KEDIRI – Jeruji besi semestinya menjadi batas bagi setiap pelanggaran hukum. Namun, dugaan peredaran narkotika justru kembali menyita perhatian setelah aparat kepolisian menemukan puluhan poket yang diduga berisi sabu di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri.
Operasi gabungan yang berlangsung Sabtu (31/10) malam hingga Minggu (1/11/2026) dini hari itu menjadi babak lanjutan pengembangan kasus narkotika yang sebelumnya diungkap Satresnarkoba Polres Tulungagung.
Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 26 poket yang diduga berisi sabu ditemukan di sejumlah kamar hunian warga binaan. Tak hanya itu, dari sepuluh warga binaan yang menjalani pemeriksaan urine, enam di antaranya dinyatakan positif narkoba.
Pengungkapan tersebut menjadi bukti bahwa penelusuran jaringan narkotika membutuhkan kerja sama lintas wilayah. Informasi yang berawal dari pengungkapan kasus di Tulungagung akhirnya mengantarkan aparat untuk menyisir lingkungan Lapas Kediri.
Sebelumnya, Satresnarkoba Polres Tulungagung mencatat pengungkapan 71 kasus peredaran narkotika sepanjang Agustus hingga Oktober 2026. Dalam rangkaian pengungkapan itu, sebanyak 91 tersangka diamankan, termasuk 10 orang yang diduga berperan sebagai bandar narkoba.
Dari hasil pengembangan informasi tersebut, muncul dugaan adanya penyalahgunaan hingga peredaran narkotika di dalam Lapas Kediri. Koordinasi lintas wilayah pun dilakukan hingga melibatkan Polres Tulungagung, Polres Kediri, Polres Kediri Kota, serta Ditresnarkoba Polda Jawa Timur.
Ratusan personel diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan gabungan. Operasi tersebut juga dihadiri tiga pimpinan kepolisian, yakni Kapolres Kediri AKBP Dr. Muh. Wahyudin Latif, Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, dan Kapolres Tulungagung AKBP Wiwin Junianto Supriyadi.
Kapolres Kediri AKBP Muh. Wahyudin Latif menegaskan, operasi tersebut merupakan wujud nyata sinergi antarkepolisian dalam memerangi peredaran narkotika.
“Ini buktikan sinergitas kami, baik dengan Kapolres Kediri Kota maupun Kapolres Tulungagung dalam pemberantasan narkoba,” tegas Latif.
Dalam penyisiran sejumlah kamar hunian, petugas menemukan 26 poket yang diduga berisi sabu. Barang-barang tersebut disembunyikan dengan cara yang terbilang tak biasa, yakni di dalam bungkus minuman serbuk Kukubima dan sarung.
Tak berhenti di situ, petugas juga menemukan satu paket pil double L, tiga butir pil yang berada di dalam selimut, serta satu alat isap narkotika atau bong.
Sejumlah barang lain turut diamankan untuk kepentingan pemeriksaan. Di antaranya satu unit telepon seluler, dua buku berisi nomor telepon, sembilan korek api, topi, selimut, sarung, dan beberapa barang lainnya.
Sementara itu, hasil pemeriksaan urine menunjukkan enam dari sepuluh warga binaan yang menjalani tes dinyatakan positif narkoba. Temuan tersebut menjadi perhatian serius aparat dan akan didalami lebih lanjut melalui koordinasi bersama Ditresnarkoba Polda Jatim.
Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto menjelaskan, keterlibatan jajarannya dalam operasi tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan informasi yang dilakukan Polres Tulungagung.
“Kami hanya backup, kemudian kami koordinasikan dengan lapas untuk membantu,” ujarnya.
Pemeriksaan berlangsung hingga Minggu (1/11/2026) dini hari. Seluruh temuan, mulai dari 26 poket yang diduga sabu, hasil tes urine, hingga barang-barang lainnya, selanjutnya akan ditindaklanjuti bersama Ditresnarkoba Polda Jawa Timur.
Di sisi lain, Kapolres Tulungagung melalui Kasi Humas IPTU Nanang Murdianto menyampaikan bahwa pihaknya belum dapat memberikan keterangan terperinci mengenai hasil operasi gabungan tersebut.
“Maaf untuk data lengkap masih belum ada,” jelasnya.
Pengungkapan ini kembali membuka perhatian terhadap tantangan pemberantasan narkotika yang tidak hanya berlangsung di ruang publik, tetapi juga berpotensi merambah lingkungan lembaga pemasyarakatan.
Sinergi tiga polres menjadi gambaran bahwa jaringan narkotika tidak mengenal batas administratif maupun wilayah hukum. Sebuah informasi dari satu daerah dapat membuka jalan bagi pengungkapan dugaan jaringan yang lebih luas.
Kini, temuan di Lapas Kediri masih menunggu pendalaman lebih lanjut. Aparat perlu memastikan asal-usul barang yang ditemukan, keterkaitan para pihak, serta kemungkinan adanya jaringan yang bermain di balik temuan tersebut.
jurnalis : Sigit Cahya Setyawan



