KEDIRI – Suara derap langkah dan aba-aba ribuan pelajar menggema di kawasan Balai Kota Kediri, Rabu (26/8). Namun, lomba baris-berbaris dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI itu ternyata bukan sekadar ajang untuk memperebutkan gelar juara.
Di balik barisan yang rapi dan gerakan yang serempak, ada misi pendidikan karakter yang ingin ditanamkan kepada para pelajar. Mereka diajak belajar tentang disiplin, kekompakan, tanggung jawab, keberanian, sekaligus menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap bangsa dan tanah air.
Menariknya, Dinas Pendidikan Kota Kediri sengaja memilih Balai Kota sebagai lokasi start dan finis. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan pusat pemerintahan kepada anak-anak sejak dini.
Balai Kota diharapkan tidak dipandang sebagai tempat yang asing atau menakutkan, melainkan sebagai ruang bersama yang dapat dikunjungi dan digunakan masyarakat, termasuk para pelajar.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan lomba baris-berbaris memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.
Menurutnya, setiap gerakan dalam barisan mengajarkan peserta untuk disiplin, menjaga kekompakan, bertanggung jawab terhadap kelompok, serta saling memberikan dukungan.
“Karena di sini kita akan belajar kedisiplinan, kekompakan, tanggung jawab, serta adik-adik nanti harus saling menyemangati,” kata Vinanda.
Vinanda juga mengingatkan peserta agar tidak terlalu terbebani dengan hasil perlombaan. Ia meminta anak-anak berani tampil dan memberikan kemampuan terbaiknya.
Bagi Vinanda, keberanian untuk mencoba, menjaga kekompakan, serta mampu menyemangati teman justru menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter.
“Menang memang penting, adik-adik. Tetapi yang tidak kalah penting, yang penting hari ini adik-adik sudah menunjukkan penampilan terbaiknya, sudah berani mencoba, sudah satu sama lain kompak, saling menyemangati. Itu yang terpenting,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tujuan Dinas Pendidikan Kota Kediri yang menempatkan lomba baris-berbaris sebagai salah satu sarana pendidikan karakter.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Mandung Sulaksono mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat menanamkan kedisiplinan, jiwa patriotik, dan nasionalisme kepada peserta didik.
Pemilihan Balai Kota sebagai lokasi kegiatan pun bukan tanpa alasan. Mandung ingin anak-anak mengenal lebih dekat pusat pemerintahan sekaligus memiliki rasa keterikatan dengan lingkungan pemerintahan di kotanya.
“Memang kita sengaja di Balai Kota supaya anak-anak bisa mengenal. Inilah Balai Kota, kantornya Mbak Wali Kota. Balai Kota ini adalah rumah mereka, tempat mereka, sehingga tidak ada rasa takut untuk datang ke sini,” ujar Mandung.
Dalam perlombaan tersebut, kekompakan dan kebersamaan menjadi salah satu aspek utama yang diperhatikan. Mandung menegaskan, penampilan peserta tidak semata-mata dinilai dari kemewahan seragam ataupun atribut yang digunakan.
“Yang paling penting kekompakan dan kebersamaan,” tegasnya.
Sebanyak 153 peleton putri dan 147 peleton putra dari jenjang SD dan MI mengikuti lomba. Sementara itu, untuk jenjang SMP dan MTs yang dijadwalkan berlangsung pada hari berikutnya, terdapat 36 peleton putri dan 39 peleton putra.
Dari Balai Kota Kediri, para peserta menempuh rute sekitar dua kilometer. Mereka melintasi Jalan Basuki Rahmat, Jalan Brawijaya, Jalan Mayjen Sungkono, dan Jalan Diponegoro, kemudian kembali menuju Jalan Basuki Rahmat untuk finis di depan Balai Kota.
Rute tersebut bukan hanya menjadi bagian dari perlombaan. Jarak yang ditempuh juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk melatih ketahanan fisik.
Kegiatan seperti ini dinilai semakin penting di tengah keseharian anak-anak yang kini semakin dekat dengan perangkat dan aktivitas digital.
Pada akhirnya, lomba baris-berbaris di Balai Kota Kediri bukan hanya berbicara tentang siapa yang keluar sebagai pemenang. Setiap langkah, aba-aba, dan gerakan serempak menjadi pengalaman bagi para pelajar untuk belajar disiplin, bekerja sama, bertanggung jawab, berani mencoba, serta menghargai dan menyemangati satu sama lain.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti ketika perlombaan selesai, tetapi ikut terbawa dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Jurnalis: Anisa Fadila



