KEDIRI – Di balik riuhnya gugatan class action yang kini membelit Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pojok, tersimpan kisah-kisah sunyi tentang mereka yang menggantungkan hidup di antara gunungan sampah. Bagi Nanang Setyawan, TPA bukan sekadar lokasi pembuangan limbah, melainkan ruang tempat harapan keluarganya terus dipungut, sedikit demi sedikit, selama hampir tiga dekade.
Hampir 30 tahun Nanang menekuni profesi sebagai pemulung di TPA Pojok. Pekerjaan itu bukan pilihan yang datang secara tiba-tiba, melainkan warisan keluarga yang telah dijalani secara turun-temurun. Bersama istrinya, setiap hari ia menyusuri tumpukan sampah, memilah barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomi untuk dijual kembali.
Penghasilannya jauh dari kata pasti. Barang hasil memulung biasanya baru dijual setelah terkumpul selama satu hingga dua pekan. Dari setiap penjualan, Nanang memperoleh sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, nominal yang kini semakin sulit memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Kalau dulu masih cukup, sekarang sudah tidak cukup. Jadi pagi mencari, siang pulang, sore kembali lagi bekerja,” ujar Nanang.
Kenaikan biaya hidup memaksanya menghabiskan hampir seluruh waktu dari pagi hingga sore di kawasan TPA. Anak pertamanya kini telah bekerja, sedangkan anak keduanya masih menempuh pendidikan sehingga kebutuhan keluarga tetap menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi setiap hari.
Menurut Nanang, salah satu kendala terbesar muncul ketika truk pengangkut sampah tidak dapat membuang muatan ke TPA. Kondisi tersebut membuat pasokan sampah baru terhenti sehingga para pemulung kehilangan sumber utama penghasilan mereka.
Meski setiap hari bekerja di lingkungan yang identik dengan bau menyengat dan tumpukan sampah, Nanang mengaku belum pernah mengalami gangguan kesehatan yang serius. Ia berusaha menjaga kondisi tubuh dengan beristirahat cukup serta membersihkan diri setiap kali pulang dari lokasi sebelum kembali beraktivitas.
Di tengah proses gugatan class action terhadap TPA Pojok yang kini memasuki tahap pemeriksaan setempat oleh majelis hakim, Nanang berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan pengelolaan sampah, tetapi juga melindungi keberlangsungan hidup para pemulung yang selama puluhan tahun bergantung pada aktivitas di TPA.
Bagi Nanang, gunungan sampah bukan sekadar tumpukan limbah yang dipandang sebelah mata. Di sanalah ia menemukan penghidupan, membesarkan keluarga, dan menggantungkan harapan agar esok tetap ada rezeki yang bisa dibawa pulang.
jurnalis : Navima Aulya Sava



