Kekerasan, Putus Sekolah hingga Ancaman Bunuh Diri Fakta Miris Terungkap saat Digelar Konggres Anak di Kediri

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di balik senyum yang menghiasi wajah anak-anak, tak sedikit kisah pilu yang masih tersembunyi. Ada yang kehilangan rasa aman akibat kekerasan, ada yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena himpitan ekonomi, hingga mereka yang harus tumbuh di lingkungan yang belum sepenuhnya sehat. Berbagai kenyataan itu mengemuka dalam Kongres Anak Kota Kediri 2026 bertajuk “Nararasena Rajut Suara Wujudkan Makna” yang digelar di Ruang Joyoboyo, Balai Kota Kediri, Selasa (21/7).

Forum tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan langsung pengalaman, gagasan, dan harapan kepada Pemerintah Kota Kediri. Aspirasi yang dihimpun diharapkan tidak berhenti sebagai catatan semata, tetapi menjadi salah satu rujukan dalam penyusunan kebijakan yang semakin berpihak kepada pemenuhan hak-hak anak.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menegaskan bahwa anak bukan hanya penerima manfaat pembangunan, melainkan juga subjek yang memiliki hak untuk didengar.

“Forum ini merupakan wadah bagi adik-adik untuk menyampaikan suara, gagasan, dan harapan kepada Pemerintah Kota maupun kepada para guru,” ujar Vinanda.

Menurutnya, mewujudkan Kota Layak Anak tidak cukup hanya melalui peningkatan kualitas pendidikan. Pemerintah juga harus memastikan setiap anak tumbuh di lingkungan yang aman, sehat, penuh kasih sayang, serta memperoleh seluruh haknya tanpa terkecuali.

Karena itu, Vinanda menilai masukan langsung dari anak-anak sangat penting untuk mengetahui berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari perundungan, kesehatan mental, keterbatasan ruang bermain, hingga persoalan sosial lainnya.

Ia pun menegaskan hasil Kongres Anak tidak boleh berhenti sebagai dokumen atau sekadar bahan diskusi.

“Hasil kongres ini harus kita pelajari, kita tindak lanjuti, dan dijadikan salah satu referensi dalam menyusun, mengevaluasi, serta mewujudkan program pembangunan daerah,” tegasnya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri dr. Muhammad Fajri Mubasysyir menjelaskan Kongres Anak merupakan agenda tahunan untuk menjaring aspirasi anak yang selanjutnya akan disampaikan kepada Pemerintah Kota Kediri maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar memperoleh tindak lanjut.

Ia berharap anak-anak tidak ragu menyampaikan persoalan yang mereka alami maupun rasakan.

Selain menampung aspirasi, DP3AP2KB juga terus memperkuat langkah pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui pendataan keluarga rentan. Data tersebut menjadi dasar pelaksanaan edukasi, sosialisasi, dan pendampingan sebagai upaya mencegah terjadinya kekerasan.

Sementara itu, Ketua Forum Anak Kota Kediri Tsabita Cherry mengungkapkan seluruh isu yang dibahas dalam kongres berasal dari hasil survei yang dilakukan Forum Anak di sekolah, kelurahan, dan kecamatan.

Dari pemetaan tersebut, terdapat tiga persoalan utama yang paling banyak disuarakan anak-anak, yakni kekerasan terhadap anak, pendidikan, dan kesehatan dasar.

“Isu prioritas dalam Kongres Suara Anak adalah kekerasan terhadap anak, pendidikan, serta kesehatan dasar,” katanya.

Hasil survei juga menunjukkan masih adanya anak yang putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Karena itu, Forum Anak mendorong pemerintah memperluas akses beasiswa maupun bantuan pendidikan agar mereka dapat kembali mengenyam bangku sekolah.

Di bidang kesehatan, anak-anak juga menyoroti persoalan lingkungan yang masih mereka hadapi, mulai dari paparan sampah, keterbatasan akses air bersih, hingga banyaknya perokok pasif karena belum tersedianya kawasan bebas rokok di lingkungan tempat tinggal mereka.

Tsabita, yang merupakan siswi kelas XI SMA Negeri 1 Kota Kediri, menilai persoalan anak saat ini semakin kompleks. Berdasarkan hasil survei, masih ditemukan kasus kekerasan terhadap anak yang bahkan berujung pada kondisi anak terlantar hingga tindakan bunuh diri.

Menurutnya, menciptakan rasa aman bagi anak bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, melainkan membutuhkan kepedulian seluruh elemen masyarakat.

“Rasa aman bagi anak tidak hanya dibangun dari lingkungan keluarga, tetapi juga dari lingkungan masyarakat,” ujarnya.

Kongres Anak Kota Kediri 2026 diikuti sekitar 120 perwakilan anak dari Forum Anak tingkat kelurahan dan kecamatan, pelajar SMP dan SMA, pondok pesantren, hingga organisasi kemasyarakatan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan mengenai lima klaster hak anak yang meliputi hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dan kesejahteraan dasar, pendidikan serta pemanfaatan waktu luang, hingga perlindungan khusus bagi anak.

Selanjutnya, para peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan Suara Anak Kota Kediri, yang nantinya akan disampaikan kepada Pemerintah Kota Kediri sebagai rekomendasi dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan yang lebih ramah anak.

 

jurnalis : Anisa Fadila

✓ Link berhasil disalin