Seni Tradisional Jaranan Menggema di Gereja Puhsarang, Anak-anak Jadi Penjaga Warisan Budaya

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Hentakan musik jaranan memecah suasana halaman Gereja Santa Maria Puhsarang Kecamatan Semen, Minggu (23/8). Di antara riuh tepuk tangan penonton, para penari cilik bergerak lincah membawa satu pesan sederhana: tradisi akan tetap hidup selama ada generasi yang mau mengenal, mempelajari, dan mencintainya.

Sebanyak sembilan kelompok pelajar tingkat SD hingga SMP ambil bagian dalam Festival Jaranan Bocil yang digelar, sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-90 Stasi Santa Maria Puhsarang.

Festival tersebut mengusung tema “90 Tahun Berziarah dalam Iman Membangun Kehidupan Bersama”. Namun, perhelatan ini tidak berhenti pada kompetisi seni semata. Anak-anak justru ditempatkan sebagai bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan kesenian tradisional yang telah mengakar di tengah masyarakat.

Ketua Panitia Festival Jaranan Bocil sekaligus Ketua Stasi Santa Maria Puhsarang, Yohanes Sucipto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian gereja terhadap kebudayaan tradisional yang tumbuh dan dicintai masyarakat.

Menurut Sucipto, jaranan merupakan kesenian yang telah lama mendapat tempat di hati masyarakat. Karena itu, gereja ingin mengambil bagian dalam pengembangan kebudayaan tersebut.

“Karena jaranan ini merupakan kesenian yang sudah dicintai oleh masyarakat dan gereja punya kepedulian untuk ikut mengembangkan budaya tradisional itu. Gereja hadir di tengah masyarakat termasuk juga di dalam budaya,” ujar Sucipto.

Stasi Santa Maria Puhsarang berdiri pada 1936. Kendati demikian, proses pendiriannya telah dimulai sekitar dua tahun sebelumnya, yakni pada 1934.

Peringatan 90 tahun stasi tersebut dikemas melalui tiga kegiatan utama. Rangkaian perayaan dimulai dengan Pesta Umat pada 16 Agustus, ketika umat membuat 90 tumpeng sebagai ungkapan syukur.

Setelah itu, Festival Jaranan Bocil digelar pada 23 Agustus. Rangkaian perayaan kemudian ditutup dengan pentas wayang kulit pada 24 Agustus.

Pelibatan anak-anak dalam festival jaranan bukan tanpa alasan. Sucipto mengatakan, generasi muda perlu diberi ruang untuk berkenalan sekaligus tumbuh bersama kesenian tradisional.

Selain sembilan kelompok pelajar yang berlaga, festival juga dimeriahkan penampilan bintang tamu dari Stasi Kalibago.

Menariknya, penghargaan tidak hanya diberikan kepada tiga peserta terbaik. Juara pertama mendapatkan hadiah Rp2 juta, juara kedua Rp1,5 juta, sedangkan juara ketiga memperoleh Rp1 juta.

Sementara peserta yang belum meraih posisi tiga besar tetap mendapatkan penghargaan sebagai juara harapan dengan hadiah Rp300 ribu untuk setiap komunitas.

Bagi Sucipto, perayaan 90 tahun Stasi Santa Maria Puhsarang juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan gereja dengan masyarakat melalui kebudayaan.

“Harapannya, di usia 90 tahun ini gereja kita semakin memasyarakat, kita tidak merasa tersekat dengan masyarakat, karena dengan adanya kegiatan ini kita bisa mendatangkan orang dari segala penjuru,” katanya.

Semangat menjaga tradisi itu terlihat dari salah satu peserta, Jaranan Bocil Sidorejo. Kelompok tersebut membawakan konsep tari Senterewe dan mempersiapkan penampilan selama kurang lebih tiga minggu, meski latihan sempat terhenti karena masa libur.

Pelatih Jaranan Bocil Sidorejo, Albertus Bima, bukan kali pertama mendampingi anak-anak tersebut. Ia sebelumnya juga pernah melatih mereka ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Pilihan membawakan Senterewe menjadi bagian dari upayanya menurunkan pengetahuan dan pengalaman berkesenian kepada generasi yang lebih muda.

“Saya ingin mewariskan ilmu yang saya punya kepada anak-anak di usia muda,” ujar Albertus.

Ia menjelaskan, Senterewe yang dibawakan kelompoknya berasal dari kesenian Tulungagung dan telah berkembang sebelum jaranan Jawa.

Bagi Albertus, keterlibatan anak-anak dalam festival bukan sekadar kesempatan tampil di atas panggung. Lebih dari itu, keberadaan mereka menjadi bagian dari mata rantai regenerasi agar kesenian tradisional tidak berhenti pada satu generasi.

Salah seorang peserta, Ayu Ernawati, mengaku senang bisa tampil dalam festival tersebut. Ia sempat merasakan gugup sebelum tampil, tetapi perasaan itu tidak menghalanginya untuk menuntaskan pertunjukan.

Ayu mengatakan gerakan yang dibawakan telah dikuasai dengan baik sehingga tidak ada bagian yang dirasakannya terlalu sulit ketika tampil.

Bagi warga yang menyaksikan, penampilan para penari cilik juga menghadirkan kebanggaan tersendiri. Kamsuri, warga Puhsarang, datang untuk menyaksikan festival sekaligus memberikan dukungan kepada anak-anak yang tampil.

“Sebagai orang tua, tentu kita harus memberikan dukungan kepada anak-anak yang mau belajar dan tampil membawakan kesenian jaranan,” ujar Kamsuri.

Ia menilai kegiatan semacam itu penting untuk memastikan jaranan tetap dikenal dan dicintai generasi muda. Ia berharap kesenian tradisional di wilayah Kediri terus tumbuh dan berkembang.

Di halaman Stasi Santa Maria Puhsarang, Minggu itu, jaranan bukan hanya hadir sebagai tontonan. Ia menjadi perjumpaan antara tradisi, anak-anak, masyarakat, dan ruang kebersamaan.

Dari langkah-langkah kecil para penari cilik, terlihat bahwa pelestarian budaya tak selalu membutuhkan panggung megah. Kadang, ia cukup dimulai dari ruang sederhana yang memberi anak-anak kesempatan untuk belajar, tampil, dan jatuh hati pada kesenian daerah.

Sebab ketika generasi muda masih mau menari, memainkan musik, dan mengenal akar budayanya, di sanalah sebuah tradisi menemukan jalan untuk terus hidup.

 

Jurnalis: Navima Aulya Sava