KEDIRI – Bambu kembali beradu, kaki-kaki kecil bertumpu, dan tawa pelajar pecah di tengah Festival Omah Sawah, Burengan, Kota Kediri, Sabtu (22/8).
Egrang, terompah panjang, balap karung, hingga dagongan yang mulai jarang ditemui dalam keseharian kembali dimainkan. Bukan sekadar mengejar kemenangan, para pelajar diajak mengenal permainan warisan budaya sekaligus membuka pintu menuju olahraga tradisional.
PIC Permainan Tradisional Festival Omah Sawah, Andriano, mengatakan tahun ini peserta diperluas hingga jenjang SMP. Sebelumnya, kompetisi hanya melibatkan pelajar SD.
“Jadi ini menjadi pengenalan anak-anak dan bisa menjaring atlet baru,” ujar Andriano.
Empat cabang dipertandingkan, yakni terompah panjang, egrang, balap karung, dan dagongan. Dagongan dimainkan lima orang dalam satu tim, sedangkan tiga peserta berlaga dalam cabang egrang, terompah panjang, dan balap karung.
Perluasan peserta dilakukan setelah evaluasi penyelenggaraan tahun sebelumnya. Menurut Andriano, antusiasme pelajar menunjukkan permainan tradisional masih memiliki daya tarik, meski tak lagi banyak hadir dalam aktivitas sehari-hari.
“Lomba-lomba seperti ini jarang ditemui dalam sehari-hari. Jadi, anak-anak sangat menikmati dan bersemangat mengikuti pertandingan,” katanya.
Lebih dari permainan, egrang, terompah panjang, dan dagongan memiliki jenjang kompetisi hingga tingkat provinsi dan nasional. Kompetisi pelajar pun menjadi pintu awal untuk mengenalkan olahraga tersebut sekaligus mencari calon atlet.
Semangat itu dirasakan Desya, siswi kelas 9 SMPN 2 Kota Kediri. Bersama empat rekannya, ia sukses merebut juara pertama lomba dagongan tingkat SMP. Bagi Desya, kemenangan itu terasa istimewa karena merupakan pengalaman pertamanya mengikuti perlombaan dagongan.
“Pokoknya bambunya tidak boleh sampai naik ke atas. Harus kuat menahan dan menjaga posisi supaya tidak terdorong,” tutur Desya.
Ia menyebut kekuatan fisik dan kuda-kuda kaki menjadi kunci. Keduanya harus terjaga agar tubuh tetap seimbang sekaligus mampu menahan tekanan tim lawan.
Bagi Desya, permainan yang dianggap bagian dari masa lalu itu justru menghadirkan pengalaman baru yang menyenangkan. Ia berharap kompetisi serupa terus digelar agar semakin banyak pelajar mengenal dan ikut melestarikan permainan tradisional.
Festival Omah Sawah pun menjadi panggung kecil bagi warisan yang hampir tersisih oleh zaman. Dari dorongan bambu hingga langkah di atas egrang, permainan tradisional kembali menemukan tempat di tangan generasi muda—sekaligus membuka kemungkinan lahirnya atlet-atlet baru dari bangku sekolah.
Jurnalis: Anisa Fadila



