Inilah Rahasia SMAN 1 Ngadiluwih Cetak Siswa Berprestasi Nasional, Terapkan Program Double Track

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di tengah derasnya arus digital dan tantangan pendidikan yang terus berubah, SMA Negeri 1 Ngadiluwih memilih menanam akar sebelum menumbuhkan ranting. Bagi sekolah ini, prestasi bukan sekadar deretan piala atau nilai akademik, melainkan buah dari karakter yang dibangun secara konsisten melalui kedisiplinan, spiritualitas, dan pengembangan potensi peserta didik.

Berlandaskan visi “Beriman dan Bertakwa, Berprestasi, Berbudaya, Peduli Lingkungan, dan Berwawasan Global,” SMA Negeri 1 Ngadiluwih terus menunjukkan komitmennya mencetak generasi unggul yang siap bersaing, baik di tingkat nasional maupun global.

Kepala SMA Negeri 1 Ngadiluwih, Firstina Husniya Wury, S.Sos., M.Pd., menegaskan bahwa pembentukan karakter menjadi fondasi utama dalam seluruh proses pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.

“Keberhasilan siswa tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari sikap, kedisiplinan, moral, dan spiritual yang mereka miliki,” ujarnya.

Nilai-nilai tersebut dibangun melalui berbagai pembiasaan positif, seperti salat lima waktu, salat dhuha, hingga kegiatan literasi yang rutin dilaksanakan setiap Jumat. Sekolah juga memiliki program Semangat Juara yang diawali dengan salat dhuha, senam pagi, dan literasi.

Menurut Firstina, penguatan spiritual menjadi titik awal lahirnya karakter positif lainnya.

“Ketika pondasi spiritual anak kuat, maka karakter yang baik akan tumbuh dengan sendirinya,” katanya.

Komitmen membangun karakter juga diwujudkan melalui penerapan disiplin dalam penggunaan teknologi. Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, siswa diwajibkan mengumpulkan telepon seluler setiap pagi dan baru dapat mengambilnya kembali setelah jam pelajaran selesai.

Langkah tersebut dilakukan agar peserta didik lebih fokus mengikuti pembelajaran sekaligus meminimalkan distraksi selama berada di lingkungan sekolah.

Tak hanya mengandalkan pembinaan internal, SMA Negeri 1 Ngadiluwih juga melibatkan berbagai unsur eksternal, mulai dari Koramil, Kepolisian, hingga pemerintah desa dalam membentuk karakter peserta didik.

Siswa yang terlambat hingga tiga kali, misalnya, tidak langsung dikenai sanksi, melainkan mendapatkan pembinaan bersama Koramil sebagai bentuk pendidikan kedisiplinan dan tanggung jawab.

Selain itu, saat pelaksanaan upacara bendera, sekolah secara bergantian menghadirkan anggota TNI, Polri, maupun kepala desa sebagai pembina upacara guna memberikan wawasan kebangsaan, etika, dan pentingnya disiplin kepada para siswa.

“Pembentukan karakter tidak cukup dilakukan oleh sekolah saja. Kami ingin menghadirkan kolaborasi dengan berbagai pihak agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas,” jelas Firstina.

Di sisi lain, pengembangan bakat dan minat juga menjadi perhatian serius sekolah. Saat ini terdapat 19 kegiatan ekstrakurikuler yang dapat diikuti siswa, mulai dari MPK, OSIS, PMR, Pramuka, Paskibra, jurnalistik, fotografi, karawitan, futsal, bola voli, seni musik, tari tradisional, tari modern, teater, rebana, BTQ, akustik, Karya Ilmiah Remaja (KIR), Peduli Lingkungan, hingga PIK-R.

Seluruh siswa kelas X dan XI diwajibkan mengikuti sedikitnya satu kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana pengembangan potensi. Untuk meningkatkan kualitas pembinaan, sekolah juga menggandeng pelatih profesional sesuai bidang masing-masing.

Hasilnya, berbagai prestasi bergengsi berhasil diraih.

Ekstrakurikuler karawitan menjadi salah satu kebanggaan sekolah setelah sukses meraih Juara I Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Provinsi Jawa Timur 2026 pada cabang Musik Tradisi.

Prestasi serupa juga ditorehkan tim jurnalistik dan fotografi yang berhasil menjadi Juara I FLS3N Tingkat Provinsi Jawa Timur 2026, sekaligus mewakili Kabupaten Kediri di tingkat provinsi.

Tak berhenti di sana, siswa SMA Negeri 1 Ngadiluwih juga meraih Juara Harapan I cabang Film Pendek, Juara Harapan II cabang Penulisan Cerpen, serta Juara Harapan II cabang Kriya melalui karya kreatif berbahan dasar kaleng bekas dalam ajang FLS3N 2026.

Di bidang olahraga, para atlet sekolah turut mengharumkan nama almamater dengan membawa pulang Juara I dan Juara III pada ajang Kick Boxing Piala Wali Kota Cup Surabaya.

Sementara itu, prestasi membanggakan juga lahir dari bidang hairdressing. Salah seorang siswa berhasil meraih Juara I dalam kompetisi hairdressing, bahkan mendapatkan kesempatan tampil di salah satu stasiun televisi nasional dan dipercaya menjadi brand ambassador sejumlah produk di bidang hairstyling.

Bagi Firstina, setiap kegiatan ekstrakurikuler harus memiliki orientasi prestasi sehingga mampu menjadi bekal peserta didik untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi.

“Saya selalu mengingatkan para pembina bahwa ekstrakurikuler bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, tetapi harus memiliki target mengikuti berbagai kompetisi yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional. Harapannya siswa mampu meraih prestasi mulai tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional sehingga sertifikat yang diperoleh dapat dimanfaatkan saat mendaftar ke perguruan tinggi negeri,” ujarnya.

Sebagai bentuk kesiapan menghadapi dunia kerja, SMA Negeri 1 Ngadiluwih juga menjalankan Program Double Track bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bagi siswa kelas X.

Melalui program tersebut, peserta didik memperoleh pelatihan keterampilan seperti tata rias pengantin berhijab serta tata boga makanan dan minuman. Seluruh peserta akan memperoleh sertifikat kompetensi setelah menyelesaikan pelatihan.

“Kami memahami tidak semua lulusan akan langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Karena itu, Program Double Track menjadi bekal agar mereka memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja maupun berwirausaha setelah lulus,” tutur Firstina.

Menutup wawancara, ia mengajak seluruh peserta didik memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijaksana. Menurutnya, telepon genggam seharusnya menjadi sarana belajar, memperluas wawasan, meningkatkan literasi digital, sekaligus memperkuat penguasaan bahasa asing sebagai bekal menghadapi persaingan global.

“Teknologi adalah kebutuhan di era sekarang. Yang terpenting adalah bagaimana anak-anak mampu menggunakannya untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia pendidikan maupun dunia kerja,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Radistiya Sadam Inzagi

✓ Link berhasil disalin