KEDIRI – Tidak semua perjalanan menuju mimpi berjalan lurus tanpa hambatan. Ada yang harus melewati jalan panjang, menahan lelah, bahkan menunda harapan demi bertahan menghadapi keadaan. Kisah itu pula yang dialami Ana Dwi Sulistyowati.
Perempuan asal Jongbiru Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, itu pernah berada di titik ketika cita-citanya menjadi seorang guru harus tertunda akibat keterbatasan ekonomi keluarga. Namun, waktu tidak pernah benar-benar memadamkan mimpinya. Justru dari perjuangan panjang itulah, langkahnya kini membawanya dipercaya menjadi Kepala SMAN 1 Kandat sejak Juni 2026.
Penugasan tersebut menjadi babak baru bagi Ana setelah hampir dua dekade mengabdikan diri sebagai pendidik.
Lahir pada 1975 sebagai anak kedua dari empat bersaudara, Ana tumbuh dengan impian sederhana namun kuat: berdiri di depan kelas dan berbagi ilmu kepada generasi muda.
Sejak duduk di bangku sekolah, keinginannya menjadi guru telah tertanam dalam dirinya. Ia menyelesaikan pendidikan di SMP Gampengrejo dan melanjutkan ke SMAN 1 Kediri. Namun, selepas lulus SMA pada 1993, jalan menuju bangku perguruan tinggi belum bisa langsung ditempuh.
Kondisi ekonomi keluarga yang terdampak krisis saat itu membuat Ana harus menunda langkahnya mengejar pendidikan sebagai seorang guru.
Alih-alih menyerah, ia memilih mencari jalan lain. Ana bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Di sela kesibukannya, ia tetap menjaga kedekatannya dengan dunia pendidikan melalui kegiatan mengajar les privat bagi anak-anak di sekitar rumah.
Baginya, mimpi yang tertunda bukan berarti mimpi yang berakhir.
Bekerja di Siang Hari, Mengejar Ilmu di Bangku Kuliah
Harapan Ana kembali menemukan jalannya ketika Universitas Negeri PGRI (UNP) Kediri membuka kelas sore. Kesempatan tersebut menjadi pintu baginya untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan.
Sejak saat itu, hari-harinya dipenuhi rutinitas panjang. Pagi hingga siang bekerja, sore hingga malam mengikuti perkuliahan. Energi dan waktu harus benar-benar ia kelola agar dua tanggung jawab tersebut dapat berjalan beriringan.
“Saya kuliahnya itu sambil kerja. Memang capek, tetapi kita harus pintar-pintar memanage waktu,” kenang Ana.
Sebagian besar biaya pendidikan pun ia perjuangkan dari hasil kerja sendiri. Tidak jarang rasa lelah datang menghampiri, tetapi tekad yang besar membuatnya terus melangkah.
Menurut Ana, seseorang yang memiliki tujuan jelas dan motivasi kuat akan menemukan cara untuk menyelesaikan setiap tantangan.
“Kalau seseorang memiliki motivasi yang besar dan bersungguh-sungguh, semuanya bisa dijalani,” ujarnya.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah hasil. Ana berhasil menyelesaikan pendidikan dan tercatat sebagai mahasiswa terbaik Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri PGRI Kediri.
Prestasi tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Setelah wisuda pada 2005, Ana dipercaya menjadi dosen Bahasa Inggris tidak tetap di kampus tempat ia menimba ilmu.
Pada tahun yang sama, ia mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan berhasil lolos. Sejak 2006, Ana resmi menjadi guru Bahasa Inggris di SMAN 7 Kediri.
Dua Dekade Mengajar, Kini Mengemban Amanah Memimpin Sekolah
Hampir 20 tahun perjalanan Ana sebagai guru tidak hanya diisi dengan aktivitas mengajar di kelas. Ia juga dipercaya memegang berbagai tanggung jawab strategis, mulai dari Wakil Kepala Sekolah bidang Hubungan Masyarakat hingga Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum.
Bagi Ana, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan yang dijalankan setiap hari. Profesi tersebut merupakan panggilan hati untuk membentuk masa depan generasi muda.
Ia mengaku, kebahagiaan terbesar selama menjadi pendidik bukan berasal dari jabatan maupun penghargaan, melainkan ketika melihat peserta didik menikmati proses belajar.
“Saat anak-anak senang mengikuti pelajaran yang kita berikan, itu menjadi penghargaan terbesar bagi seorang guru,” katanya.
Perjalanan pengabdian itu kemudian membawanya mengikuti Program Guru Penggerak Angkatan 7 pada 2022. Program tersebut memberikan tambahan pengalaman dan kompetensi kepemimpinan yang menjadi bekal baginya untuk mengikuti seleksi calon kepala sekolah.
Hingga akhirnya, kepercayaan itu datang. Ana resmi dipercaya memimpin SMAN 1 Kandat sejak Juni 2026.
Bagi Ana, jabatan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi sebuah amanah besar untuk membawa sekolah semakin berkembang.
Fokus pada Karakter Siswa di Tengah Perubahan Zaman
Memulai tugas sebagai kepala sekolah, Ana memiliki visi utama: membangun peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membawa tantangan baru bagi generasi muda. Sekolah tidak cukup hanya mencetak siswa berprestasi dalam bidang akademik, tetapi juga harus membangun kemampuan berpikir kritis dan nilai moral.
Peserta didik perlu memiliki kemampuan memilah informasi, memahami lingkungan sekitar, serta menentukan pilihan yang tepat di tengah berbagai pengaruh zaman digital.
“Kalau kesadaran itu tumbuh dari dalam diri mereka sendiri, hasilnya akan jauh lebih optimal,” tutur Ana.
Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Peran keluarga dan masyarakat juga sangat penting karena rumah merupakan tempat pertama seorang anak belajar tentang nilai kehidupan.
Membawa SMAN 1 Kandat Menuju Prestasi Lebih Tinggi
Dalam kepemimpinannya, Ana mulai menyiapkan sejumlah langkah pengembangan sekolah. Salah satunya dengan mengoptimalkan program ketahanan pangan yang menjadi salah satu prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Timur sesuai dengan potensi yang dimiliki sekolah.
Selain itu, ia juga berencana melakukan evaluasi terhadap program Smart Class agar benar-benar mampu mendukung lahirnya peserta didik yang kompetitif dan berprestasi.
Meski masih dalam tahap mengenal lingkungan baru, Ana melihat SMAN 1 Kandat memiliki banyak modal untuk terus berkembang.
Prestasi siswa dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat provinsi, dukungan masyarakat, serta berbagai program sekolah yang telah berjalan menjadi kekuatan yang ingin terus dikembangkan.
Salah satu harapan besarnya adalah semakin banyak lulusan SMAN 1 Kandat yang mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan meraih masa depan yang lebih baik.
Pesan Ana: Jangan Biarkan Keterbatasan Menghentikan Langkah
Pengalaman hidupnya yang pernah bekerja sambil kuliah menjadi cerita yang selalu ia bagikan kepada peserta didik.
Ana ingin para siswa memahami bahwa keadaan sulit bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Setiap orang memiliki kesempatan untuk mencapai tujuan selama mau berusaha, disiplin, dan tidak menyerah.
Perjalanan hidup Ana menjadi bukti bahwa mimpi memang terkadang harus menunggu waktu yang tepat. Namun, selama seseorang tetap menjaga harapan dan terus berjuang, jalan menuju cita-cita akan selalu terbuka.
Dari seorang perempuan yang pernah menunda kuliah karena keterbatasan ekonomi, kini Ana berdiri sebagai pemimpin sekolah. Kisahnya menjadi pengingat bahwa perjuangan yang dilakukan dengan ketekunan pada akhirnya akan menemukan hasil terbaik.
Jurnalis: Anisa Fadila



