KEDIRI – Rumah Subagyo (56), warga RT 7 RW 3 Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota Kediri, menyimpan cerita tentang kemiskinan yang tak selalu terbaca oleh angka.
Bangunan tempat tinggalnya yang memprihatinkan kini mendapat perhatian. Anggota DPRD Kota Kediri, Drs. Bambang Giantoro, S.H., M.H., turut meninjau kondisi rumah tersebut pada Jumat (21/8) sekaligus memberikan dukungan bantuan.
Bambang mengapresiasi langkah cepat Pemkot Kediri yang langsung merespons kondisi Subagyo. Menurutnya, sinergi antara legislatif dan eksekutif diperlukan agar persoalan warga tidak berhenti menjadi laporan di atas meja.
“Jadi ini kita sangat mengapresiasi sekali. Kita sangat berterima kasih sekali. Inilah yang kita harapkan nantinya warga Kediri itu benar-benar sejahtera,” ujar Bambang.
Namun, ada persoalan lain yang tak kalah penting. Subagyo tercatat dalam desil 7, sebuah status data kesejahteraan yang berpotensi membuatnya tidak masuk prioritas sejumlah program bantuan.
Bambang menduga terdapat ketidaksesuaian dalam proses pendataan sehingga kondisi riil Subagyo belum sepenuhnya tercermin dalam sistem.
“Ada kesalahan dalam memasukkan sistem, entah dari Jakarta bagaimana, sehingga hasilnya masuk desil 7,” katanya.
Kepala Dinas Sosial Kota Kediri Imam Muttakin memberikan penjelasan. Ia mengatakan Subagyo baru teridentifikasi sebagai penyandang disabilitas mental ringan dan saat ini masih tercatat dalam desil 7.
Menurut Imam, kondisi tersebut masuk kategori inclusion error, yakni warga yang semestinya masuk kelompok penerima bantuan tetapi justru berada di luar kelompok tersebut.
Usulan perbaikan data Subagyo, kata Imam, bahkan telah diajukan sekitar dua pekan sebelumnya.
“Dia termasuk inclusion error. Jadi, itu sudah kita usulkan kurang lebih dua minggu sebelumnya untuk diperbaiki desilnya,” ujar Imam.
Setelah data diperbaiki, Subagyo akan diusulkan memperoleh bantuan sesuai kondisi dan ketentuan yang berlaku. Bantuan pemerintah pusat melalui BPNT akan diusulkan, sementara program Pemkot Kediri seperti BLT, bantuan beras, hingga bantuan rehabilitasi rumah akan diprioritaskan sesuai ketentuan.
Untuk rumahnya, Baznas telah menyiapkan bantuan Rp20 juta. Namun, kebutuhan rehabilitasi dinilai masih lebih besar dari nominal tersebut.
Bambang pun menyatakan siap memberikan dukungan apabila masih terdapat kekurangan bahan maupun kebutuhan lain dalam proses perbaikan rumah.
“Jadi kalau nanti juga kurang untuk yang di sana, kekurangan bahan-bahannya atau apa, kita akan memberikan support juga,” katanya.
Di balik persoalan satu rumah, Pemkot Kediri melihat ada pekerjaan yang lebih besar: memastikan data kesejahteraan benar-benar menggambarkan kehidupan warga.
Dinsos telah melakukan verifikasi, termasuk pada Juli lalu, sebagai bahan usulan pembaruan data kepada Kementerian Sosial.
Imam juga mengajak masyarakat aktif melaporkan warga dengan kondisi serupa melalui ketua RT untuk diteruskan ke kelurahan. Setelah itu, kelurahan bersama Dinsos akan melakukan asesmen sebelum mengusulkan perubahan data.
“Jadi, tidak bisa hanya Dinas Sosial saja, kayaknya tidak sanggup. Peran aktif dari masyarakat setempat yang paling kita tunggu,” tegasnya.
Kini, penanganan Subagyo diharapkan tak sekadar membuat rumahnya kembali layak. Lebih jauh, ada harapan agar angka dalam data berjalan seirama dengan kenyataan di balik pintu rumah warga.
Jurnalis: Anisa Fadila



