KEDIRI — Dugaan pemalsuan tiket pertandingan antara Persik Kediri melawan Persib Bandung terus bergulir dan kini memasuki ranah penyelidikan kepolisian. Panitia pelaksana (Panpel) Persik Kediri dikabarkan telah dimintai keterangan oleh Satreskrim Polres Kediri Kota terkait dugaan pemalsuan tiket berbasis barcode.
Ketua Panpel Persik Kediri, Tri Widodo, membenarkan bahwa dirinya telah memenuhi panggilan penyidik usai pertandingan berlangsung.
“Sudah, sudah diperiksa Selasa lalu,” ujar Tri Widodo saat dikonfirmasi, Senin (12/01).
Sementara itu, beredar kabar bahwa pemanggilan juga dilakukan terhadap pihak manajemen Persik Kediri. Namun, Manajer Persik Kediri Syahid Nur Ichsan membantah informasi tersebut.
“Kurang paham, Mas. Sepertinya teman-teman panpel yang dipanggil,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Dalam laga tersebut, Panpel Persik Kediri diketahui hanya menjual sekitar 3.000 tiket. Namun, fakta di lapangan menunjukkan jumlah penonton yang masuk ke stadion melebihi angka tersebut.
Sebelumnya, pada Senin (05/01), Tri Widodo telah mengakui adanya praktik pemalsuan tiket yang digunakan oleh ratusan orang untuk memaksa masuk stadion. Ia menyebut persoalan bermula dari sistem distribusi tiket yang sepenuhnya diserahkan kepada komunitas suporter.
“Yang bermasalah ini tiketing. Semua kami serahkan ke komunitas. Kami juga tidak tahu kenapa bisa ratusan suporter Persib datang,” ungkapnya kala itu.
Tri Widodo menambahkan, persoalan serupa bukan kali pertama terjadi. Pada laga sebelumnya saat Persik Kediri menjamu Persis Solo, panitia juga menemukan indikasi penjualan tiket kepada pendukung tim lawan.
Bahkan, Panpel sempat memergoki oknum dari komunitas suporter yang kedapatan menjual tiket secara ilegal.
“Ada anggota komunitas yang ketahuan menjual tiket,” tegasnya.
Berdasarkan hasil evaluasi awal, tiket palsu tersebut diduga berasal dari file digital berbentuk PDF yang dicetak berulang kali. Akibatnya, barcode pada tiket tidak dapat dipindai saat pemeriksaan di pintu masuk stadion.
“Mereka membawa tiket lalu memaksa masuk. Tiket palsu itu kemungkinan dari file PDF yang dicetak berkali-kali, sehingga tidak bisa discan,” jelas Tri Widodo.
Ia menegaskan, kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi besar bagi Panpel Persik Kediri, khususnya dalam penerapan sistem tiket berbasis barcode ke depan. Menurutnya, laga-laga besar selalu memiliki potensi kerawanan jika pengawasan tiket tidak dilakukan secara ketat.
Hingga berita ini diturunkan, Kasatreskrim Polres Kediri Kota, AKP Cipto Dwi Leksana, belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan kasus tersebut.









