KEDIRI — Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, sebuah desa di Kabupaten Kediri menunjukkan bahwa keamanan bukan hanya tugas aparat, melainkan buah dari kepedulian dan kebersamaan masyarakat. Satkamling Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol, kini menjadi sorotan setelah dinilai layak membawa nama Jawa Timur dalam Lomba Satkamling Tingkat Nasional.
Kehadiran Kakorbinmas Baharkam Mabes Polri Irjen Pol. Mardiyono pada Senin malam (13/07) menjadi bukti perhatian besar terhadap keberhasilan warga Wonoasri dalam menjaga lingkungan. Didampingi sejumlah pejabat, di antaranya Dirbinmas Polda Jawa Timur Kombes Pol. Eko Santoso, Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim, Anggota DPRD Kabupaten Kediri Dodi Purwanto, serta Kepala Desa Wonoasri Anik Murwantini, jenderal bintang dua itu melihat langsung kehidupan Satkamling yang berjalan penuh kebersamaan.
Bukan kemewahan fasilitas yang menjadi daya tarik utama, melainkan suasana guyub, kepedulian, dan semangat gotong royong warga yang menjadi kekuatan utama. Dari laporan yang diterima, Desa Wonoasri hingga kini mampu mempertahankan kondisi keamanan dengan catatan nihil tindak kriminal.
“Satkamling ini terlihat guyub dan rukun. Menurut laporan juga nihil kriminal. Ini bagus. Menurut saya ini yang terbaik di Kediri. Mudah-mudahan bisa mewakili Jawa Timur dan ditandingkan di tingkat nasional,” ujar Irjen Pol. Mardiyono.
Ketika Warga Menjadi Garda Terdepan Menjaga Keamanan Desa
Irjen Pol. Mardiyono menegaskan bahwa keamanan lingkungan tidak akan tercipta hanya dengan kehadiran aparat kepolisian. Peran aktif masyarakat menjadi fondasi utama dalam menciptakan suasana aman, nyaman, dan kondusif.
Menurutnya, Satkamling bukan sekadar tempat berjaga pada malam hari, tetapi menjadi ruang komunikasi antara warga, aparat desa, dan kepolisian. Melalui interaksi yang intens, berbagai potensi gangguan keamanan dapat dicegah sejak dini.
Ia juga menekankan pentingnya peran Bhabinkamtibmas untuk benar-benar mengenal masyarakat di wilayah tugasnya.
“Bhabinkamtibmas minimal mendatangi tiga warga agar saling mengenal. Jangan sampai tidak kenal warganya, karena ketika terjadi suatu peristiwa, Bhabinkamtibmas menjadi garda terdepan,” jelasnya.
Kolaborasi tiga pilar antara pemerintah desa, kepolisian, dan masyarakat, menurutnya, harus terus diperkuat agar keamanan tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi budaya bersama.
Dalam kunjungannya, Irjen Pol. Mardiyono juga mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan layanan darurat Polri 110 ketika membutuhkan bantuan kepolisian.
Layanan tersebut telah terintegrasi mulai dari tingkat Polres, Polda, hingga Mabes Polri sehingga laporan masyarakat dapat segera diterima dan ditindaklanjuti.
Namun, ia menegaskan bahwa kekuatan terbesar dalam menjaga keamanan tetap berada di tangan masyarakat.
“Senjata kami adalah partisipasi warga. Selama masyarakat ikut menjaga lingkungan dan tidak melakukan tindakan kriminal, itu sudah menjadi kontribusi yang sangat besar bagi kami.”
Pesan tersebut menggambarkan bahwa keamanan sejati lahir dari hubungan harmonis antara aparat dan masyarakat.
Dari Pandemi Menuju Desa Tangguh, Kisah Panjang Gotong Royong Wonoasri
Kepala Desa Wonoasri, Anik Murwantini, mengungkapkan bahwa kekompakan masyarakat tidak muncul secara tiba-tiba. Budaya saling membantu telah tumbuh sejak masa pandemi COVID-19.
Saat banyak daerah menghadapi tantangan besar, warga Wonoasri memilih bergerak bersama. Mereka tidak hanya memperkuat keamanan lingkungan, tetapi juga membangun pelatihan masyarakat serta mengembangkan sektor UMKM untuk menjaga ketahanan ekonomi desa.
Semangat tersebut kemudian membawa Wonoasri meraih berbagai penghargaan, termasuk predikat Kampung Tangguh dari Polda Jawa Timur, Kodam, dan Pemerintah Kabupaten Kediri.
“Moto kami ‘Kediri Tangguh, Kediri Tumbuh’. Alhamdulillah sampai sekarang kondisi keamanan di desa kami tetap nihil,” ungkap Anik.
Bagi warga Wonoasri, menjaga keamanan bukan hanya tentang ronda malam, tetapi tentang membangun rasa memiliki terhadap desa tempat mereka tinggal.
Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, Satkamling Desa Wonoasri resmi diajukan untuk mengikuti Lomba Satkamling Tingkat Nasional. Nantinya, mereka akan bersaing dengan perwakilan terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Irjen Pol. Mardiyono menilai Wonoasri memiliki modal kuat untuk menjadi contoh bagi wilayah lain. Mulai dari kekompakan warga, sistem keamanan yang berjalan baik, hingga dukungan sarana dan prasarana.
“Kalau melihat situasi di sini, dukungan masyarakat serta sarana dan prasarananya, saya kira Satkamling Wonoasri layak dijadikan contoh bagi Satkamling di daerah lain,” pungkasnya.
Kini, harapan besar tertuju pada desa kecil di Kecamatan Grogol tersebut. Dengan semangat gotong royong yang terus menyala, Wonoasri bukan hanya menjaga keamanan kampungnya, tetapi juga membawa pesan bahwa persatuan warga adalah benteng paling kuat dalam menciptakan Indonesia yang aman dan damai.
jurnalis : Sigit Cahya Setyawan


