KEDIRI – Suara-suara merdu memecah riuh kawasan Sentra PKL Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri, Kamis (20/8/2026). Bukan penyanyi profesional, mereka adalah para aparatur sipil negara (ASN) yang untuk sementara meninggalkan rutinitas di balik meja kerja dan berganti panggung untuk merayakan kemerdekaan.
Sebanyak 10 grup terbaik tampil dalam babak grand final Lomba Vokal Grup “Swara Merdeka ASN Kabupaten Kediri”, bagian dari rangkaian Gempita dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Lomba yang berlangsung selama dua hari, 19–20 Agustus 2026, itu diikuti 32 grup vokal dari berbagai instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kediri. Setelah melewati babak sebelumnya, 10 grup akhirnya berhak melanjutkan perjuangan ke panggung grand final.
Ketua PHBN Gempita Kabupaten Kediri, Subur Widono, mengatakan ajang tersebut tidak semata-mata menjadi hiburan dalam rangka peringatan kemerdekaan. Lebih dari itu, lomba vokal grup menjadi ruang bagi ASN untuk menyalurkan hobi sekaligus membangun kebersamaan lintas instansi.
Menurut Subur, kekompakan menjadi salah satu pesan penting yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut. Sebab, harmoni yang tercipta di atas panggung diharapkan turut membawa semangat kebersamaan ke dalam lingkungan kerja.
“Harapan kami bukan hanya soal suara, tetapi kekompakan dan kebersamaan. Dengan kebersamaan, komunikasi dan koordinasi akan lebih mudah, sehingga pelayanan kepada masyarakat semakin maksimal,” ujar Subur.
Di babak grand final, setiap grup mendapat kesempatan tampil dalam dua sesi. Mereka membawakan satu lagu wajib dan satu lagu bebas. Tak hanya kualitas vokal yang diuji, para peserta juga dituntut mampu menghadirkan kreativitas dan kekompakan dalam setiap penampilan.
Salah satu peserta, Selly Anggita dari grup Nyonya Dinkes, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, mengaku persiapan menghadapi kompetisi dilakukan dalam waktu yang cukup singkat.
Untuk lagu bebas, grup tersebut berlatih sekitar satu minggu. Sementara lagu wajib baru dipersiapkan setelah mereka memastikan diri lolos ke babak final.
“Tantangannya kekompakan dan menyatukan suara, karena basic kami memang bukan penyanyi. Grup ini juga masih baru dan kami baru pertama kali tampil di sini,” kata Selly.
Di panggung grand final, Nyonya Dinkes memilih “Rayuan Pulau Kelapa” sebagai lagu wajib dan “50 Tahun Lagi” sebagai lagu bebas.
Bagi Selly dan rekan-rekannya, keberhasilan menembus grand final menjadi pengalaman yang tidak disangka. Dari grup yang masih terbilang baru hingga akhirnya tampil di antara 10 terbaik, perjalanan tersebut menjadi bagian tersendiri dalam perayaan kemerdekaan tahun ini.
Dalam penilaian, dewan juri mempertimbangkan sejumlah aspek. Di antaranya materi suara individu dan kelompok, teknik suara individu maupun kelompok, performa, serta harmonisasi vokal grup yang meliputi aransemen dan komposisi suara.
Panggung di kawasan SLG pun menjadi ruang pertemuan antara semangat kompetisi dan kebersamaan. Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kediri turut hadir memberikan dukungan kepada para staf yang tampil.
Bagi para peserta, lomba tersebut akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang paling merdu. Di balik setiap nada yang disatukan, ada latihan, keberanian tampil, dan upaya menyelaraskan banyak suara menjadi satu harmoni.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



