KEDIRI – Riuh suara warga memecah sore di tepian sungai Omah Sawah, Kediri, Jumat (21/8). Sekitar 1.000 pemancing dari berbagai usia memadati lokasi, berburu lele sekaligus mengejar keberuntungan di balik ikan berpita.
Meski lomba baru dijadwalkan dimulai pukul 16.00 WIB, peserta telah berdatangan sejak satu jam sebelumnya. Anak-anak, orang dewasa hingga ibu-ibu duduk berjajar di sepanjang aliran sungai, menunggu kail disambar ikan.
Namun, ada buruan yang membuat suasana kian menegangkan: 15 lele berpita.
Siapa pun yang berhasil mendapatkannya berhak membawa pulang hadiah elektronik. Panitia menyiapkan lima kompor, lima kipas angin, dan lima setrika bagi para penemu lele istimewa tersebut.
Lomba mancing ini merupakan bagian dari Festival Omah Sawah 2026 sekaligus rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sekitar tiga ton lele disiapkan untuk ditebar selama tiga hari, masing-masing satu ton pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Edy Herwiyanto, ayah Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, mengatakan lomba mancing menjadi agenda rutin Festival Omah Sawah. Menurut dia, kegiatan tersebut bukan sekadar menyalurkan hobi, tetapi juga menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul dan mempererat persatuan.
“Kegiatan mancing ini menjadi wadah persatuan bagi seluruh warga, khususnya Kota Kediri. Harapannya, masyarakat bisa berbahagia dan semua mendapat lele untuk dibawa pulang,” ujar Edy.
Bagi Andriana Sari, warga Singonegaran, keseruan lomba justru terasa dari hal sederhana: berkumpul, menunggu kail bergerak, lalu bersorak ketika ikan berhasil diangkat.
Baru pertama kali mengikuti lomba bersama anaknya, Andriana sudah membawa pulang tiga ekor lele sejak sekitar pukul 15.30 WIB.
“Seru, terutama saat dapat ikan. Kalau masih menunggu agak jenuh juga,” katanya.
Cerita keberuntungan datang dari El Hanafi, bocah 11 tahun asal Purwodadi, Ringin Rejo. Didampingi sang ayah, Imam Hanafi, siswa kelas 6 SD itu berhasil mengangkat lele berpita.
Hadiah berupa kompor pun menjadi miliknya.
“Anak saya mendapat lele berpita dan mendapat kompor, alhamdulillah senang sekali. Anak saya ini juga membawa keberuntungan buat saya,” ujar Imam.
Bagi keduanya, pengalaman itu terasa istimewa. Mereka memang cukup sering memancing, tetapi baru kali ini kail membawa pulang hadiah.
Sore itu, tepian sungai Omah Sawah bukan lagi sekadar aliran air. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan warga—tempat ribuan kail dilempar, lele diburu, dan keberuntungan kadang datang dari tarikan yang tak disangka.
Lewat kegiatan tersebut, Edy berharap geliat kebersamaan sekaligus perekonomian warga terus tumbuh.
“Harapannya Kota Kediri lebih ngangeni lagi,” pungkasnya.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



