Derap Langkah Pelajar Menggema di Kabupaten Kediri, Bupati Sampaikan Pesan Rawat Semangat Kemerdekaan hingga Cegah Bullying

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Derap langkah ratusan pelajar menggema di Kabupaten Kediri, Selasa (11/8/2026). Sebanyak 172 pleton peserta Lomba Baris-Berbaris (LBB) tingkat SMA, SMK, dan MA sederajat se-Kabupaten Kediri bergerak dari Halaman Depan Pemkab Kediri menuju garis finis di Taman Hijau Simpang Lima Gumul (SLG).

Di bawah semangat menyambut kemerdekaan, barisan para pelajar tidak hanya menjadi pemandangan tentang kerapian dan keteguhan langkah. Di balik derap yang serempak, terselip pesan tentang disiplin, kekompakan, hingga masa depan generasi muda.

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengatakan LBB menjadi salah satu sarana untuk membentuk kedisiplinan, kerapian, dan kekompakan siswa. Kompetisi tersebut juga diharapkan mampu menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat di kalangan pelajar.

Menurut Hanindhito, para peserta nantinya tidak hanya dinilai dari kemampuan menjaga kerapian barisan. Mereka juga akan berhadapan dengan pandangan masyarakat yang menyaksikan perjalanan lomba.

“Untuk adik-adik sekalian nanti kalian disaksikan warga. Warga akan melihat bukan rapinya saja, tapi kekompakan kalian dan kekuatan kalian,” ujar Hanindhito.

Namun, di tengah suasana penuh semangat itu, Hanindhito menyampaikan dua pesan yang dinilai penting bagi kehidupan pelajar di Kabupaten Kediri.

Bupati Kediri Ingatkan Bahaya Bullying

Pesan pertama berkaitan dengan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.

Hanindhito meminta agar tidak terjadi praktik bullying di lingkungan SMA, SMK, maupun MA di Kabupaten Kediri. Ia juga meminta Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar kasus perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah dapat ditangani secara tegas.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah bukan hanya tempat mengejar prestasi akademik maupun memenangkan kompetisi, tetapi juga ruang bagi siswa untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman dan saling menghargai.

Soroti Pernikahan di Bawah Umur hingga HIV/AIDS

Pesan kedua menyentuh persoalan yang lebih sensitif, yakni pendidikan seks pada usia dini.

Hanindhito menyoroti meningkatnya pengajuan dispensasi pernikahan di bawah umur. Ia menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena menyangkut masa depan anak dan generasi muda.

Selain pernikahan di bawah umur, Hanindhito juga menyinggung persoalan HIV/AIDS sebagai salah satu hal yang perlu menjadi perhatian.

“Hal-hal yang tidak nampak di permukaan, contohnya seperti jumlah dispensasi pengajuan pernikahan di bawah umur itu meningkat. Yang kedua terkait jumlah angka HIV/AIDS,” jelasnya.

Pesan itu disampaikan di tengah momentum kegiatan yang diikuti ratusan pelajar. Harapannya, semangat yang ditunjukkan dalam barisan tidak berhenti ketika perlombaan berakhir, tetapi juga tercermin dalam sikap, pilihan, dan perilaku para siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta LBB Meningkat

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Dr. Mokhamat Muhsin, M.Pd., mengatakan jumlah peserta LBB tingkat SMA, SMK, dan MA tahun ini mengalami peningkatan.

Jika pada tahun sebelumnya jumlah peserta tercatat sekitar 160 pleton, tahun ini jumlah tersebut meningkat menjadi 172 pleton.

Komposisinya terdiri dari 86 pleton putra dan 86 pleton putri.

“Untuk SMA, SMK dan MA juga ada peningkatan. Hari ini pesertanya 86 putra, 86 putri. Kalau SMA, ada peningkatan, kemarin kurang lebih ada 160 pleton, sekarang 172 pleton,” ungkap Muhsin.

Peningkatan jumlah peserta menunjukkan antusiasme pelajar untuk ambil bagian dalam kegiatan yang mengedepankan kedisiplinan, kekompakan, dan sportivitas tersebut.

Jangan Berhenti Sekolah

Tidak hanya berbicara tentang perlombaan, Muhsin juga menitipkan pesan mengenai keberlanjutan pendidikan para siswa.

Ia mengimbau para pelajar agar tidak berhenti menempuh pendidikan dan terus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, baik pendidikan sekolah maupun perguruan tinggi.

Bagi siswa yang menghadapi kendala ekonomi, ia mendorong mereka untuk memanfaatkan berbagai akses beasiswa yang disediakan pemerintah.

Sebab, di balik seragam dan barisan yang rapi, ada cita-cita yang sedang diperjuangkan. Ada masa depan yang menunggu untuk dibentuk melalui pendidikan.

Menjaga Kekompakan hingga Garis Finis

Para peserta LBB diharapkan dapat mengikuti seluruh rangkaian perlombaan dengan tertib. Fokus dan keselamatan selama perjalanan juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Lebih dari sekadar mengejar hasil akhir, peserta diharapkan mampu menjadikan perlombaan sebagai ruang untuk belajar tentang disiplin, kerja sama, kekompakan, dan sportivitas.

Derap langkah itu pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling rapi atau paling cepat mencapai garis finis.

Di sepanjang perjalanan menuju SLG, para pelajar membawa satu pelajaran yang lebih panjang: bahwa kekompakan membutuhkan kepercayaan, disiplin membutuhkan ketekunan, dan masa depan membutuhkan keberanian untuk terus belajar.

Ketika langkah terakhir mencapai garis finis, semangat itu diharapkan tidak ikut berhenti. Ia terus berjalan bersama para pelajar, menuju masa depan yang masih terbentang panjang.

Jurnalis: Navima Aulya Sava