KEDIRI – Minggu pagi di kawasan Car Free Day (CFD) Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri, tak hanya diwarnai aktivitas olahraga dan keramaian warga. Di tengah suasana santai akhir pekan itu, layanan keimigrasian turut hadir mendekatkan diri kepada masyarakat.
Melalui program Paspor Minggu Ceria (Pasporia), Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kediri membuka layanan pengurusan paspor secara langsung di ruang publik, Minggu (9/8).
Program tersebut merupakan bagian dari kampanye “Imigrasi untuk Rakyat” sekaligus rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Konsepnya sederhana: membawa layanan lebih dekat, agar masyarakat tak selalu harus datang ke kantor imigrasi untuk mendapatkan pelayanan paspor.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kediri, Antonius Frizky Saniscara Cahya Putra, mengatakan Pasporia menjadi salah satu bentuk pelayanan jemput bola atau Eazy Passport yang dirancang untuk memberikan akses lebih mudah kepada masyarakat.
Pada pelaksanaan kali ini, Imigrasi Kediri menyediakan 30 kuota layanan yang sebelumnya dibuka melalui pendaftaran daring. Tak butuh waktu lama, seluruh kuota tersebut langsung dipenuhi pemohon.
Antusiasme itu menjadi gambaran tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan paspor yang lebih fleksibel. Bagi sebagian warga, datang ke kantor imigrasi pada hari kerja bukan perkara mudah karena terbentur aktivitas dan keterbatasan waktu.
“Kami ingin memberikan kemudahan sehingga masyarakat yang mungkin tidak mendapatkan kuota di kantor Imigrasi bisa mendapatkan layanan lebih cepat, lebih nyaman, dan lebih santai melalui CFD,” ujar Frizky.
Pasporia bukan kali pertama digelar. Program tersebut telah menyambangi sejumlah wilayah dalam cakupan kerja Imigrasi Kediri, yakni Kota Kediri, Nganjuk, Jombang, dan Kabupaten Kediri.
Setiap pelaksanaan, kata Frizky, mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kehadiran layanan di ruang publik membuat proses pengurusan paspor terasa lebih dekat dengan keseharian warga.
Namun, membawa pelayanan ke luar kantor juga bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pengawasan terhadap tujuan permohonan paspor.
Petugas tetap dituntut memastikan setiap permohonan diajukan untuk tujuan yang sebenarnya. Langkah tersebut penting agar kemudahan pelayanan tidak justru dimanfaatkan untuk kepentingan yang menyimpang dari peruntukannya.
“Kendalanya ketika kami mendapati seseorang yang permohonannya tidak sesuai dengan tujuannya. Kalau pelayanan di CFD, pengawasan kami sedikit berkurang, tetapi kami sudah mempersiapkan anggota untuk tetap profesional dan melaporkan apabila ada temuan,” jelas Frizky.
Karena itu, Pasporia tak hanya menjadi tempat mengurus dokumen perjalanan. Di sela kegiatan, petugas juga memanfaatkan momen fun walk untuk membagikan brosur serta memberikan edukasi mengenai layanan keimigrasian.
Masyarakat juga diingatkan mengenai penggunaan paspor sesuai peruntukannya. Edukasi tersebut menjadi bagian penting dari pelayanan, seiring dengan semakin mudahnya akses masyarakat terhadap dokumen perjalanan internasional.
Bagi Imigrasi Kediri, kehadiran layanan paspor di CFD juga memiliki manfaat lain. Selain mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, kegiatan tersebut dapat membantu mengurangi kepadatan antrean di kantor imigrasi.
Bagi pemohon, kemudahan akses menjadi alasan utama seperti disampaikan Ahmad Andrianto, warga Ngasem, misalnya. Dia memilih Pasporia karena lokasinya lebih dekat dan waktunya lebih sesuai dengan aktivitas yang dimilikinya. Informasi mengenai layanan tersebut ia peroleh melalui media sosial.
“Lebih mudah diakses karena lebih dekat. Pelayanannya juga sangat memuaskan, sesuai harapan,” kata Ahmad.
Paspor yang diurus Ahmad bukan sekadar dokumen yang tersimpan di dalam dompet. Ia menyiapkannya untuk perjalanan wisata ke Malaysia.
Menurut Ahmad, layanan seperti Pasporia layak terus digelar. Bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu untuk datang ke kantor imigrasi, pelayanan jemput bola memberikan pilihan yang lebih praktis.
Di tengah denyut CFD yang dipenuhi warga yang berolahraga dan menikmati akhir pekan, layanan paspor hadir dengan pendekatan berbeda: mendatangi masyarakat, bukan sekadar menunggu masyarakat datang.
Pasporia menjadi salah satu upaya Imigrasi Kediri memperluas akses pelayanan di wilayah kerjanya. Dengan membawa layanan ke ruang publik, proses pengurusan paspor diharapkan semakin mudah dijangkau, sekaligus tetap mengedepankan profesionalisme dan pengawasan.
Pada akhirnya, pelayanan publik bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah dokumen selesai diproses. Lebih dari itu, ada upaya untuk membuat layanan terasa lebih dekat—menyusuri ruang-ruang tempat masyarakat beraktivitas dan hadir ketika kebutuhan itu muncul.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



