KEDIRI – Suara riuh anak-anak pecah di antara lantunan shalawat. Di halaman dan tengah jamaah Masjid Wakaf Jamsaren, Kota Kediri, koin serta lembaran uang kertas beterbangan, disambut tangan-tangan kecil yang sigap berebut rezeki.
Pemandangan itu kembali hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Senin (24/8). Bagi masyarakat setempat, tradisi lempar uang tersebut bukan sekadar kemeriahan tahunan. Di balik riuhnya, tersimpan upaya merawat warisan leluhur sekaligus mengenalkan masjid dan kecintaan kepada Nabi kepada generasi muda.
Anak-anak hingga orang dewasa larut dalam suasana. Sebagian berusaha mendapatkan koin yang jatuh di antara kerumunan, sementara warga lainnya membagikan jajanan untuk menambah kegembiraan anak-anak yang datang.
Penasehat kegiatan Masjid Wakaf Jamsaren, H. M. Mahrus Mahali, mengatakan tradisi lempar koin telah diwariskan dari generasi ke generasi. Ia bahkan mengaku sudah menyaksikan tradisi itu sejak masih kanak-kanak.
“Tradisi ini sudah turun-temurun. Saya sejak kecil sudah melihat dan sampai sekarang masih dilaksanakan setiap tahun ketika Maulid Nabi,” kata Mahrus.
Rangkaian peringatan dimulai selepas salat Magrib. Jamaah mengikuti pembacaan Berjanji yang mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad SAW, mulai kelahiran hingga keturunannya.
Selepas salat Isya berjamaah, suasana dilanjutkan dengan lantunan shalawat. Bagi masyarakat, shalawat menjadi ungkapan syukur sekaligus wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Barulah setelah rangkaian tersebut selesai, tradisi penyebaran uang dimulai.
Beragam pecahan uang dibagikan kepada jamaah, mulai dari uang koin hingga lembaran kertas. Beberapa di antaranya bahkan mencapai Rp50 ribu dan Rp100 ribu.
Namun, bagi Mahrus, nilai uang bukanlah inti dari tradisi tersebut. Ada pesan keagamaan yang ingin terus diwariskan melalui kegiatan itu.
“Membaca shalawat itu merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Siapa yang mencintai Nabi dan memperbanyak shalawat, insyaallah mendapat syafaat dari junjungan Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Tradisi yang Disebut Berusia Lebih dari Seabad
Usianya tak lagi muda. Mahrus memperkirakan tradisi tersebut telah berlangsung sejak sekitar 1908, bersamaan dengan perkembangan Lirboyo.
Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa yang pertama kali memulai tradisi lempar uang tersebut dan bagaimana awal mula pelaksanaannya.
Yang jelas, tradisi itu terus bertahan hingga kini.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat memilih mempertahankannya bukan semata karena unsur kemeriahan. Kehadiran anak-anak dalam kegiatan Maulid juga dipandang sebagai cara untuk mendekatkan mereka dengan masjid.
“Ini juga menjadi bagian dari upaya agar anak-anak mengenal masjid. Sebab, masjid harus dihidupkan dan dimakmurkan,” tutur Mahrus.
Setiap tahun, Masjid Wakaf Jamsaren pun menjadi titik berkumpul warga dari berbagai kalangan. Peserta tidak hanya berasal dari jamaah masjid, tetapi juga masyarakat dari luar lingkungan Jamsaren.
Tradisi itu akhirnya menjadi ruang perjumpaan: antara anak-anak dan masjid, antara generasi sekarang dan warisan masa lalu, serta antara kemeriahan Maulid dan semangat berbagi.
Dari Sedekah Menjadi Kebahagiaan Anak-Anak
Sefi, salah satu jamaah yang turut membagikan uang dan jajanan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi warga untuk berbagi sekaligus memeriahkan peringatan Maulid Nabi.
Menurutnya, kebahagiaan anak-anak justru menjadi salah satu warna paling menonjol dalam tradisi tersebut.
“Senang melihat anak-anak mendapatkan jajan atau uang. Meskipun hanya Rp100, Rp200, atau Rp2.000, anak-anak itu sangat senang,” ujarnya.
Pembagian uang ketika Mahallul Qiyam, lanjut Sefi, menjadi salah satu momen yang paling ditunggu anak-anak.
Ada pandangan bahwa Mahallul Qiyam semestinya berlangsung khusyuk tanpa disertai pembagian uang. Namun, Sefi melihat tradisi tersebut dari sisi berbeda.
Baginya, kegiatan itu dapat menghadirkan kegembiraan bagi anak-anak sekaligus menjadi pintu awal untuk mengenalkan mereka pada kegiatan keagamaan di masjid.
Di sisi lain, uang dan jajanan yang dibagikan juga menjadi sarana bersedekah bagi warga. Harapannya sederhana: berbagi kebahagiaan, memanjatkan doa, dan memperoleh keberkahan dari kegiatan yang dilakukan bersama.
Uang Rp500 yang Membuat Anak-Anak Bahagia
Di tengah kerumunan, Jihan dan Amel, dua anak yang tinggal di sekitar masjid, menjadi bagian dari peserta yang setiap tahun menantikan tradisi tersebut.
Keduanya mengaku senang ketika berhasil mendapatkan uang, meski perjuangan untuk mendapatkannya tidak selalu mudah.
“Tadi sempat kejepit saat berebut uang, tetapi senang dan seru juga,” kata mereka.
Uang yang berhasil dikumpulkan keduanya antara lain pecahan Rp500 dan Rp2.000.
Nominal itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun bagi anak-anak, lembaran dan kepingan rupiah tersebut menghadirkan kegembiraan tersendiri.
Di situlah tradisi ini menemukan maknanya.
Bukan tentang seberapa besar uang yang diperoleh, melainkan tentang kebahagiaan yang lahir dari sebuah kebersamaan.
Setiap tahun, anak-anak datang, suara shalawat kembali terdengar, dan tangan-tangan kecil kembali bersiap menangkap koin yang ditebarkan.
Tradisi itu pun terus berjalan di tengah perubahan zaman.
Riuh anak-anak, lantunan shalawat, sedekah warga, dan kemeriahan Maulid berpadu menjadi satu. Dari Masjid Wakaf Jamsaren, sebuah warisan lama kembali menemukan cara untuk tetap hidup di tengah generasi baru.
Sebab bagi masyarakat setempat, menjaga tradisi bukan hanya tentang mempertahankan apa yang diwariskan masa lalu. Lebih dari itu, tradisi menjadi jalan untuk mengenalkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, mendekatkan anak-anak dengan masjid, dan merawat kehidupan sosial-keagamaan agar tetap tumbuh dari generasi ke generasi.
Jurnalis: Anisa Fadila



