KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri semakin serius mendorong transformasi sektor pertanian. Sebanyak 216 unit alat dan mesin pertanian (alsintan) lengkap dengan fasilitas irigasi perpompaan disalurkan kepada kelompok tani sebagai langkah mempercepat modernisasi pertanian sekaligus mengatasi krisis regenerasi petani.
Bantuan tersebut diserahkan langsung Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana (Mas Dhito) dalam kegiatan Penyerahan Bantuan Alat dan Mesin Pertanian, Irigasi Tanah Dangkal, Sertifikat CSR, dan Santunan BPJS Ketenagakerjaan di Kantor Pemerintah Kabupaten Kediri, Rabu (5/8).
Ratusan bantuan yang diberikan terdiri atas 22 traktor roda empat, 23 traktor roda dua, 23 rice transplanter, dua kultivator, satu drone pertanian, dua unit alat pascapanen kopi, serta 143 unit irigasi perpompaan.
Di saat yang sama, Pemkab Kediri juga menerima sertifikat Corporate Social Responsibility (CSR) berupa pembangunan 25 sumur submersible dari tujuh perusahaan untuk memperkuat program ketahanan pangan dan swasembada gula.
Mas Dhito menegaskan, modernisasi pertanian bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Kediri mampu terus berkembang di tengah berbagai tantangan.
“Sektor pertanian merupakan komoditas utama di Kabupaten Kediri. Harapan kami, teman-teman petani bisa meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya,” ujar Mas Dhito.
Ia juga mengingatkan agar seluruh kelompok tani menjaga dan memanfaatkan bantuan tersebut secara maksimal. Menurutnya, teknologi hanya akan memberikan dampak nyata apabila digunakan secara tepat dan dirawat dengan baik.
Tak hanya fokus pada peralatan, Pemkab Kediri juga memperkuat perlindungan petani. Mas Dhito meminta seluruh kelompok tani dan gabungan kelompok tani mendaftarkan anggotanya ke BPJS Ketenagakerjaan agar memiliki jaminan saat bekerja di sektor pertanian.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi, menjelaskan bahwa modernisasi pertanian menjadi jawaban atas persoalan semakin minimnya tenaga kerja muda di sektor pertanian. Mayoritas petani saat ini telah memasuki usia lanjut sehingga kehadiran teknologi menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi kerja.
Menurutnya, rice transplanter mampu mengatasi kesulitan mencari tenaga tanam, sedangkan drone pertanian membuat proses penyemprotan hama dan penyakit tanaman jauh lebih cepat. Bahkan, satu unit drone mampu menyemprot lahan hingga sekitar tujuh hektare dalam sehari.
Pemerintah, lanjut Sukadi, juga terus berkomunikasi dengan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan.
Modernisasi tidak berhenti di lahan pertanian. Sektor pascapanen juga mendapat perhatian melalui penyaluran dua unit alat pengolahan kopi kepada kelompok tani agar hasil panen memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.
Manfaatnya sudah mulai dirasakan petani. Rujianto, anggota Kelompok Tani Makmur Sejahtera, Desa Medowo, Kecamatan Kandangan, mengungkapkan bahwa alat roasting kopi modern mampu memangkas waktu produksi secara signifikan.
Jika sebelumnya proses sangrai sekitar 20 kilogram kopi membutuhkan waktu semalaman, kini pekerjaan tersebut dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar enam jam. Efisiensi itu membuat pesanan pelanggan dapat dipenuhi lebih cepat.
Kelompok tani yang mengelola sekitar 25 hektare kebun kopi robusta, arabika, dan excelsa itu optimistis bantuan teknologi akan meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat daya saing kopi asal Kabupaten Kediri.
Sebagai penutup kegiatan, Mas Dhito bersama para petani mencoba langsung mengoperasikan traktor serta menyaksikan demonstrasi penerbangan drone pertanian. Momen tersebut menjadi simbol dimulainya percepatan transformasi menuju pertanian modern yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing di Kabupaten Kediri.
Jurnalis: Anisa Fadila



