Dicorat-coret Cat, Pedati Tua Mbah Gleyor di Kediri Kini Dibersihkan Tim Kebudayaan

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI — Warna hijau, putih, dan cokelat yang menempel di permukaan kayu tua Pedati Mbah Gleyor kini perlahan menjadi pekerjaan rumah bagi tim pelestarian. Coretan vandalisme yang sempat menodai benda bersejarah di Situs Mbah Gleyor, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, mulai ditangani secara serius.

Tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur turun langsung ke lokasi pada Rabu siang (12/8) untuk melakukan observasi sekaligus menguji metode pembersihan yang paling aman.

Penanganan tersebut tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Di balik lapisan cat yang tampak sederhana, terdapat permukaan kayu tua yang kondisinya sudah tidak sepenuhnya prima. Sebagian bagian pedati bahkan telah mengalami pelapukan.

Karena itu, menghapus cat tidak sekadar soal menghilangkan warna yang menempel. Setiap sapuan bahan pembersih harus diperhitungkan agar tidak ikut mengikis atau merusak bagian asli pedati.

Tim Kebudayaan Uji Metode Pembersihan

Konservator BPK Jawa Timur Ahmad Latif mengatakan, tahap awal penanganan dilakukan melalui survei dan uji coba pembersihan secara mekanis. Metode yang digunakan disesuaikan dengan kondisi masing-masing bagian pedati. Tim terlebih dahulu melihat karakter permukaan kayu sebelum menentukan bahan yang digunakan untuk mengangkat cat.

Menurut Latif, cat berwarna putih dapat dibersihkan menggunakan alkohol. Namun, prosesnya membutuhkan waktu cukup panjang karena pembersihan harus dilakukan secara perlahan. Sementara itu, cat hijau dan cokelat yang menempel di permukaan kayu telah diuji menggunakan etil asetat. Hasil uji coba menunjukkan bahan tersebut dapat membantu mengangkat cat, sebelum proses akhir dilanjutkan menggunakan alkohol.

Artinya, proses pemulihan Pedati Mbah Gleyor tidak dapat dilakukan dengan satu cara untuk seluruh bagian. Setiap permukaan harus diperlakukan sesuai kondisi dan tingkat kerusakannya.

Kayu Tua Membuat Proses Pembersihan Harus Ekstra Hati-hati

Permukaan kayu pedati yang sudah berusia tua menjadi tantangan tersendiri bagi tim konservasi. Pembersihan dilakukan secara hati-hati menggunakan bahan yang telah diuji. Permukaan pedati kemudian dibasahi dan dilap secara berkala untuk membantu mengurangi kelembapan selama proses penanganan.

Tahapan tersebut harus dilakukan dengan cermat. Kesalahan dalam memilih bahan atau teknik pembersihan berpotensi menimbulkan kerusakan baru pada benda yang justru sedang diselamatkan. Tim BPK Jawa Timur pun masih menghitung durasi pengerjaan untuk setiap bagian.

Satu roda pedati, misalnya, diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk dibersihkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan seluruh pedati tidak akan selesai dalam satu kali pengerjaan. Prosesnya harus dilakukan bertahap, bagian demi bagian, dengan tetap mempertahankan material asli yang masih tersisa.

Hasil Uji Coba Jadi Dasar Rekomendasi

Observasi dan uji coba yang dilakukan di Situs Mbah Gleyor akan dituangkan dalam laporan BPK Jawa Timur. Laporan tersebut nantinya menjadi dasar penyusunan rekomendasi penanganan. Di dalamnya akan mencakup jenis bahan yang diperlukan, jumlah bahan, teknik pembersihan, hingga perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan seluruh bagian pedati.

Dengan adanya rekomendasi tersebut, proses penanganan berikutnya diharapkan memiliki acuan teknis yang lebih jelas. Tindak lanjut pemulihan nantinya dilakukan Pemerintah Kabupaten Kediri melalui dinas terkait dengan pendampingan dari tim teknis BPK Jawa Timur.

Langkah tersebut penting agar proses membersihkan bekas vandalisme tidak justru mengorbankan keaslian benda bersejarah.

Tak Hanya Dibersihkan, Pedati Juga Harus Dijaga

Pemulihan fisik bukan satu-satunya pekerjaan yang dinilai penting setelah aksi vandalisme terjadi. Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4) Imam Mubarok mengatakan, kedatangan tim BPK Jawa Timur menjadi langkah penting untuk menyelamatkan peninggalan sejarah yang berada di Situs Mbah Gleyor.

Namun, setelah cat dibersihkan, persoalan lain tetap menanti: bagaimana memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi? Menurut Imam Mubarok, penguatan sistem keamanan menjadi salah satu kebutuhan mendesak. Pemasangan kamera pengawas atau CCTV dan papan informasi mengenai status situs dinilai perlu dilakukan.

Papan informasi diharapkan dapat memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa benda yang berada di lokasi bukan sekadar benda lama, melainkan bagian dari peninggalan yang memiliki nilai sejarah. Usulan pengamanan tersebut juga telah disampaikan kepada Bupati Kediri.

Statusnya Belum Cagar Budaya, tetapi Tetap Perlu Dilindungi

Gus Barok sapaan akrabnya menjelaskan, Situs Mbah Gleyor saat ini masih berstatus Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Artinya, situs tersebut belum ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya. Meski demikian, status tersebut tidak berarti peninggalan yang berada di dalamnya dapat dibiarkan tanpa perlindungan.

Bagi masyarakat Kandat, Situs Mbah Gleyor memiliki nilai sejarah yang kuat. Keberadaannya juga berkaitan dengan cerita tutur yang berkembang dari generasi ke generasi. Menurut cerita masyarakat setempat, situs tersebut memiliki kaitan dengan sejarah Bupati Adiningrat yang kemudian disebut mengalami fitnah hingga akhirnya diasingkan ke Manado.

Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang membuat keberadaan situs tetap memiliki arti penting.

Vandalisme Menjadi Pengingat Pentingnya Kesadaran Bersama

Peristiwa pencoretan pada Pedati Mbah Gleyor menjadi pengingat bahwa pelestarian peninggalan sejarah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Benda bersejarah yang berada di ruang publik memiliki tantangan berbeda dengan koleksi yang tersimpan di museum. Tidak semua peninggalan dapat dipindahkan ke tempat tertutup untuk menghindari kerusakan.

Karena itu, perlindungan membutuhkan keterlibatan masyarakat sekitar. Imam berharap masyarakat dan pemerintah desa ikut mengambil peran dalam menjaga keberadaan situs. Jika ditemukan tindakan yang berpotensi merusak benda atau kawasan bersejarah, masyarakat diminta segera berkoordinasi dengan pemerintah desa, dinas terkait, maupun pihak yang memiliki kewenangan dalam pelestarian.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan setelah lapisan cat vandalisme harus dihapus perlahan dari permukaan kayu tua Pedati Mbah Gleyor. Sebab, menghapus sebuah coretan mungkin membutuhkan waktu berjam-jam. Namun, mengembalikan benda bersejarah yang rusak ke kondisi semula belum tentu selalu mungkin.

Menjaga Jejak Sejarah Sebelum Terlambat

Pedati Mbah Gleyor kini berada dalam proses penanganan. Tim konservasi masih menghitung metode, kebutuhan bahan, serta waktu yang diperlukan untuk membersihkan seluruh bekas vandalisme. Proses yang berjalan perlahan tersebut justru menunjukkan betapa rapuhnya benda bersejarah ketika berhadapan dengan tindakan manusia.

Cat yang ditorehkan dalam waktu singkat dapat membutuhkan penanganan panjang untuk dihilangkan. Di sisi lain, setiap langkah pembersihan harus memastikan kayu asli tidak ikut rusak. Karena itu, upaya menyelamatkan Pedati Mbah Gleyor bukan hanya tentang mengembalikan warna kayu yang tertutup cat.

Lebih dari itu, proses tersebut merupakan ikhtiar menjaga sebuah jejak masa lalu agar tetap dapat dikenali oleh generasi berikutnya. Kini, setelah vandalisme meninggalkan bekas pada permukaan pedati, pekerjaan besar berikutnya adalah memastikan peninggalan tersebut tidak kembali menjadi sasaran.

Sebab, sejarah yang telah diwariskan tidak selalu bisa dibuat ulang ketika hilang.Yang bisa dilakukan adalah menjaganya—selagi masih ada yang dapat diselamatkan.

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan