KEDIRI — Kesehatan bukan hanya tentang mengobati ketika sakit datang. Lebih dari itu, kesehatan adalah ikhtiar panjang yang perlu dirawat sejak awal kehidupan hingga usia senja. Semangat inilah yang tumbuh di Posyandu Seruni, lingkungan Pondok Pesantren Wali Barokah, Kelurahan Burengan, Kota Kediri, Jawa Timur.
Melayani ibu hamil, ibu menyusui, balita, remaja, hingga lanjut usia (lansia), Posyandu Seruni menghadirkan pelayanan kesehatan yang melampaui pemeriksaan rutin. Berbagai kegiatan edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat dikembangkan untuk memastikan warga memperoleh perhatian sesuai kebutuhan pada setiap fase kehidupan.
Upaya tersebut mengantarkan Posyandu Seruni masuk dalam enam besar Lomba Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Berprestasi 2026. Capaian itu sekaligus menjadi kesempatan untuk mengukur kualitas pelayanan yang selama ini tumbuh melalui kerja bersama kader, masyarakat, dan lingkungan pesantren.
Potret pelayanan tersebut terlihat dalam penilaian lapangan yang berlangsung di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kamis (29/10/2026). Tim juri tidak sekadar memeriksa kelengkapan administrasi, tetapi juga melihat langsung bagaimana pelayanan diberikan, kompetensi kader diterapkan, serta kebutuhan masyarakat dijangkau.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kediri, Ning Faiqoh Azizah Muhammad, menilai Posyandu Seruni memiliki potensi untuk menjadi inspirasi bagi Posyandu lainnya. Keberadaannya di lingkungan pesantren menghadirkan nilai lebih karena pelayanan kesehatan juga menjadi ruang pembelajaran bagi para santri tentang arti pengabdian kepada masyarakat.
“Tidak hanya melibatkan masyarakat, tetapi juga mengedukasi para santri bagaimana melayani masyarakat lewat pelayanan Posyandu,” ungkapnya.
Menurut Ning Faiqoh, keberlanjutan pelayanan membutuhkan kader yang aktif mendampingi sasaran sekaligus memantau kondisi kesehatan masyarakat. Karena itu, kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, Puskesmas, TP PKK, konselor ASI, hingga pegiat lingkungan perlu terus diperkuat.
Sinergi lintas sektor tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan dasar, tetapi juga mendukung pencegahan stunting dan mendorong kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.
Makanan tambahan sehat, lingkungan pun tetap terjaga
Perhatian terhadap kesehatan juga tercermin dari makanan tambahan yang diberikan kepada sasaran Posyandu. Saat meninjau pelayanan dan menu yang disajikan, Ning Faiqoh mengingatkan pentingnya memperhatikan kandungan makanan, proses pengolahan, serta jenis kemasan yang digunakan.
“Menu harus benar-benar sehat. MSG itu harus diperhatikan. Kemudian, packaging-nya juga harus diperhatikan,” jelasnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa makanan tambahan bukan sekadar pelengkap kegiatan Posyandu. Kandungan gizi dan cara pengolahannya perlu diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan penerima, sementara penggunaan kemasan juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.
Dengan demikian, upaya menjaga kesehatan dapat berjalan beriringan dengan pembiasaan pola hidup sehat dan kepedulian terhadap pengurangan sampah.
Dari lingkungan pesantren, pelayanan menjangkau lintas generasi
Keterlibatan Pondok Pesantren Wali Barokah menjadi salah satu unsur penting dalam perjalanan Posyandu Seruni. Pesantren tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan, tetapi juga ikut mengambil bagian melalui kader dan warga yang menjadi sasaran pelayanan.
Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah, Drs. H. Sunarto, menjelaskan bahwa sebagian kader Posyandu Seruni berasal dari lingkungan pondok. Penerima manfaatnya pun mencakup warga pesantren dan masyarakat di sekitarnya.
“Sebagian kadernya juga berasal dari pondok. Demikian pula sasaran yang dilayani Posyandu, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan seterusnya sampai lansia,” jelas Sunarto.
Bagi kelompok lansia, perhatian itu diwujudkan melalui kegiatan khusus yang diselenggarakan setiap bulan. Selain mendapatkan pemeriksaan kesehatan, mereka dapat memeriksakan kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat secara gratis. Makanan tambahan juga diberikan sebagai bagian dari kegiatan tersebut.
Sementara itu, pelayanan bagi anak-anak diintegrasikan dengan kegiatan pendidikan anak usia dini (PAUD). Pendekatan ini memungkinkan pemantauan kesehatan dan perkembangan anak berjalan beriringan dengan aktivitas belajar.
Sunarto berharap penilaian lapangan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan Posyandu Seruni pada masa mendatang.
Bukan hanya pemeriksaan, kader dituntut cermat mengenali risiko
Dalam konsep Integrasi Layanan Primer, Posyandu memiliki peran penting sebagai bagian dari pelayanan dasar yang menjangkau masyarakat sepanjang siklus kehidupan. Tugas kader tidak berhenti pada pengukuran, penimbangan, dan pencatatan, tetapi juga mencakup edukasi serta pengenalan dini terhadap kondisi yang membutuhkan tindak lanjut tenaga kesehatan.
Ketua Tim Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Kediri, Ririn Yuanita, S.K.M., yang turut menjadi juri, menjelaskan bahwa penilaian lapangan dilakukan untuk mencocokkan dokumen administrasi peserta dengan pelaksanaan pelayanan secara langsung.
Kekompakan kader, ketepatan prosedur, kualitas pencatatan, dan penerapan kompetensi menjadi sejumlah aspek yang diperhatikan dalam penilaian.
“Jadi, yang kita nilai nanti mulai dari kekompakan kader, kemudian cara melakukan penanganan pada setiap sasaran, lalu bagaimana pencatatannya. Apakah sudah benar-benar sesuai dengan yang kita lakukan atau yang kita ajarkan tentang 25 kompetensi,” terangnya.
Penilaian mencakup seluruh rangkaian pelayanan, mulai dari pendaftaran, pengukuran atau penimbangan, pencatatan hasil, pemeriksaan maupun konseling sesuai kebutuhan, hingga pemberian makanan tambahan.
Tim juri juga menilai pelaksanaan enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM), yakni pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan sosial.
Pada bidang kesehatan, kemampuan kader mengenali risiko menjadi salah satu perhatian utama. Pemantauan pertumbuhan anak, misalnya, dapat membantu mendeteksi indikasi gangguan pertumbuhan atau masalah gizi sejak dini.
Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, warga perlu diarahkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau memperoleh rujukan ke Puskesmas sesuai kebutuhan.
Enam besar dari 307 Posyandu di Kota Kediri
Perjalanan Posyandu Seruni hingga masuk enam besar merupakan bagian dari proses seleksi bertahap yang diikuti ratusan Posyandu di Kota Kediri.
Dari total 307 Posyandu, sebanyak 27 mengikuti seleksi awal. Setelah melalui penilaian administrasi dan video, jumlah peserta mengerucut menjadi sembilan Posyandu. Enam di antaranya kemudian terpilih untuk menjalani penilaian lapangan.
Tahap akhir ini menjadi kesempatan bagi tim juri untuk memastikan kesesuaian antara dokumen yang diajukan dan praktik pelayanan yang berlangsung di lapangan.
Di Posyandu Seruni, beragam kegiatan dikembangkan untuk memperluas jangkauan pelayanan. Upaya tersebut meliputi pendampingan pencegahan stunting, pemantauan tumbuh kembang balita, edukasi kesehatan remaja, hingga kunjungan kepada lansia yang mengalami kesulitan untuk datang ke Posyandu.
Kader juga mendorong keluarga agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan melalui pemantauan jentik nyamuk di tingkat rumah tangga.
Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa pelayanan Posyandu tidak semata-mata berlangsung ketika warga datang untuk diperiksa. Pendampingan berkelanjutan, edukasi, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga kelompok rentan tetap terpantau serta mempermudah akses terhadap pelayanan dasar.
Masuknya Posyandu Seruni dalam enam besar Lomba Posyandu ILP Berprestasi 2026 pun menjadi momentum untuk meninjau kembali apa yang telah berjalan dan memperkuat hal-hal yang masih perlu ditingkatkan.
Pada akhirnya, keberhasilan Posyandu tidak hanya diukur dari capaian dalam sebuah kompetisi. Ukuran yang lebih bermakna terletak pada seberapa jauh pelayanan mampu menjangkau warga, membantu mendeteksi risiko kesehatan sejak dini, serta menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab bersama.
Dari lingkungan pesantren di Burengan, Posyandu Seruni terus merawat semangat pengabdian itu—menghubungkan pelayanan kesehatan dengan kepedulian, pendidikan, dan kebersamaan, dari balita hingga lansia.
Jurnalis: Anisa Fadila



