Di Balik Kesuksesan SMK Kartanegara Kediri, Ada Perjuangan dari Bengkel Sederhana hingga Kelas Industri

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Setiap sekolah memiliki cerita perjuangan. Namun, tidak semua mampu menjadikannya sebagai pijakan untuk tumbuh dan terus melahirkan generasi yang siap menghadapi masa depan. Di SMK Kartanegara Kota Kediri, kisah itu dimulai dari sebuah keterbatasan—ketika sepeda motor milik siswa menjadi satu-satunya media praktik di bengkel sekolah.

Puluhan tahun berselang, keterbatasan itu berubah menjadi kekuatan. SMK Kartanegara kini menjelma sebagai salah satu sekolah kejuruan berbasis teknologi dan industri di Kota Kediri yang konsisten mencetak lulusan siap kerja melalui kolaborasi dengan dunia usaha serta pendidikan karakter yang terus diperkuat.

Sekolah yang berdiri pada 1963 ini memperoleh izin operasional resmi pada 1967. Dalam perjalanannya, kegiatan belajar mengajar sempat berpindah-pindah lokasi, mulai dari kawasan SD Kampung Dalem, Gedung Nasional Indonesia (GNI), hingga akhirnya menetap di kawasan Banjaran yang menjadi lokasi sekolah saat ini.

Sebagai salah satu SMK tertua di Kota Kediri, SMK Kartanegara kini memiliki tiga program keahlian, yakni Teknik Otomotif, Teknik Mesin, serta Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sebanyak sekitar 325 siswa mengikuti proses pembelajaran yang terbagi dalam 15 rombongan belajar dengan dukungan 31 guru dan 23 tenaga kependidikan.

Program otomotif menjadi salah satu unggulan sekolah. Melalui Program Teknik Bisnis Sepeda Motor (TBSM), SMK Kartanegara menjalin kerja sama dengan Yamaha melalui Kelas Khusus Yamaha. Sementara Program Teknik Kendaraan Ringan diperkuat melalui kelas industri hasil kolaborasi dengan Nissan sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja.

“Program otomotif menjadi jurusan yang paling diminati karena peluang kerjanya sangat luas dan relatif mudah untuk berwirausaha dengan modal yang tidak terlalu besar,” ujar Kepala SMK Kartanegara Kota Kediri, Drs. Agung Wicaksono.

Kolaborasi dengan industri tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya daya serap lulusan. Sebagian besar alumni SMK Kartanegara langsung memasuki dunia kerja, sementara sebagian lainnya memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan, salah seorang alumninya berhasil membangun usaha bengkel dan penjualan suku cadang kendaraan secara mandiri.

Untuk menunjang kompetensi siswa, sekolah terus meningkatkan fasilitas pembelajaran. Seluruh ruang kelas telah dilengkapi pendingin ruangan (AC), sedangkan sarana praktik disesuaikan dengan standar industri agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan teknologi.

Di balik perkembangan tersebut, terdapat sosok Agung Wicaksono yang telah mengabdikan lebih dari 30 tahun di dunia pendidikan vokasi. Ia memulai karier sebagai guru praktik otomotif di SMK Kartanegara pada 1994. Saat itu, ia juga mengajar di SMK PGRI 1 Kediri dan SMK PGRI 4 Kediri sebelum akhirnya dipercaya memimpin SMK Kartanegara sejak 2007.

Perjalanan membangun jurusan otomotif bukan tanpa tantangan. Ketika Program Keahlian Otomotif dibuka pada 1995, sekolah belum memiliki peralatan praktik yang memadai sehingga proses pembelajaran memanfaatkan sepeda motor milik siswa.

Berbekal pengalaman membantu usaha Kursus Otomotif Garuda milik orang tuanya di kawasan Semampir, Agung terus mengembangkan program tersebut hingga kini menjadi salah satu jurusan unggulan yang diminati masyarakat.

“Visi kami adalah mencetak lulusan yang berkarakter dan siap kerja. Karena itu, kami terus memperkuat pendidikan karakter sekaligus meningkatkan kompetensi guru agar selalu mengikuti perkembangan kebutuhan industri,” katanya.

Menurut Agung, pendidikan karakter menjadi pondasi utama yang tidak dapat dipisahkan dari penguasaan kompetensi. Berbagai pembiasaan diterapkan di lingkungan sekolah, mulai dari budaya berjabat tangan dengan guru, pelaksanaan Salat Dhuha, Salat Jumat, salat wajib berjamaah, hingga pembinaan disiplin, etika, dan tanggung jawab peserta didik.

Di sisi lain, kualitas pembelajaran praktik juga terus ditingkatkan agar lulusan memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Baginya, keberhasilan sekolah tidak hanya diukur dari prestasi siswa selama menempuh pendidikan, tetapi juga dari kemampuan lulusan memperoleh pekerjaan, membangun usaha sendiri, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ke depan, SMK Kartanegara menargetkan seluruh lulusannya memiliki masa depan yang jelas, baik melalui dunia kerja, kewirausahaan, maupun pendidikan tinggi. Dengan semangat adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan penguatan karakter, sekolah ini terus memperkokoh posisinya sebagai lembaga pendidikan vokasi yang melahirkan sumber daya manusia kompeten, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan industri.

 

Jurnalis: Navima Aulya Sava