KEDIRI — Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, bulan suci menjadi ruang pembinaan diri untuk membentuk karakter, memperhalus akhlak, sekaligus memperkuat kepedulian sosial.
Nilai-nilai tersebut terasa kental dalam kegiatan Safari Ramadan dan buka bersama yang digelar Pemerintah Kota Kediri, Selasa (3/3), di Masjid Ar-Rahmat, Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren.
Menjelang azan Magrib, masjid dipenuhi jemaah yang hadir dengan penuh antusias. Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengawali rangkaian acara, menciptakan suasana khusyuk dan menenangkan. Di tengah nuansa religius Ramadan, kebersamaan antara pemerintah daerah dan masyarakat terjalin dalam suasana hangat dan akrab.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati dalam sambutannya menegaskan bahwa Safari Ramadan bukan sekadar agenda tahunan yang bersifat seremonial. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana mempererat silaturahmi serta memperkuat sinergi antara pemerintah dan warga.
“Kami ingin Safari Ramadan ini menjadi ruang kebersamaan. Mari kita pelihara keharmonisan dan toleransi agar suasana ibadah tetap khusyuk dan damai,” ujarnya.
Pesan tersebut selaras dengan komitmen pemerintah dalam memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang. Menjelang Hari Raya Idulfitri, Pemkot Kediri terus memantau harga dan ketersediaan bahan pokok di sejumlah pasar. Koordinasi dengan distributor juga dilakukan guna menjaga stabilitas pasokan.
Sebagai langkah konkret, pemerintah turut menggelar operasi pasar murah dan gerakan pangan murah untuk membantu masyarakat menghadapi lonjakan kebutuhan selama Ramadan.
Suasana religius dalam kegiatan itu semakin mendalam melalui tausiyah yang disampaikan Muhammad Fuad Taqiyyudin Yunus. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa esensi puasa jauh melampaui aspek fisik.
“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Kita juga harus menjaga mata, telinga, lisan, hati, tangan, dan kaki dari perbuatan dosa. Puasa yang sempurna adalah puasa yang membentuk akhlak dan membersihkan jiwa,” tuturnya.
Ia juga mengutip riwayat tentang 70.000 umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang masuk surga tanpa hisab, dan setiap satu di antaranya diberi izin untuk mengajak 70.000 orang lainnya. Riwayat tersebut, menurutnya, menjadi gambaran luasnya rahmat Allah bagi hamba-hamba yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Namun demikian, ia menekankan bahwa kemuliaan tersebut hanya dapat diraih melalui keikhlasan dan kesungguhan, bukan sekadar menjalankan ibadah sebagai formalitas.
“Orang yang berpuasa dengan ikhlas akan memperoleh kemuliaan luar biasa di akhirat. Balasan yang Allah siapkan bahkan tak mampu dibayangkan oleh akal manusia,” ungkapnya.
Rangkaian Safari Ramadan dan buka bersama berlangsung khidmat hingga waktu berbuka tiba. Saat azan Magrib berkumandang, jemaah berbuka dalam suasana penuh kebersamaan.
Kehangatan terasa ketika ulama, umara, dan masyarakat duduk berdampingan, menyatu dalam semangat persaudaraan. Safari Ramadan pun menjadi cerminan harmoni antara pemerintah dan warga, sekaligus pengingat bahwa Ramadan adalah momentum memperkuat iman dan solidaritas sosial.









