KEDIRI – Menjaga keamanan tak selalu dimulai dari sirene, patroli, atau seragam kepolisian. Kadang, ia tumbuh dari percakapan sederhana di sebuah warung kopi—ketika warga merasa nyaman bercerita dan polisi bersedia mendengarkan.
Semangat itulah yang dibawa Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto saat menyambangi Polsek Pesantren, Kamis (20/8). Belum genap sebulan memimpin Polres Kediri Kota, AKBP Wisnu terus turun ke lapangan, mendatangi polsek jajaran untuk mengenal lebih dekat personel sekaligus memperkuat sinergi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Polsek Pesantren menjadi salah satu tujuan kunjungan tersebut. Dikenal dengan julukan “Benteng Timur”, polsek ini memiliki wilayah kerja yang cukup luas, mencakup 15 kelurahan dengan jumlah penduduk sekitar 92 ribu jiwa.
Setibanya di lokasi, AKBP Wisnu tidak sekadar melihat kondisi markas. Ia turut menyaksikan simulasi pengamanan mako, kemudian berdialog langsung dengan jajaran personel.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat itu, berbagai persoalan di lapangan dibahas. Kapolres juga menekankan pentingnya membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat sebagai bagian dari strategi menjaga Kamtibmas.
Bagi AKBP Wisnu, keterbatasan jumlah personel bukan alasan untuk mengendurkan pengamanan. Sebaliknya, kondisi tersebut justru menuntut polisi membangun kekuatan bersama masyarakat.
“Polsek Pesantren membawahi 15 kelurahan dan 92 ribu masyarakat. Tentu dengan hanya 63 personel tidak bisa sempurna melakukan pengamanan. Jadi kita butuh masyarakat membantu menjaga Kamtibmas,” ujar AKBP Wisnu.
Ia pun mendorong anggotanya memperbanyak komunikasi informal dengan warga. Salah satunya melalui budaya “ngopi bareng”.
Bukan sekadar duduk menikmati secangkir kopi, pendekatan tersebut dinilai dapat membuka ruang percakapan yang lebih cair. Sebab, menurut AKBP Wisnu, tidak semua persoalan keamanan disampaikan masyarakat secara terbuka ketika berhadapan dalam situasi formal.
“Harapan saya anggota bisa ngopi-ngopi dengan masyarakat biar bisa tahu dan leluasa saat ngobrol. Karena tidak semua berani bercerita. Jadi pendekatan kita lewat sering-sering ngopi,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kehadiran polisi di tengah masyarakat bukan hanya ketika terjadi persoalan. Komunikasi yang terbangun sebelum masalah muncul justru menjadi salah satu modal penting untuk mendeteksi potensi gangguan keamanan sejak dini.
Pesan Kapolres Kediri Kota ; Utamakan Humanis

AKBP Wisnu juga menggarisbawahi pentingnya pelayanan yang humanis. Menurutnya, cara polisi melayani masyarakat turut menentukan tingkat kepercayaan publik terhadap institusi Polri.
Pelayanan yang tidak baik, kata dia, dapat menjadi pintu awal munculnya ketidakpercayaan masyarakat.
Sementara itu, Kapolsek Pesantren Kompol Siswandi memaparkan kondisi wilayah hukumnya kepada Kapolres. Wilayah tersebut mencakup 15 kelurahan, termasuk sejumlah kawasan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kediri.
“Kami ada 15 kelurahan, beberapa berbatasan dengan Kabupaten Kediri. Kami selalu menekankan, jalani, nikmati, syukuri dan ikhlas dalam pengabdian,” ujar Kompol Siswandi.
Secara umum, situasi keamanan di wilayah hukum Polsek Pesantren masih kondusif. Meski demikian, sejumlah kasus tetap menjadi perhatian aparat, di antaranya dugaan begal payudara yang menyasar anak-anak beberapa waktu lalu serta kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor).
Upaya pencegahan pun terus dilakukan melalui deteksi dini. Kompol Siswandi menegaskan, setiap personel memiliki peran dalam menggali informasi dari lingkungan masing-masing.
“Berkaitan intelijen sudah dilakukan sekecil apa pun. Semua bisa jadi intel, tapi ada batasannya,” ungkap perwira Polri akrab disapa Abah Sis.
Kunjungan AKBP Wisnu ke Polsek Pesantren menjadi bagian dari langkahnya membangun kedekatan dengan jajaran hingga tingkat bawah. Di balik dialog, simulasi pengamanan, dan ajakan sederhana untuk ngopi bersama warga, terselip satu pesan besar: keamanan tidak hanya dijaga dari balik kantor polisi, tetapi juga dibangun melalui kepercayaan dan komunikasi yang tumbuh di tengah masyarakat.
jurnalis : Sigit Cahya Setyawan



