KEDIRI – Sebuah kawasan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Desa Tertek, Kecamatan Pare, bersumber rilis Pemerintah Kabupaten Kediri, dikabarkan menarik perhatian pemerintah pusat. Program yang telah berjalan lebih dari satu dekade itu dinilai berhasil membangun kemandirian pangan keluarga sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Ketertarikan tersebut membawa Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, turun langsung meninjau lokasi pada Minggu (21/6). Dalam kunjungan itu, ia didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kediri Eriani Annisa Hanindhito serta Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa.
Di kawasan tersebut, hampir setiap pekarangan rumah dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran dan tanaman pangan organik. Tidak hanya itu, warga juga membudidayakan ikan dan ayam sebagai sumber protein keluarga. Menariknya, kebutuhan pakan ternak dipenuhi secara mandiri melalui budidaya maggot.
Usai berkeliling, Menteri Arifah mengaku terkesan dengan konsep yang diterapkan warga. Bahkan, ia membandingkan kawasan tersebut dengan desa lain yang baru saja dikunjunginya di Tasikmalaya.
“Dua hari lalu saya berkunjung ke sebuah desa di Tasikmalaya yang memiliki konsep serupa. Namun di sini lebih lengkap karena jenis tanamannya lebih beragam,” ujarnya.
Menurut Arifah, keberhasilan kawasan P2L Desa Tertek tidak hanya terletak pada pemanfaatan lahan pekarangan, tetapi juga karena tingginya partisipasi masyarakat dalam mendukung berbagai program pemberdayaan keluarga dan pemenuhan gizi.
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah Kemping Asik (Kader Pendamping ASI Eksklusif) yang selama ini didorong oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Kediri. Program tersebut dinilai turut memperkuat upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan keluarga.
Ia menegaskan, model pemberdayaan yang dijalankan masyarakat Desa Tertek layak menjadi contoh bagi daerah lain. Sebab, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga kesadaran dan gotong royong warga.
“Kalau diterapkan di desa lain, belum tentu hasilnya bisa sama jika tidak didukung semangat dan kesadaran bersama,” katanya.
Arifah menilai konsep yang berkembang di Desa Tertek sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dari tingkat desa. Berawal dari pemanfaatan pekarangan rumah, masyarakat kini mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Ini sebenarnya yang diharapkan Presiden, yakni setiap desa mampu menjadi kuat dan mandiri dari potensi yang dimilikinya sendiri,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Sinar Gemilang, Ismiati, mengungkapkan keberadaan kawasan P2L membuat para anggotanya tidak lagi bergantung pada pembelian sayuran dari luar. Hasil panen bahkan dapat saling ditukar antarwarga sesuai kebutuhan.
Selain dikonsumsi sendiri, hasil budidaya juga dipasarkan untuk menambah pendapatan keluarga. KWT Sinar Gemilang bahkan mengembangkan berbagai produk olahan berbahan sayuran, seperti peyek bayam brazil, puding, hingga jus.
“Kunci utamanya adalah kebersamaan dan kekompakan warga. Dengan itu program ini bisa bertahan dan terus berkembang sampai sekarang,” ujar Ismiati. (*)



