang terintegrasi melalui konsep integrated farming.
Rencana itu sejalan dengan arah KLK yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pengetahuan sekaligus mengembangkan potensi masyarakat secara berkelanjutan.
Di Mrican, pendekatan serupa juga dikembangkan melalui Mrican Agropolis Incubator, yang menjadi ruang inkubasi bagi masyarakat yang menjalankan aktivitas agrokompleks.
Melalui berbagai program tersebut, KLK diharapkan dapat semakin mendekatkan kampus dengan masyarakat. Potensi lingkungan, UMKM, pengelolaan sampah, serta aktivitas agrokompleks warga diharapkan dapat berkembang dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Jurnalis: Anisa Fadila



