KEDIRI – Percikan api yang memancar dari besi panas tak sekadar menyatukan logam. Di tangan Moh Hamzah Rizqi, percikan itu menjelma menjadi nyala semangat yang mengantarkannya menuju puncak prestasi. Berawal dari keputusan sederhana mengikuti teman memilih jurusan Teknik Pengelasan, siswa SMK Kartanegara Wates, Kabupaten Kediri, itu kini sukses mempersembahkan medali emas cabang Welding pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Dikmen Tingkat Nasional 2026 di Jakarta.
Kabar membanggakan tersebut pertama kali disampaikan Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Kediri, Lutfi Mahmudiono. Namun, di balik kilau medali emas itu tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi latihan tanpa henti, kegagalan, serta tekad untuk terus memperbaiki diri.
Hamzah mengaku, awalnya ia sama sekali tidak memiliki cita-cita menjadi seorang welder. Pilihan masuk jurusan Teknik Pengelasan bermula ketika seorang teman mengajaknya mendaftar di jurusan tersebut. Ketertarikannya semakin tumbuh setelah melihat kakak kelas yang berhasil menjadi atlet kompetisi pengelasan.
“Awalnya saya tidak punya keinginan masuk jurusan Teknik Pengelasan. Waktu itu hanya ikut teman, lalu melihat kakak kelas yang menjadi atlet. Dari situ saya mulai tertarik,” ujar Hamzah, Jumat (31/7).
Sebelum mengenyam pendidikan di SMK, Hamzah belum pernah mengenal dunia pengelasan. Bahkan, keluarganya juga tidak memiliki latar belakang di bidang tersebut. Meski demikian, kedua orang tuanya tetap memberikan dukungan penuh terhadap pilihannya, meski saat itu mereka hanya mengenal pekerjaan las sebatas membuat pagar atau kanopi.
Seiring waktu, pandangan Hamzah berubah. Ia menyadari bahwa profesi welder memiliki prospek yang jauh lebih luas, mulai dari industri manufaktur hingga sektor minyak dan gas.
“Banyak yang mengira pekerjaan pengelasan hanya membuat pagar atau kanopi. Padahal peluang kerjanya sangat besar di berbagai sektor industri, termasuk migas,” katanya.
Perjalanan menuju podium juara tidak berlangsung mulus. Pada kompetisi pertamanya di LPK Solusi Terampil Global (STGL) Mojokerto pada 2025, Hamzah harus puas finis di posisi keempat. Kegagalan itu sempat menyisakan kekecewaan, tetapi justru menjadi titik balik yang membentuk mental juaranya.
Alih-alih menyerah, ia memilih memperbanyak latihan dan mengevaluasi setiap kekurangan.
“Saat itu saya hanya mendapat peringkat empat. Dari situ saya bertekad memperbaiki kemampuan agar bisa menjadi juara satu,” tuturnya.
Kesungguhan Hamzah mendapat kepercayaan penuh dari sekolah. Sejak akhir kelas 10, ia terpilih menjadi atlet sekolah setelah melewati seleksi ketat. Dari sekitar 80 siswa jurusan Teknik Pengelasan, hanya dua orang yang dipercaya menjadi wakil sekolah. Penilaian tidak hanya berdasarkan kemampuan teknis, tetapi juga kedisiplinan, karakter, dan konsistensi selama berlatih.
Kepercayaan tersebut dijawab Hamzah dengan sederet prestasi sepanjang 2025. Ia berhasil menjuarai LKS tingkat sekolah, meraih juara pertama Polines Welding Competition di Politeknik Negeri Semarang, juara kedua Welding School Competition di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), serta juara ketiga MGMP Welding Competition II.
Memasuki 2026, performanya semakin matang. Hamzah meraih juara kedua Student Engineering Challenge (SEC) 7.0 kategori welding, kemudian menjadi juara pertama LKS Dikmen tingkat Provinsi Jawa Timur. Prestasi itu membawanya menjadi wakil Jawa Timur pada LKS Dikmen Tingkat Nasional di Jakarta.
Di tingkat nasional, tantangan yang dihadapi jauh lebih berat. Para peserta harus menyelesaikan pengerjaan vessel dengan berbagai posisi pengelasan yang membutuhkan tingkat presisi tinggi sekaligus ketahanan fisik.
Selama kurang lebih empat jam, peserta dituntut tetap fokus tanpa banyak kesempatan beristirahat.
“Yang paling berat itu rasa lelahnya. Selama sekitar empat jam kami harus terus fokus mengerjakan pekerjaan tanpa bisa banyak beristirahat,” ungkap Hamzah.
Demi menghadapi kompetisi nasional, Hamzah menjalani persiapan intensif sejak Januari 2026. Ia mendapat izin khusus dari sekolah untuk lebih memusatkan perhatian pada latihan sehingga tidak mengikuti pembelajaran reguler di kelas. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan di bengkel las dengan pendampingan guru yang terus memberikan evaluasi terhadap setiap hasil latihan.
Kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Target yang sejak awal dipasang berhasil diwujudkan ketika namanya diumumkan sebagai peraih medali emas cabang Welding LKS Dikmen Tingkat Nasional 2026.
“Sejak awal saya memang menargetkan menjadi juara satu,” ujarnya.
Bagi Hamzah, medali emas bukanlah garis akhir. Prestasi tersebut justru menjadi pijakan untuk mengejar impian yang lebih tinggi. Setelah lulus dari SMK, ia berencana melanjutkan pendidikan di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS). Kesempatan itu semakin terbuka setelah ia memperoleh golden ticket dari kampus tersebut berkat prestasi yang pernah diraih dalam kompetisi sebelumnya.
Tak berhenti di sana, Hamzah juga menargetkan dapat tampil pada ajang kompetisi internasional. Baginya, dunia pengelasan bukan sekadar tentang menyambung logam, melainkan tentang menyusun masa depan melalui kerja keras, ketekunan, dan keberanian bermimpi.
Dari sebuah keputusan sederhana mengikuti teman memilih jurusan, Hamzah berhasil membuktikan bahwa arah hidup dapat berubah ketika kesempatan dipertemukan dengan kesungguhan. Kini, medali emas nasional menjadi saksi perjalanan seorang anak muda dari Kediri yang menyalakan harapan bagi orang tua, guru, almamater, serta generasi muda Indonesia.
Jurnalis: Anisa Fadila



