Kota Kediri Jadi Titik Temu Gagasan Kader HMI se-Indonesia, Siapkan Agen Perubahan Penjawab Krisis Bangsa

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Kota Kediri menjelma menjadi ruang bertemunya gagasan, semangat intelektual, dan harapan masa depan. Dari kota di tepian Sungai Brantas ini, kader-kader terbaik Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul bukan sekadar mengikuti proses kaderisasi, melainkan merumuskan solusi atas tantangan besar yang tengah dihadapi bangsa.

Training Raya Nasional HMI 2026 yang dibuka di Balai Kota Kediri, Sabtu (1/8), menghadirkan peserta Intermediate Training (LK II) dan Senior Course (SC) yang dipersiapkan menjadi agen perubahan sekaligus penggerak pembangunan di daerah masing-masing, terutama dalam menghadapi isu energi, ekologi, dan ketahanan pangan.

Sebelum mengikuti seremoni pembukaan, para peserta diberangkatkan menggunakan Bus Satria milik Pemerintah Kota Kediri dari lokasi screening di Jalan Perintis Kemerdekaan. Perjalanan itu menjadi pengantar untuk mengenal wajah Kota Kediri, sebelum mereka disambut atraksi kesenian jaranan di Balai Kota sebagai simbol kekayaan budaya lokal.

Pembukaan kegiatan dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin Thoha, Ketua DPRD Kota Kediri Dra. Firdaus, unsur Forkopimda, Plt Kepala Kesbangpol Kota Kediri Syamsul Bahri, Ketua MD KAHMI Kota Kediri Imam W. Zakarsyi, jajaran KAHMI Kota dan Kabupaten Kediri, Ketua Umum HMI Cabang Kediri Chanifan Ibadi F.H., Ketua Umum BPL HMI Cabang Kediri Bagas Amilun, Ketua Umum Badko HMI Jawa Timur M. Yusfan Firdaus J., serta sejumlah tamu undangan.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, kehadiran peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa Kediri bukan hanya menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga berkembang sebagai ruang dialog intelektual yang mempertemukan calon-calon pemimpin masa depan.

“Banyak tokoh hadir di Kota Kediri. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Kediri bukan hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga menjadi ruang dialog intelektual dan pergerakan kader bangsa,” ujarnya.

Menurut Vinanda, tema yang diangkat dalam Training Raya Nasional sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Tantangan di sektor energi, lingkungan, dan pangan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya kritis dalam berpikir, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

Karena itu, Pemerintah Kota Kediri membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan organisasi kemahasiswaan sebagai mitra strategis dalam mendorong pembangunan daerah.

Harapan serupa disampaikan Ketua DPRD Kota Kediri Dra. Firdaus. Sebagai alumni HMI, ia menilai proses kaderisasi merupakan ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial yang akan menentukan kualitas generasi mendatang.

“Saya berharap lahir kader-kader yang mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keindonesiaan,” katanya.

Firdaus menegaskan pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Menurutnya, keterlibatan generasi muda yang memiliki kapasitas intelektual dan kepedulian sosial menjadi kunci menghadirkan pembangunan yang lebih berkualitas.

Pandangan itu diperkuat Ketua Majelis Daerah Korps Alumni HMI (MD KAHMI) Kota Kediri Imam W. Zakarsyi yang memberikan stadium general dalam pembukaan kegiatan.

Menurut Imam, Training Raya Nasional menjadi forum strategis untuk saling belajar melalui praktik-praktik terbaik yang dibawa peserta dari berbagai daerah sekaligus mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi.

“Forum ini cukup efektif untuk saling studi tiru. Masing-masing membawa praktik baik dari daerahnya, sekaligus berbagai persoalan yang dihadapi. Dari situ kita dapat saling belajar dan bersama-sama merumuskan solusi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, setiap gagasan yang lahir dari forum tersebut harus berangkat dari data dan kebutuhan nyata masyarakat agar dapat diimplementasikan ketika peserta kembali ke daerah asal.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Kediri Chanifan Ibadi F.H. menjelaskan bahwa Training Raya Nasional merupakan bagian dari proses kaderisasi berjenjang HMI, mulai Intermediate Training (LK II) hingga Senior Course yang bertujuan mencetak instruktur atau Master of Training.

Menurut Chanifan, kata “kristalisasi” yang menjadi tema kegiatan bukan sekadar slogan, melainkan proses mengubah pengetahuan menjadi keberpihakan dan tindakan nyata.

“Intelektualitas kader HMI harus mengkristal menjadi sikap, menjadi keberpihakan, dan menjadi tindakan,” tegasnya.

Ia menilai Indonesia tidak kekurangan sumber daya maupun orang-orang cerdas. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan mengubah gagasan yang lahir dari ruang-ruang diskusi menjadi solusi konkret bagi persoalan bangsa.

Selama Training Raya yang berlangsung pada 27 Juli hingga 6 Agustus 2026, peserta juga diperkenalkan dengan potensi Kota Kediri melalui kunjungan ke Jalan Dhoho dan wisata religi Syekh Wasil menggunakan Bus Satria.

Di penghujung kegiatan, peserta dijadwalkan mengikuti field trip ke Monumen Simpang Lima Gumul (SLG), Museum Kabupaten Kediri, hingga kawasan wisata Gunung Kelud sebagai bagian dari pengenalan potensi daerah.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya membawa pulang sertifikat kaderisasi, tetapi juga membawa gagasan yang telah ditempa menjadi solusi nyata untuk diterapkan di daerah masing-masing, khususnya dalam menjawab tantangan energi, ekologi, dan ketahanan pangan Indonesia.

jurnalis : Anisa Fadila