Dari Kentongan hingga Gong Galon, Begini Cara Mbak Wali Merawat Budaya, Menghidupkan Semangat Kemerdekaan

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Bunyi musik tradisional menggema dari Lapangan Omah Sawah, Burengan, Kota Kediri, Senin (24/8/2026). Namun kali ini, musik patrol tak hanya hadir sebagai pengiring ronda malam. Di tangan para peserta, bunyi-bunyian tradisional menjelma menjadi panggung kreativitas yang membawa pesan tentang perjuangan dan semangat mengisi kemerdekaan.

Sebanyak 21 tim ambil bagian dalam Music Patrol Festival Omah Sawah 2026. Festival digagas Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati ini,  mengusung tema mengisi kemerdekaan dengan kreativitas generasi penerus bangsa dan terbuka untuk masyarakat umum, khususnya pelajar.

PIC Music Patrol Festival Omah Sawah 2026, Afief Rahman, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang bagi masyarakat untuk menyalurkan kreativitas. Peserta diberi kesempatan mengembangkan musik patrol menjadi pertunjukan yang lebih beragam, mulai dari penampilan kolosal hingga puisi.

“Untuk mengisi kemerdekaan itu sendiri dan ajang kreativitas sehingga tampil di panggung, menampilkan bisa kolosal, puisi, dan lain sebagainya sesuai kreativitas diiringi alat musik tradisional tanpa elektronik,” kata Afief.

Konsep itu membuat musik patrol tampil dengan wajah berbeda. Alat musik tradisional yang selama ini lekat dengan suasana malam dan ronda dikemas menjadi pertunjukan panggung yang memadukan musik, cerita, gerak, dan pesan kebangsaan.

Dalam festival tersebut, kreativitas, kesesuaian dengan ketentuan, serta inovasi menjadi bagian yang diperhitungkan dalam penilaian. Panitia juga menyiapkan hadiah uang pembinaan dan sertifikat bagi tiga peserta terbaik.

Afief berharap festival tersebut tidak berhenti pada penyelenggaraan tahun ini. Ia ingin Music Patrol Festival Omah Sawah kembali hadir tahun depan dengan konsep yang semakin matang dan antusiasme masyarakat yang lebih besar.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari Kelurahan Betet. Alih-alih sekadar memainkan musik patrol, kelompok tersebut membawa kisah perjuangan ke atas panggung melalui pertunjukan teatrikal selama sekitar lima menit.

Bendera Belanda, ornamen darah pada kostum, serta alunan musik tradisional menjadi bagian dari pertunjukan yang menggambarkan pengorbanan para pejuang dalam merebut kemerdekaan.

Mewakili Kelurahan Betet, Ketua RW 1 Purwito mengatakan tema teatrikal perjuangan dipilih untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu panggung.

“Kita ambil tema teatrikal perjuangan menyatukan berkolaborasi antara karang taruna, remaja masjid dan sesepuh,” ujar Purwito.

Pertunjukan tersebut melibatkan dua sesepuh, anggota Karang Taruna, remaja masjid, hingga peserta disabilitas. Mereka berkolaborasi membawa pesan bahwa semangat perjuangan tidak berhenti ketika Indonesia merdeka.

Bagi Purwito, generasi masa kini memiliki cara sendiri untuk meneruskan semangat para pejuang. Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui medan perang, kini perjuangan dapat diwujudkan melalui karya dan kegiatan yang memberi manfaat.

“Meskipun kita tidak ikut berjuang zaman dulu, tapi kita ikut merayakan atau mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang berguna,” ujarnya.

Pesan tersebut juga diterjemahkan melalui bunyi-bunyian yang mengiringi pertunjukan. Musik patrol dipadukan dengan kesenian jaranan, kenong, serta gong yang dibuat dari galon.

Persiapan penampilan Kelurahan Betet berlangsung sekitar satu pekan. Waktu yang relatif singkat itu disebabkan informasi mengenai perlombaan diterima dalam waktu yang cukup mendadak.

Keterbatasan waktu tak menyurutkan semangat mereka. Purwito berharap pertunjukan tersebut mampu mengingatkan penonton bahwa makna perjuangan tetap hidup dan dapat diwujudkan sesuai potensi setiap generasi.

“Para suporter atau penonton pada umumnya bisa menangkap makna bahwa perjuangan itu dulu dilakukan para pejuang kita sebelum tahun 45. Tapi sekarang di era milenial 2026 ini kita bisa berjuang dengan potensi atau bakat yang kita miliki,” pungkasnya.

Music Patrol Festival Omah Sawah 2026 pun menunjukkan bahwa kesenian tradisional tidak harus tinggal sebagai warisan masa lalu. Di tangan generasi hari ini, kentongan dan alat musik tradisional dapat berubah menjadi bahasa baru untuk bercerita—tentang kreativitas, kebersamaan, dan perjuangan yang terus menemukan bentuknya di setiap zaman.

Jurnalis: Anisa Fadila