foto : Anisa Fadila

Sport Tourism Digenjot, KONI Kediri Hitung Potensi Ekonomi hingga Rp146,8 Miliar

KEDIRI – Isu anggaran cabang olahraga (cabor) mencuat dalam Focus Group Discussion (FGD) Sport Tourism yang digelar KONI Kota Kediri di Ruang Joyoboyo, Kamis (30/4). Forum bertema “Sinergi Prestasi Olahraga dan Sport Tourism untuk Daya Saing Kota Kediri” ini menjadi titik awal penyelarasan strategi menuju Porprov Jawa Timur 2029.

FGD tersebut mempertemukan pemerintah kota, KONI, dan pengurus cabor dalam satu forum dialog. Selain membahas penguatan prestasi atlet, diskusi juga menyoroti arah pengembangan sport tourism sebagai penggerak ekonomi daerah.

Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menegaskan bahwa sport tourism kini menjadi sektor strategis. Tidak hanya berdampak pada peningkatan prestasi olahraga, tetapi juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penguatan sektor pariwisata.

Menurutnya, kesiapan menjadi tuan rumah Porprov 2029 harus dirancang secara komprehensif. Mulai dari infrastruktur olahraga, akses transportasi, akomodasi, hingga kualitas layanan publik.

“Porprov adalah event besar yang menghadirkan ribuan atlet dan pengunjung. Dampaknya signifikan, baik bagi citra daerah maupun percepatan pembangunan,” ujarnya.

Dari sisi prestasi, Wakil Ketua Umum I KONI Kota Kediri, Dedy Setiawan Priambodo, menyebut konsistensi Kediri berada di lima besar Porprov Jawa Timur menjadi modal penting. Ia menilai efektivitas atlet cukup tinggi, meski jumlah cabor yang diikuti relatif terbatas.

KONI juga mulai mendorong sport tourism melalui berbagai event olahraga, seperti taekwondo, wushu, tenis lapangan, sepak bola, hingga padel yang melibatkan peserta dari luar daerah.

Sementara itu, Bendahara KONI Kota Kediri, Merza Yona Frangky Rusdikari, mengungkapkan potensi ekonomi Porprov sangat besar. Berdasarkan kajian, total perputaran ekonomi diperkirakan mencapai Rp146,8 miliar dengan multiplier effect 2,5.

“Dampaknya meluas ke UMKM, perhotelan, transportasi, hingga sektor logistik,” jelasnya.

Pemerataan Anggaran Olahraga

foto : Anisa Fadila

Ketua panitia FGD, Rino Hayyu Setyo, menambahkan bahwa wacana Kediri sebagai tuan rumah Porprov 2029 berangkat dari evaluasi penyelenggaraan sebelumnya di Malang. Saat ini, Kediri masuk dalam empat kandidat bersama Madura Raya, Probolinggo Raya, dan Madiun Raya.

Dalam sesi diskusi, sejumlah masukan kritis mengemuka. Ketua cabor biliar, Ricky Dio Febrian, menilai forum seharusnya lebih fokus pada penguatan prestasi atlet dibanding sekadar pembahasan teknis anggaran.

“Siapkan atlet dan prestasinya. Kalau itu matang, target juara umum bukan hal mustahil,” tegasnya.

Ketua Askot PSSI Kota Kediri, Tommy Ari Wibowo, melihat Porprov sebagai peluang besar untuk menggerakkan ekonomi daerah, terutama dari cabang sepak bola yang melibatkan banyak peserta.

Senada, Ketua Asosiasi Futsal Kota Kediri, Arifudin Prabowo, menekankan pentingnya pendataan atlet secara sistematis guna menghindari konflik perebutan pemain antar cabor serta memperkuat pembinaan jangka panjang.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, KONI Kota Kediri menegaskan bahwa FGD ini merupakan tahap awal penjajakan kesiapan sebagai tuan rumah Porprov 2029. Penyamaan persepsi lintas sektor menjadi kunci sebelum pengajuan resmi dilakukan melalui pemerintah daerah.

Ketua Umum KONI Kota Kediri, Eko Agus Koko, memastikan pembinaan atlet terus berjalan. Program Puslatkot hingga tes parameter telah dilakukan sebagai bagian dari persiapan jangka panjang.

“Kami optimistis, pada 2027 akan ada peningkatan signifikan perolehan medali,” ujarnya.

Dari forum ini, sejumlah catatan strategis mengemuka. Di antaranya peningkatan dan pemerataan anggaran olahraga, penguatan pembinaan atlet sejak dini, serta sinergi lintas sektor dalam pengembangan sport tourism.

Seluruh pihak sepakat, ambisi Kediri menjadi tuan rumah Porprov 2029 harus diiringi kesiapan menyeluruh—mulai dari prestasi, infrastruktur, hingga dampak ekonomi yang berkelanjutan.

jurnalis : Anisa Fadila