Dulu Bermimpi Jadi Dokter, Firstina Husniya Sosok Kepala SMAN 1 Ngadiluwih Pilih “Menyembuhkan” Masa Depan Ribuan Anak Bangsa

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Tidak semua mimpi masa kecil berakhir seperti yang dibayangkan. Ada yang berubah arah, namun justru menemukan makna yang lebih besar. Itulah kisah Firstina Husniya Wury, S.Sos., M.Pd., perempuan kelahiran Desa Maron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, yang pernah bercita-cita mengenakan jas putih sebagai dokter, tetapi akhirnya memilih mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan.

Bagi Firstina, guru dan dokter memiliki kemuliaan yang sama. Jika dokter berjuang menyembuhkan tubuh manusia, maka guru bertugas menyembuhkan kebodohan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Keyakinan itulah yang kini ia bawa sebagai Kepala SMAN 1 Ngadiluwih. Dengan semangat tersebut, ia bertekad membangun sekolah yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga dikenal sebagai sekolah yang berbudaya.

Perjalanan kariernya dimulai setelah menyelesaikan pendidikan S1 Jurusan Sosiologi Universitas Airlangga Surabaya pada 2004. Sembari mengikuti Program Akta IV di IKIP Surabaya, ia mengawali pengabdian sebagai guru honorer di SMA Al-Falah Ketintang Surabaya.

Dua tahun kemudian, Firstina lolos sebagai aparatur sipil negara (ASN) dan dipercaya mengajar mata pelajaran Sosiologi di SMAN 1 Ngrogol. Hampir dua dekade mengabdi di sekolah tersebut menjadi bekal berharga sebelum akhirnya dipercaya memimpin SMAN 1 Ngadiluwih.

Meski sejak kecil tidak pernah bercita-cita menjadi guru, lingkungan keluarga perlahan membentuk jalan hidupnya. Kedua orang tuanya sama-sama berprofesi sebagai pendidik, hingga akhirnya ia menyadari bahwa semangat mengajar seolah telah mengalir dalam darahnya.

“Bapak dan ibu saya guru. Ternyata darah guru itu juga mengalir,” ujar Firstina.

Keputusan menjadi guru juga bukan tanpa ujian. Saat resmi menjadi ASN, penghasilan yang diterimanya justru lebih kecil dibanding ketika masih menjadi guru honorer di Surabaya. Namun, kondisi tersebut tidak pernah membuatnya menyesali pilihan hidupnya.

Menurutnya, nilai sebuah profesi tidak semata diukur dari besarnya penghasilan, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama.

“Profesi guru tidak kalah dengan profesi dokter. Kalau dokter menyembuhkan penyakit, guru mencerdaskan anak bangsa,” katanya.

Pengalaman mendampingi ribuan siswa selama bertahun-tahun membuat Firstina memahami bahwa setiap anak memiliki karakter, bakat, dan potensi yang berbeda. Karena itu, ia tidak ingin memaksakan SMAN 1 Ngadiluwih unggul di seluruh bidang, melainkan mengembangkan kekuatan yang telah dimiliki sekolah.

Salah satu potensi terbesar yang dilihatnya adalah seni dan budaya. Berbagai kegiatan seperti karawitan, fotografi, jurnalistik, hingga seni pertunjukan terus didorong agar menjadi identitas sekolah.

“Harapannya, SMAN 1 Ngadiluwih dikenal sebagai sekolah yang berbudaya,” ujarnya.

Di sisi lain, ia juga melihat tantangan yang kerap dihadapi para siswa, yakni munculnya rasa minder karena berasal dari sekolah yang berada di wilayah pinggiran.

Untuk menghapus stigma tersebut, Firstina mengajak seluruh guru membangun kepercayaan diri peserta didik melalui pembelajaran yang aktif, membiasakan siswa berani tampil di depan kelas, serta mendorong mereka mengikuti berbagai perlombaan dan kompetisi.

“Walaupun dari sekolah pinggiran, tetap punya potensi dan bisa berprestasi,” tegasnya.

Komitmennya tidak berhenti pada peningkatan prestasi akademik. Pendidikan karakter juga menjadi perhatian utama. Berbagai program dijalankan secara konsisten, mulai dari kegiatan Semangat Juara setiap Jumat yang diisi salat berjamaah, literasi, dan senam bersama, pembatasan penggunaan telepon genggam selama proses belajar mengajar, hingga kolaborasi dengan Koramil untuk menanamkan disiplin kepada siswa.

Bagi Firstina, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mencetak lulusan yang cerdas, tetapi juga membentuk manusia yang berkarakter. Sebab, dari ruang-ruang kelas itulah masa depan bangsa perlahan ditulis, satu mimpi demi satu mimpi, oleh tangan-tangan para guru yang memilih mengabdi dalam sunyi.

jurnalis : Anisa Fadila
✓ Link berhasil disalin