KEDIRI – Wajah baru Pasar Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, tak lama lagi akan menyambut aktivitas perdagangan. Revitalisasi yang kini memasuki tahap akhir membuka jalan bagi ratusan pedagang untuk kembali berjualan di bangunan yang telah diperbarui. Namun, di balik harapan akan pasar yang lebih tertata, masih ada persoalan yang membayangi, mulai dari keterbatasan lapak hingga ukuran tempat berjualan yang menyusut.
Pembangunan tahap kedua Pasar Ngadiluwih kini tinggal menyisakan pekerjaan penyelesaian akhir atau finishing. Pemerintah daerah pun mulai mematangkan persiapan penempatan pedagang, termasuk finalisasi data penerima lapak dan pengundian berdasarkan zonasi yang dijadwalkan pada Selasa, 3 November 2026.
Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Kediri mencatat sebanyak 532 pedagang masuk daftar penerima dengan total 664 lapak. Di sisi lain, terdapat 75 pedagang yang masih berada dalam daftar tunggu karena keterbatasan daya tampung pasar.
Kepala Disdagin Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, mengatakan finalisasi data dilakukan untuk memastikan jumlah lapak yang diterima setiap pedagang sekaligus mengidentifikasi jenis dagangan sebagai dasar penataan zona.
“Alhamdulillah, insyaallah hari ini final sehingga kami hari Selasa sudah bisa menjadwalkan pengundian masing-masing zona,” ujarnya seusai sosialisasi kepada para pedagang, Kamis (29/10).
19 Zona untuk Menata Wajah Baru Pasar
Pengundian lapak akan dilaksanakan berdasarkan kelompok dagangan. Sebanyak 19 zona telah disiapkan untuk memisahkan komoditas pangan dan nonpangan, mengikuti standar penataan pasar rakyat.
Pemisahan tersebut diharapkan menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih teratur, bersih, dan nyaman. Dengan pengelompokan yang jelas, aktivitas jual beli diharapkan berjalan lebih tertib, sementara konsumen dapat menemukan kebutuhan mereka dengan lebih mudah.
Untuk kelompok nonpangan, zona yang disiapkan antara lain meliputi pedagang konveksi, barang kebutuhan rumah tangga atau abrakan, serta plastik. Sementara itu, kelompok pangan mencakup pedagang sayur, pracangan, makanan ringan, warung, hingga penjual daging ayam, daging kambing, ikan, dan pindang.
Pedagang sayur menjadi kelompok terbesar dengan jumlah 117 pedagang. Posisi berikutnya ditempati pedagang pracangan sebanyak 91 orang.
Penataan ini menjadi bagian penting dari perubahan Pasar Ngadiluwih. Bukan sekadar memperbarui bangunan, revitalisasi juga diarahkan untuk membentuk ruang perdagangan yang lebih terorganisasi sesuai jenis komoditas.
Lapak Baru, Ukuran Tempat Berjualan Menyusut
Di tengah persiapan menempati bangunan baru, tidak semua pedagang menyambut perubahan tanpa keberatan. Sebagian mengeluhkan ukuran lapak yang kini lebih kecil dibandingkan tempat berjualan mereka sebelum revitalisasi.
Lusiana, pedagang aksesori dan gerabah yang telah mengais rezeki di Pasar Ngadiluwih selama 27 tahun, menjadi salah satunya. Ia mengaku hanya memperoleh satu lapak berukuran 1,5 x 2,75 meter.
“Ini cuma dapat satu dan luasnya berkurang dari yang dulu. Ini hanya 1,5 x 2,75 meter,” ungkap Lusiana.
Bagi pedagang yang telah puluhan tahun menggantungkan penghasilan dari pasar, perubahan luas tempat berjualan tentu menjadi hal yang perlu disiasati. Ruang yang lebih terbatas menuntut penyesuaian dalam menata barang dagangan maupun mengatur aktivitas jual beli sehari-hari.
Meski demikian, Lusiana menyatakan menerima ketentuan yang telah ditetapkan. Ia juga menuturkan bahwa ada pedagang lain yang sebelumnya memiliki 11 lapak, tetapi kini hanya memperoleh empat lapak.
“Kami terima saja aturan yang ada,” katanya.
Keluhan tersebut memperlihatkan sisi lain dari proses revitalisasi. Di satu sisi, pasar baru menawarkan penataan yang lebih baik. Di sisi lain, para pedagang harus menyesuaikan diri dengan alokasi dan luas lapak yang tersedia.
Retribusi Rp2.000 per Hari, Pedagang Dapat Kartu Langganan
Selain mengatur penempatan lapak, Disdagin Kabupaten Kediri juga menerapkan retribusi masuk pasar sebesar Rp2.000 per hari.
Untuk memudahkan aktivitas pedagang, pemerintah menyiapkan kartu berlangganan. Dengan kartu tersebut, pedagang dapat keluar masuk pasar berkali-kali pada hari yang sama tanpa harus membayar retribusi berulang.
Kebijakan ini menjadi bagian dari pengaturan aktivitas di pasar yang telah direvitalisasi, sekaligus memberikan kemudahan bagi pedagang yang perlu keluar masuk area pasar untuk menunjang kegiatan usahanya.
Peresmian Ditargetkan Akhir November atau Awal Desember
Sementara itu, pekerjaan pembangunan tahap kedua terus diarahkan menuju penyelesaian. Tutik menyebut pekerjaan yang tersisa saat ini meliputi perapian dan pembersihan sejumlah bagian bangunan.
Pemerintah daerah menargetkan peresmian Pasar Ngadiluwih berlangsung pada akhir November atau awal Desember 2026. Setelah peresmian, para pedagang diharapkan segera memasang perlengkapan dagangan dan menempati lapak masing-masing.
“Target minggu kedua, maksimal minggu ketiga harus sudah pindah,” tegasnya.
Dengan pengundian lapak yang dijadwalkan berlangsung pada awal November dan pembangunan yang mendekati garis akhir, persiapan menuju operasional pasar baru semakin intensif.
Bagi ratusan pedagang, kepastian lapak menjadi awal untuk kembali menata usaha. Bagi pemerintah daerah, revitalisasi ini menjadi langkah untuk menghadirkan pasar rakyat yang lebih tertib dan nyaman.
Namun, di balik bangunan yang segera siap digunakan, pekerjaan berikutnya tak kalah penting: memastikan penataan baru dapat mengakomodasi kebutuhan pedagang sekaligus menjaga denyut ekonomi masyarakat Ngadiluwih dan sekitarnya.
jurnalis : Sigit Cahya Setyawan



