Di Balik Kursi Tua di Garasi, Kisah Warga Setono Pande yang Bertahan Hidup Seorang Diri

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Sebuah kursi bekas di garasi tetangga menjadi tempat Subagyo beristirahat ketika rumahnya tak lagi mampu memberi rasa aman. Pria yang tinggal seorang diri di Kelurahan Setonopande, Kota Kediri, itu telah lama hidup dalam keterbatasan. Rumahnya berukuran sekitar 7 × 12 meter, tetapi kondisinya kini jauh dari layak huni. Atap rumah bahkan telah roboh seluruhnya.

Kisah Subagyo mendapat perhatian setelah Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati meninjau rumahnya, Jumat (21/8). Pemerintah bersama Baznas dan sejumlah pihak kemudian mengupayakan perbaikan rumah tersebut.

Baznas memberikan bantuan awal sebesar Rp20 juta. Pemkot Kediri juga menyalurkan sembako serta menyiapkan kebutuhan tidur, termasuk kasur yang selama ini tidak dimiliki Subagyo.

Namun, persoalan tak sesederhana mengganti atap. Rumah tersebut harus dibersihkan dan sejumlah bagian perlu dibongkar sebelum rehabilitasi dilakukan. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Kediri akan melibatkan DLHKP, Tagana, Dinsos, pemerintah kecamatan dan kelurahan, hingga masyarakat sekitar.

“Pembongkaran dan rehabilitasi dengan menggunakan anggaran dari Baznas. Karena kurang, nanti kita juga melibatkan donatur-donatur yang ingin membantu,” kata Kepala Dinas Perkim Kota Kediri Anang Kurniawan.

Penanganan ini dilakukan melalui gotong royong karena Subagyo tidak masuk kriteria penerima program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) Pemkot Kediri. Namanya tercatat dalam desil 7, sedangkan program RTLH mensyaratkan penerima berada pada desil 1 hingga 4.

Meski demikian, kondisi itu tak membuat upaya perbaikan terhenti.

“Harapannya nanti beliau bisa mendapatkan rumah yang layak untuk ditinggali, kemudian nantinya bisa meningkatkan kualitas hidup beliau,” ujar Vinanda.

Ketua RT 7 RW 3 Kelurahan Setonopande, Ona Yusita, menuturkan kerusakan rumah Subagyo telah berlangsung lama. Berawal dari kebocoran yang tak kunjung diperbaiki karena keterbatasan biaya, kondisi rumah semakin memburuk setelah Subagyo bekerja di Gresik dan rumah tersebut ditinggalkan.

“Sehari-harinya, karena rumahnya sudah tidak bisa ditempati, dia tidur di garasi sebelah kandang ayam. Ada kursi yang sudah tidak terpakai, akhirnya dibuat untuk tidur,” tutur Ona.

Subagyo kini tak memiliki pekerjaan tetap. Ia telah lama bercerai dan hidup seorang diri. Menurut Ona, Subagyo juga mengalami keterbatasan mental ringan sehingga membutuhkan perhatian dari lingkungan sekitar.

Warga pun menjadi sandaran hidupnya. Ketika ada pekerjaan serabutan, tetangga terkadang memberikan pekerjaan sekaligus upah. Untuk makan sehari-hari, warga membantu sesuai kemampuan.

Di tengah rumah yang kehilangan atap dan hidup yang penuh keterbatasan, kini ada harapan baru: sebuah rumah yang kembali layak untuk ditinggali.

Jurnalis: Anisa Fadila