KEDIRI — Hasil panen melimpah belum tentu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Di tengah potensi pertanian yang besar, Kabupaten Kediri kini berupaya mencari jalan agar komoditas unggulan daerah tidak berhenti sebagai bahan mentah yang dijual saat musim panen tiba.
Pemerintah Kabupaten Kediri membuka peluang kerja sama dengan Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk memperkuat pengelolaan pascapanen sekaligus meningkatkan nilai tambah produk pertanian.
Penjajakan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana bersama delegasi Departemen Teknologi Industri Pertanian UGM di lingkungan Pemkab Kediri, Selasa (11/8).
Pertemuan itu menjadi titik awal untuk memetakan berbagai peluang kolaborasi, mulai dari penerapan teknologi pascapanen, pengolahan komoditas menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi, hingga transfer teknologi kepada masyarakat.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kediri, persoalan pascapanen bukan sekadar urusan teknis. Di balik hasil bumi yang melimpah, masih ada pekerjaan rumah bagaimana komoditas tersebut dapat bertahan lebih lama, memiliki nilai jual lebih tinggi, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengatakan, sektor pertanian memiliki posisi penting bagi daerah. Sekitar 80 persen penduduk Kabupaten Kediri disebut memiliki latar belakang pekerjaan sebagai petani.
Karena itu, penguatan sektor pertanian menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah.
Namun, tantangan masih membentang. Salah satunya adalah manajemen industri pascapanen yang dinilai belum optimal. Meski kontribusi industri pengolahan hasil pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menunjukkan peningkatan, sebagian petani masih memilih menjual komoditas secara langsung ketika panen.
Kondisi tersebut membuat ruang untuk menciptakan nilai tambah masih terbuka lebar.
“Untuk menaikkan nilai tambah itu masih perlu kerja keras,” ujar Hanindhito.
Kabupaten Kediri sendiri memiliki sejumlah komoditas unggulan. Padi, jagung, nanas, cabai, hingga mangga podang menjadi bagian dari kekuatan pertanian daerah.
Namun, setiap komoditas memiliki persoalannya masing-masing.
Cabai, misalnya, kerap menghadapi gejolak harga ketika produksi melimpah. Sementara mangga podang memiliki karakter musiman sehingga pengelolaannya membutuhkan perhatian lebih agar potensinya dapat memberikan manfaat ekonomi secara optimal.
Di titik inilah teknologi pascapanen dan pengolahan hasil pertanian dinilai dapat menjadi salah satu jawaban.
Teknologi tidak hanya dibutuhkan untuk menjaga kualitas komoditas setelah dipanen, tetapi juga membuka peluang agar hasil pertanian dapat diolah menjadi produk baru dengan umur simpan lebih panjang dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pemkab Kediri juga tengah memetakan potensi unggulan daerah seiring dengan rencana Bandara Dhoho melayani embarkasi haji pada 2027.
Momentum tersebut dinilai membuka peluang lebih luas bagi daerah untuk menyiapkan dan memperkuat produk unggulan yang memiliki daya saing.
“Kami siap menjalin kerja sama dengan Departemen Teknologi Industri Pertanian,” kata Hanindhito.
UGM Siap Turun ke Lapangan
Peluang kerja sama tersebut mendapat respons positif dari pihak UGM.
Prof. Adi Djoko Guritno, salah satu perwakilan delegasi, menyampaikan bahwa kolaborasi dapat diwujudkan melalui berbagai skema. Salah satunya berupa pendampingan serta kegiatan pengabdian yang melibatkan mahasiswa dan dosen untuk terjun langsung ke lapangan.
Melalui pendekatan tersebut, pengetahuan dan teknologi yang dimiliki perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi dapat ditransfer kepada masyarakat dan pelaku pertanian di Kabupaten Kediri.
Menurutnya, saat ini telah tersedia berbagai teknologi yang memungkinkan bahan baku pertanian memiliki daya simpan lebih panjang. Selain itu, terdapat pula teknologi dan rekayasa tertentu yang dapat mendukung produksi komoditas di luar siklus musim normal.
Potensi tersebut menjadi salah satu bahan pembahasan untuk menentukan bidang kerja sama yang paling relevan dengan kebutuhan Kabupaten Kediri.
Namun, kerja sama tidak ingin berhenti pada pertemuan penjajakan.
UGM berharap pembicaraan tersebut dapat berkembang menjadi kesepakatan yang lebih konkret melalui perjanjian kerja sama. Dari sana, berbagai potensi dapat dipetakan dan diturunkan menjadi program yang benar-benar menyentuh kebutuhan petani.
“Ini menarik, kami berharap nanti kita bisa saling memahami dan mulai mengkristal di mana titik-titik kita bisa kerja sama,” ujar Prof. Adi Djoko.
Bagi Kediri, penguatan nilai tambah bukan hanya tentang mengubah hasil panen menjadi produk olahan. Lebih jauh, langkah tersebut menjadi upaya agar kerja keras petani di sawah tidak berhenti ketika komoditas berpindah tangan saat panen.
Padi, jagung, nanas, cabai hingga mangga podang menyimpan cerita ekonomi yang lebih panjang. Dengan teknologi, pendampingan, dan pengelolaan yang tepat, hasil bumi tersebut diharapkan tidak sekadar melimpah di musim panen, tetapi mampu tumbuh menjadi produk yang memiliki nilai lebih bagi masyarakat.
Kini, pintu kerja sama Kediri dan UGM telah dibuka. Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan itu bergerak dari meja pertemuan menuju lahan pertanian, tempat nilai tambah tersebut pada akhirnya diharapkan benar-benar dirasakan petani.



