foto : Anisa Fadila

Kecelakaan Beruntun di Simpang Empat Muning Lirboyo: Para Pihak Sepakat Tempuh Jalan Damai

Bagikan Berita :

KEDIRI — Pagi itu, Jumat (23/1), menjadi hari yang tak pernah dibayangkan Tri Hartono (33). Rutinitasnya sebagai sopir bus antarkota berubah drastis setelah kecelakaan beruntun terjadi di Simpang Empat Muning, Lirboyo, Kota Kediri. Peristiwa tersebut bukan hanya meninggalkan kerugian materi hingga puluhan juta rupiah, tetapi juga jejak emosional yang masih membekas hingga kini.

Lebih dari satu dekade menggantungkan hidup dari balik kemudi, warga Desa Ngantru, Trenggalek, itu mengaku kejadian tersebut adalah yang pertama dalam kariernya. “Sebelumnya aman-aman saja,” ujarnya lirih.

Kini, langkahnya tak lagi sekadar menapaki jalur Bungurasih–Trenggalek yang biasa ia lalui. Kasus yang menjeratnya telah memasuki tahap II dan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Kediri. Statusnya sebagai tersangka membuatnya harus menjalani wajib lapor dua kali dalam sepekan, meski tidak ditahan karena ancaman hukuman di bawah lima tahun.

Jaksa Penuntut Umum, Ichwan Kabalmay, menyebut perkara ini tetap diproses sesuai hukum yang berlaku. Namun, di balik proses tersebut, ruang kemanusiaan tetap terbuka. Seluruh pihak yang terlibat, termasuk para korban, telah sepakat menempuh jalan damai.

Kesepakatan itu bukan sekadar formalitas. Biaya perbaikan kendaraan hingga santunan korban diselesaikan bersama. Bahkan, kerusakan rumah warga yang terdampak juga telah diperbaiki. Total kerugian yang ditaksir mencapai Rp80 juta ditanggung bersama oleh Tri dan perusahaan otobus tempatnya bekerja, dengan sebagian diganti melalui pemotongan gaji.

“Semua akan kami pastikan tanpa paksaan,” kata Ichwan, menegaskan bahwa kejaksaan tetap memverifikasi kesepakatan tersebut agar benar-benar lahir dari kesadaran bersama.

Bagi Tri, ini bukan sekadar persoalan hukum. Ini tentang tanggung jawab—dan pelajaran hidup. Ia mengaku kini masih diliburkan dari pekerjaannya, tanpa kepastian kapan bisa kembali menarik setir.

Penghasilannya yang bergantung pada jumlah penumpang, berkisar Rp110 ribu hingga Rp200 ribu per perjalanan pulang-pergi, kini terhenti. Namun, di tengah ketidakpastian itu, ada tekad yang ia pegang erat.

“Ke depan saya akan lebih hati-hati. Tidak akan ‘ngeblong’ lagi,” ucapnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kecelakaan lalu lintas, selalu ada cerita manusia—tentang kelalaian, tanggung jawab, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :