KEDIRI – Menjelang datangnya tahun ajaran baru, geliat usaha konveksi dan penjualan seragam sekolah di Kota Kediri mulai terasa. Suara mesin jahit yang berpacu sejak pagi hingga sore menjadi tanda bahwa musim penerimaan peserta didik baru membawa angin segar bagi para pelaku usaha pakaian.
Permintaan seragam sekolah dari berbagai jenjang pendidikan meningkat tajam. Mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA), termasuk madrasah seperti MTs dan MAN, para penjahit lokal mulai disibukkan dengan antrean pesanan pelanggan.
Meski harga sejumlah bahan produksi mengalami kenaikan, para pelaku usaha memilih melakukan penyesuaian secara terbatas. Mereka berupaya menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan kemampuan masyarakat agar seragam berkualitas tetap dapat dijangkau.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan berkah musim tahun ajaran baru adalah Siti Rohmah (40), pemilik Rumah Jahit Aila Ngronggo. Ketertarikannya pada dunia tata busana tumbuh sejak menempuh pendidikan di SMKN 3 Kediri jurusan Tata Busana.
Selepas menyelesaikan pendidikan, Siti memperdalam pengalamannya dengan bekerja di Rumah Jahit Suminar. Di sela pekerjaannya, ia mulai menerima pesanan jahitan dari rumah hingga akhirnya memutuskan membangun usaha sendiri setelah menikah.
Perjalanan panjang tersebut mengantarkannya mendirikan galeri konveksi pada 2023. Kini, usaha yang dirintisnya telah berkembang dengan dukungan tiga orang pekerja serta membuka kesempatan bagi siswa untuk menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL).
“Kalau menjelang tahun ajaran baru memang pesanan naik drastis. Hampir setiap hari ada pesanan seragam sekolah dari berbagai jenjang,” ujar Siti.
Lonjakan permintaan membuat aktivitas di rumah jahitnya semakin padat. Pesanan datang silih berganti, mulai dari seragam putra hingga seragam putri dengan berbagai ukuran dan model.
Untuk jasa jahit, Siti memasang tarif mulai Rp100 ribu per set untuk ukuran TK. Harga tersebut menyesuaikan ukuran, tingkat kesulitan, serta model pakaian yang diinginkan pelanggan. Selain seragam sekolah, ia juga menerima pesanan gamis, seragam keluarga, hingga berbagai jenis pakaian lainnya.
Namun, di balik meningkatnya permintaan, tantangan tetap harus dihadapi. Kenaikan harga benang, resleting, hingga kemasan plastik membuat biaya produksi ikut bergerak naik. Meski demikian, Siti memilih menaikkan tarif secara perlahan agar pelanggan tetap merasa nyaman.
Dengan bantuan tiga orang tim, satu set seragam dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu hari. Dalam kondisi normal, rumah jahitnya mampu menghasilkan empat hingga lima set seragam setiap hari.
Ketika musim pesanan mencapai puncaknya, Siti harus mengatur prioritas pekerjaan. Layanan jahit baru menjadi fokus utama dibandingkan jasa permak pakaian agar seluruh pesanan pelanggan dapat selesai sesuai waktu yang dijanjikan.
“Kendalanya lebih ke waktu karena pesanan sangat padat. Kalau bahan baku tidak ada masalah karena sudah punya pemasok langganan,” katanya.
Produksi Sendiri Jadi Kunci Menjaga Kualitas Seragam
Kisah serupa juga dirasakan Monika Sukawati (42), pemilik Toko Seragam Lumayan 2. Usaha tersebut merupakan bisnis keluarga yang telah dirintis oleh sang ayah dan kemudian dikembangkan Monika sejak 2012.
Kini, usaha tersebut telah memiliki dua cabang yang berada di kawasan utara Stasiun Kediri dan Ngronggo, dengan dukungan tujuh orang karyawan.
Berbeda dengan sebagian penjual seragam yang mengambil produk dari pihak lain, Monika memilih memproduksi sendiri seluruh seragam yang dijual melalui konveksi miliknya. Strategi tersebut membuatnya lebih mudah mengontrol kualitas bahan, ukuran, serta hasil akhir pakaian.
Menurut Monika, setiap musim penerimaan siswa baru selalu menjadi momentum peningkatan penjualan. Pelanggan yang datang berasal dari berbagai tingkat pendidikan, terutama SD hingga SMA.
“Hampir setiap musim penerimaan siswa baru penjualan selalu naik. Karena produksi sendiri, pelanggan juga bisa memesan ukuran khusus sesuai kebutuhan,” tuturnya.
Untuk harga, seragam ukuran SD dijual mulai dari kisaran di bawah Rp150 ribu, sedangkan ukuran besar untuk tingkat SMA berada di sekitar Rp250 ribu. Tahun ini, harga mengalami sedikit penyesuaian akibat meningkatnya biaya produksi.
Meski ada kenaikan, Monika memastikan perubahan harga tetap dilakukan secara wajar. Baginya, menjaga kualitas bahan dan memberikan harga yang masuk akal menjadi prioritas utama agar pelanggan tetap mendapatkan produk terbaik.
“Kenaikannya sedikit saja. Yang penting kualitas bahan tetap bagus dan harganya masih bisa dijangkau konsumen,” pungkasnya.
Di tengah perubahan harga bahan baku dan persaingan usaha yang semakin ketat, para pelaku konveksi di Kediri tetap optimistis. Bagi mereka, setiap jahitan bukan sekadar menyatukan kain, tetapi juga merangkai harapan untuk menyambut langkah baru para siswa menuju masa depan.
Jurnalis: Radistiya Sadam Inzagi Virgiawan



