KEDIRI – Malam di halaman Gereja Katolik Stasi Santa Maria, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, terasa lebih hidup. Denting gamelan mengalun di antara kerumunan warga, sementara layar putih dan panggung wayang menjadi magnet yang membuat ratusan pasang mata bertahan hingga larut malam.
Wayang kulit digelar sebagai puncak peringatan HUT ke-90 Stasi Santa Maria Puhsarang. Ki Dalang Cahyo Kuntadi dari Surakarta tampil membawakan lakon Amarta Binangun, menghadirkan seni tradisi Jawa di tengah ruang yang malam itu terbuka bagi siapa saja.
Ratusan warga dari berbagai usia memadati lokasi. Anak-anak datang bersama orang tua, sementara sebagian lainnya membawa serta anak dan cucu. Kursi yang tersedia tak cukup menampung seluruh penonton. Sejumlah warga pun memilih duduk di area sekitar panggung demi menyaksikan pertunjukan.
Suasana kian semarak dengan kehadiran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang turut membuka lapak di sekitar lokasi.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Stasi Gereja Santa Maria Puhsarang, Yohanes Sucipto, mengatakan pertunjukan wayang kulit menjadi penutup sekaligus puncak rangkaian peringatan HUT ke-90 Stasi Santa Maria.
Bagi warga Puhsarang, pertunjukan malam itu juga memiliki arti tersendiri. Sebab, wayang kulit terakhir kali digelar di Stasi Puhsarang sekitar 15 tahun lalu, tepatnya saat perayaan HUT ke-75.
“Tujuannya, wayang kulit ini merupakan pertunjukan yang sarat dengan makna dan nilai-nilai luhur, terutama nilai luhur budaya Jawa,” ujar Sucipto.
Namun, malam itu wayang kulit tidak berhenti sebagai sebuah tontonan. Pertunjukan tersebut dibuka gratis untuk umum, tanpa memandang latar belakang agama maupun kelompok masyarakat.
Keterbukaan itulah yang membuat Emerintiana Juwarti (57), warga Puhsarang, datang bersama anak dan cucunya. Baginya, pertunjukan tersebut menjadi kesempatan bagi warga untuk duduk bersama, menikmati kesenian tradisional, sekaligus merawat rasa persaudaraan.
“Saya rasa kegiatan seperti ini bagus karena terbuka untuk umum, bukan hanya untuk umat gereja. Semua agama boleh datang dan menikmati bersama. Jadi bisa mempererat persatuan dan membuat kita semua merasa sebagai saudara,” katanya.
Malam semakin larut. Namun, halaman gereja belum benar-benar kehilangan riuhnya. Alunan gamelan terus mengiringi kisah yang dimainkan di balik kelir, sementara warga tetap menikmati pertunjukan dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Di Puhsarang malam itu, wayang kulit seolah menemukan panggung yang lebih luas dari sekadar pertunjukan. Ia menjadi ruang perjumpaan—tempat warga dari berbagai usia dan latar belakang duduk berdampingan, menikmati warisan budaya Jawa, dan merayakan kebersamaan.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



