Penutupan Persami SMK PGRI 2 Kediri Diwarnai 4 Siswi Kesurupan, Pihak Sekolah Ungkap Penyebabnya

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Penutupan Perkemahan Jumat-Sabtu (Persami) SMK PGRI 2 Kediri, Sabtu (8/8) pagi, sempat diwarnai insiden empat siswi mengalami kondisi yang disebut kesurupan.

Keempat siswi tersebut langsung mendapat penanganan dari panitia dan guru pendamping. Setelah kondisinya dinilai aman dan tenang, mereka kemudian dipulangkan.

Kepala SMK PGRI 2 Kediri, Ulul Mustagfirin, M.Pd., membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurut dia, insiden terjadi ketika rangkaian kegiatan penutupan Persami berlangsung di lingkungan sekolah.

Ulul menduga kondisi psikologis masing-masing siswa yang berbeda, ditambah kelelahan setelah mengikuti serangkaian kegiatan lapangan, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi para siswi.

“Penyebabnya sendiri kan kondisi psikologis anak berbeda-beda. Ditambah lagi faktor misalkan kecapekan dan sebagainya seperti itu,” ujar Ulul saat dikonfirmasi, Sabtu (8/8).

Ulul menjelaskan bahwa pihak sekolah telah memiliki prosedur untuk menangani kondisi serupa. Begitu insiden terjadi, panitia dan guru pendamping memberikan penanganan awal serta memastikan para siswa berada dalam kondisi aman.

Menurutnya, guru dan panitia yang terlibat dalam kegiatan juga telah mendapatkan pembekalan dasar untuk menghadapi kondisi yang membutuhkan penanganan khusus selama kegiatan berlangsung.

“Guru dan panitia juga sudah dibekali kemampuan dasar untuk menangani hal seperti itu,” katanya.

Setelah mendapat penanganan, keempat siswi tersebut dipulangkan. Pihak sekolah juga melakukan koordinasi dengan orang tua atau wali untuk menyampaikan kondisi yang terjadi sekaligus memastikan situasi tetap terkendali.

Sekolah Evaluasi Pelaksanaan Persami

Meski terjadi insiden, Ulul memastikan seluruh rangkaian Persami SMK PGRI 2 Kediri secara umum tetap berlangsung dengan lancar.

Namun, sekolah tidak mengabaikan kejadian tersebut. Evaluasi akan dilakukan untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan serupa, terutama menyangkut pengaturan waktu istirahat dan pemenuhan kebutuhan siswa selama mengikuti aktivitas lapangan.

Evaluasi tersebut dinilai penting agar kegiatan ekstrakurikuler di luar kelas dapat berlangsung lebih aman dan optimal bagi seluruh peserta.

Ulul menegaskan bahwa Persami tetap memiliki manfaat bagi perkembangan siswa. Kegiatan tersebut menjadi salah satu sarana untuk membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, serta memperkuat kebersamaan antarsiswa.

Karena itu, pihak sekolah berharap insiden yang terjadi tidak serta-merta menimbulkan stigma negatif terhadap kegiatan Persami secara keseluruhan.

Sekolah, kata Ulul, tetap berkomitmen menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler dengan memperhatikan aspek keamanan, kesiapan pendamping, kondisi siswa, serta kebutuhan istirahat selama kegiatan berlangsung.

Dengan evaluasi tersebut, pelaksanaan kegiatan serupa diharapkan dapat berjalan lebih terarah, aman, dan memberikan manfaat maksimal bagi siswa.

Jurnalis: Anisa Fadila