KEDIRI — Satu kalimat dari seorang penghayat kepercayaan itu terasa menohok: “Dulu kami seperti tidak terlihat.” Agus Sujiono, perwakilan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Kabupaten Kediri, mengucapkannya dengan nada lega — bukan keluhan. Di hadapannya, ratusan tokoh lintas agama duduk berdampingan dalam satu ruangan, berdoa untuk satu tujuan yang sama: Kabupaten Kediri yang lebih baik.
Itulah potret yang tersaji di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Selasa (29/04/2026), saat Kabupaten Kediri merayakan hari jadinya yang ke-1.222.
Forum Doa Bersama Lintas Agama yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kediri ini bukan agenda seremonial biasa. Di dalamnya hadir tokoh Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan — sebuah pemandangan yang menurut banyak pihak menjadi cerminan nyata wajah toleransi di Kota Tahu itu.
Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa yang mewakili Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramanan dalam sambutannya menegaskan, peringatan hari jadi mestinya lebih dari sekadar pesta tahunan.
“Keberagaman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kabupaten Kediri. Perbedaan agama, budaya, dan keyakinan bukanlah penghalang — melainkan kekuatan besar yang harus kita jaga bersama,” ujarnya di hadapan para tamu undangan yang juga mencakup anggota DPRD, Wakapolres, dan Kasdim 0809 Kediri.
Ketua FKUB Kabupaten Kediri, Misbahul Munir, menyebut kegiatan ini sebagai penyeimbang antara kerja nyata pembangunan fisik dan penguatan batin kolektif.
“Secara jasmani kita membangun, tetapi secara rohani kita juga harus memperkuat kebersamaan. Ini penting agar Kabupaten Kediri semakin baik ke depan,” katanya.
Yang menarik, Misbahul tak menampik adanya gesekan kecil di tengah masyarakat. Namun ia menegaskan, semua bisa diselesaikan tanpa eskalasi.
“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada konflik besar. Kalau pun ada gesekan kecil, bisa diselesaikan dengan baik. Ini yang harus terus kita pertahankan,” tegasnya.
Momen paling mengharukan justru datang dari sudut yang kerap terlupakan.
Agus Sujiono dari MLKI mengaku kehadiran komunitas penghayat kepercayaan dalam forum resmi seperti ini bukan hal yang dulu bisa mereka bayangkan.
“Dulu kami seperti tidak terlihat, tapi sekarang sudah mulai diperhatikan. Ini perkembangan yang baik,” ungkapnya.
Namun di balik rasa syukur itu, ada harapan yang ia titipkan kepada pemerintah daerah. Ia meminta agar penghayat kepercayaan mendapatkan ruang dan dukungan yang lebih konkret dan setara dengan kelompok beragama lainnya.
“Kami ingin bersama-sama membangun Kediri, tetapi juga berharap mendapat perhatian seperti yang lain,” imbuhnya.
Acara ditutup dengan doa yang dipanjatkan secara bergantian oleh para tokoh agama dan penghayat kepercayaan — sebuah ritual sederhana yang, dalam konteks keberagaman Indonesia hari ini, justru terasa luar biasa.
Satu harapan menggantung di udara Convention Hall Simpang Lima Gumul: bahwa di usianya yang ke-1.222, Kabupaten Kediri tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga tetap harmonis di tengah perbedaan yang selama berabad-abad menjadi identitasnya.
Dewi Maria Ulfa menutupnya dengan kalimat yang optimistis.
“Dengan semangat gotong royong, persatuan, dan kepedulian sosial, kita optimistis mampu menghadapi berbagai tantangan ke depan,”









