Jajanan Lawas hingga Bianglala, Pasar Rakyat Hidupkan Lagi Denyut Ekonomi UMKM Kota Kediri

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Setelah sekitar lima tahun tak terdengar gaungnya, Pasar Rakyat Kota Kediri kembali hadir. Area GOR Jayabaya, Kota Kediri, Jawa Timur, berubah menjadi ruang pertemuan antara geliat ekonomi, kuliner, seni budaya, dan hiburan keluarga.

Digelar pada 8–15 Agustus 2026, Pasar Rakyat Kota Kediri menghadirkan ratusan pelaku UMKM, festival kuliner dan street food, pertunjukan seni budaya, hingga sejumlah wahana permainan. Bukan sekadar tempat berbelanja, kawasan tersebut dirancang menjadi panggung bagi produk lokal sekaligus ruang rekreasi bagi masyarakat.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati membuka sekaligus meninjau kegiatan tersebut pada Sabtu (8/8). Kunjungannya diawali dengan menyambangi sejumlah stan dan berbincang dengan pelaku UMKM serta masyarakat yang hadir.

Suasana pembukaan semakin semarak ketika Wonderland Dance tampil menyambut kedatangan Vinanda. Acara kemudian resmi dibuka dengan letupan kembang api yang menerangi kawasan GOR Jayabaya.

Di antara deretan stan dan hiruk-pikuk pengunjung, produk-produk lokal menjadi salah satu perhatian utama. Vinanda menilai keberagaman produk yang ditampilkan menunjukkan besarnya potensi UMKM Kota Kediri.

Menurut dia, Pasar Rakyat tidak semata menjadi ruang transaksi antara penjual dan pembeli. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat yang lebih luas.

“Diharapkan bisa menjadi ruang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan memperkuat pelaku UMKM,” kata Vinanda.

Ada pula sesuatu yang bernuansa nostalgia di tengah riuhnya pasar. Saat berkeliling, Vinanda menemukan sejumlah jajanan lawas yang kini semakin jarang dijumpai.

Makanan-makanan tersebut bukan hanya menawarkan rasa, tetapi juga membawa kembali ingatan tentang kuliner tradisional yang perlahan tergerus zaman. Keberadaannya di Pasar Rakyat dinilai dapat menjadi sarana mengenalkan jajanan tradisional kepada generasi anak-anak sekaligus menjaga agar produk tersebut tetap memiliki pasar.

Semangat mempertahankan produk lokal itu sejalan dengan konsep yang diusung penyelenggara. Ketua Panitia Pasar Rakyat Kota Kediri 2026, Rizal Yusuf, mengatakan kegiatan tersebut kembali digelar setelah sekitar lima tahun tidak ada acara serupa.

“Kita hadirkan lagi dengan konsep pasar rakyat untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan menambah hiburan masyarakat Kota Kediri,” ujar Rizal.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai kegiatan, mulai dari festival kuliner, street food, pameran UMKM lokal, hingga panggung hiburan.

Ratusan UMKM dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Porsi terbesar diberikan kepada pelaku usaha dari Kota Kediri.

“Untuk UMKM, 70 persen wajib orang Kota Kediri. Orang Kediri, terus 30 persen baru wilayah kabupaten dan sekitarnya,” kata Rizal.

Bukan hanya stan UMKM yang memberi ruang bagi warga lokal. Panggung hiburan juga dirancang untuk mengangkat talenta dari Kota Kediri.

Hampir 90 persen pengisi acara disebut berasal dari Kota Kediri, termasuk sejumlah band lokal. Silvi Kumalasari menjadi salah satu bintang tamu yang turut memeriahkan rangkaian kegiatan.

Sementara itu, keluarga yang datang bersama anak-anak memiliki pilihan hiburan tersendiri. Dinosaurus Show dari Magetan menjadi salah satu atraksi yang ditampilkan. Selain itu, tersedia sekitar enam hingga tujuh wahana permainan, di antaranya bianglala, roller coaster, dua perosotan, cross over, dan kuda-kudaan.

Nuansa lokal juga sengaja ditanamkan hingga ke wajah kawasan acara. Stasiun Kediri dijadikan inspirasi untuk desain welcome gate, sedangkan Jembatan Lama Kediri menjadi inspirasi panggung utama.

Dengan begitu, identitas Kota Kediri tidak hanya hadir melalui produk yang dijajakan, tetapi juga melalui elemen visual yang menyambut dan menemani pengunjung selama berada di kawasan Pasar Rakyat.

Penyelenggaraan kegiatan dilakukan secara mandiri dan telah dikoordinasikan dengan Pemerintah Kota Kediri. Panitia menyatakan kegiatan tersebut tidak menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

Daya tarik Pasar Rakyat rupanya tidak berhenti di batas wilayah Kota Kediri. Sejumlah pengunjung dari luar daerah turut datang menikmati suasana sekaligus mencicipi aneka kuliner yang ditawarkan.

Salah satunya Lailatu Fitria, warga Ploso, Kecamatan Mojo. Ia datang bersama suami dan tiga anaknya.

Bagi Lailatu, keberagaman makanan dan hiburan menjadi daya tarik tersendiri untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

“Senang sekali acaranya bagus, banyak pilihan makanan dan hiburan yang menarik,” kata Lailatu.

Di tengah lampu wahana, aroma makanan, suara musik, dan lalu-lalang pengunjung, Pasar Rakyat Kota Kediri mencoba menghadirkan kembali wajah sebuah pasar yang bukan hanya hidup karena transaksi.

Ada pelaku UMKM yang menawarkan produknya, pengunjung yang mencari makanan favorit, anak-anak yang menikmati wahana, serta masyarakat yang datang sekadar menikmati keramaian.

Pada akhirnya, geliat tersebut diharapkan tidak berhenti ketika lampu pasar dipadamkan dan rangkaian acara berakhir pada 15 Agustus. Bagi pelaku UMKM, pertemuan dengan pengunjung dari berbagai daerah menjadi peluang untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka pintu pasar yang lebih luas.

Panitia berharap Pasar Rakyat Kota Kediri 2026 dapat membuat produk lokal semakin dikenal dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat, bahkan setelah keramaian di GOR Jayabaya usai.

Jurnalis: Anisa Fadila