KEDIRI — Di tengah sorotan publik terhadap pelaksanaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Yayasan Palmturi Mulia Jaya justru menjadikannya sebagai momentum untuk berbenah dan memperkuat layanan. Komitmen itu ditegaskan melalui kegiatan silaturahmi dan halal bihalal yang digelar di Auditorium SMAN 1 Kediri, Minggu (29/3).
Sekitar 300 relawan, pengurus, dan mitra hadir dalam kegiatan tersebut. Suasana hangat dan penuh kebersamaan tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang konsolidasi untuk menyatukan langkah dalam meningkatkan kualitas pelayanan sosial pasca-Ramadan.
Rangkaian acara diisi dengan sambutan perwakilan SPPG serta penampilan talenta binaan yayasan. Ketua Yayasan Palmturi Mulia Jaya, Wahab CB, menegaskan bahwa pertemuan ini memiliki makna strategis dalam menentukan arah gerak organisasi ke depan.
“Ini bukan sekadar silaturahmi, tapi bagian dari konsolidasi untuk memperkuat komitmen bersama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kesepakatan bersama antara relawan dan manajemen di setiap dapur menjadi fondasi utama dalam menjaga kualitas layanan. Yayasan, kata dia, tetap berpegang pada prinsip kebermanfaatan sosial, bukan semata orientasi keuntungan.
Sejumlah program sosial juga terus dikembangkan, mulai dari bantuan pendidikan hingga pembangunan fasilitas ibadah. Ke depan, yayasan merencanakan pengembangan tahap kedua Masjid Wakaf Palmturi Imam Wurdiy di Desa Joho, Kecamatan Wates, yang akan dilengkapi pusat pendidikan dan gedung pertemuan untuk masyarakat.
“Pengelolaan dapur bukan untuk mencari profit, tetapi bagaimana mendukung kegiatan sosial yang lebih luas,” tegasnya.
Di sisi lain, pelaksanaan program SPPG di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya selama Ramadan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah penyediaan menu kering yang dinilai belum sesuai ekspektasi penerima manfaat.
Diky Nugroho dari SPPG Palmturi Lirboyo 2 mengakui adanya kritik tersebut. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi keterbatasan bahan baku di tengah tingginya permintaan.
“Tantangan terbesar ada pada menu kering. Banyak masukan dari masyarakat karena dianggap belum sebanding dengan harga,” ungkapnya.
Sebagai respons, relawan melakukan berbagai penyesuaian, termasuk memproduksi sebagian menu secara mandiri guna menjaga kualitas sekaligus efisiensi biaya.
“Kami mulai membuat sendiri beberapa menu seperti bolu, agar tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan luar,” kata Arum Dwi Apriliani dari SPPG Palmturi Mawar Mojoroto 7.
Langkah tersebut turut diperkuat dengan pengelolaan gizi yang lebih terukur. Setiap menu disusun berdasarkan perhitungan yang melibatkan ahli gizi serta pelaku UMKM, guna memastikan keseimbangan nutrisi bagi penerima manfaat.
“Komposisi menu sudah dihitung secara detail, mulai dari kandungan gula, protein hingga kebutuhan gizi anak,” jelas Petrus Ferbrian dari SPPG Palmturi Melati Wonojoyo 2.
Selain itu, aspek transparansi juga menjadi perhatian utama. Informasi terkait menu, harga, dan kandungan gizi kini disampaikan secara terbuka melalui berbagai media untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.
“Kami menyediakan tabel rincian harga dan kandungan gizi di setiap menu agar masyarakat bisa melihat secara jelas,” ujar Rizky Yusril dari SPPG Palmturi Anggrek Joho 2.
Berbagai evaluasi dan penyesuaian tersebut menunjukkan bahwa program SPPG tidak hanya berfokus pada distribusi, tetapi juga terus berproses dalam memperbaiki sistem layanan. Penguatan internal, adaptasi teknis, hingga peningkatan komunikasi publik menjadi bagian dari strategi berkelanjutan.
Melalui langkah tersebut, Yayasan Palmturi Mulia Jaya optimistis program SPPG ke depan dapat berjalan lebih optimal dan memberikan dampak yang semakin luas bagi masyarakat.



