KEDIRI – Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser berbagai tradisi, denting gamelan dan hentakan kaki para penari Jaran Kepang masih setia menggema dari Kabupaten Kediri. Di balik irama yang tak lekang waktu itu, Kelompok Kesenian Jaranan Putro Jayeng Rono terus meneguhkan eksistensinya sebagai salah satu kelompok jaranan tertua yang masih aktif melestarikan warisan budaya leluhur.
Berdiri sejak 1978, kelompok seni tersebut kembali memukau masyarakat saat tampil dalam rangkaian Suran Agung Ing Ndalem Dewobroto di Pendopo Agung Ndalem Dewobroto, Kecamatan Pagu, Senin (29/6). Penampilan mereka menjadi salah satu agenda yang paling dinanti pengunjung, terlebih sebagian besar penarinya merupakan generasi muda yang masih berstatus pelajar.
Pemilik sekaligus seniman Jaranan Putro Jayeng Rono, Firdan, mengatakan kelompok yang dipimpinnya telah melewati lintas generasi tanpa kehilangan jati diri. Hingga kini, sebanyak 30 anggota aktif terus menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.
“Kelompok ini berdiri sejak tahun 1978 dan sampai sekarang masih bertahan. Dari tahun ke tahun tidak ada penurunan, malah ada peningkatan minat masyarakat. Kami melibatkan anak-anak muda agar menjadi bagian pelestarian budaya,” ujarnya.
Menurut Firdan, kekuatan utama Jaranan Putro Jayeng Rono terletak pada komitmennya mempertahankan pakem yang diwariskan para pendahulu. Mulai dari iringan musik, ragam gerak tari, hingga setiap prosesi pertunjukan tetap dijalankan sesuai tradisi, meski banyak kelompok lain mulai melakukan berbagai modifikasi mengikuti perkembangan zaman.
Pilihan untuk tetap menjaga keaslian justru menjadi daya tarik tersendiri. Antusiasme masyarakat terus meningkat setiap kali kelompok ini tampil, tidak hanya di Kediri, tetapi juga di sejumlah daerah seperti Sidoarjo, Jombang, hingga Surabaya.
Bagi Firdan, tingginya minat penonton menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki ruang yang kuat di hati masyarakat. Ia menilai kegiatan budaya seperti Suran Agung berperan penting dalam memperkenalkan warisan leluhur kepada generasi muda agar estafet budaya tidak terputus.
“Anak-anak dan remaja harus dikenalkan supaya budaya ini tetap ada,” katanya.
Jaranan Putro Jayeng Rono pun tidak hanya menjadi tontonan, melainkan juga ruang belajar budaya. Banyak orang tua sengaja mengajak anak maupun cucunya menyaksikan pertunjukan sebagai cara sederhana menanamkan kecintaan terhadap tradisi sejak usia dini.
Salah satunya Lilik, yang datang bersama cucunya yang masih berusia empat tahun. Ia mengaku sengaja mengenalkan kesenian jaranan agar sang cucu tumbuh dengan mengenal akar budayanya sendiri.
“Memang ada niatan mengenalkan budaya kepada cucu,” tuturnya.
Hampir lima dekade berlalu sejak pertama kali berdiri, Jaranan Putro Jayeng Rono masih menari di tengah perubahan zaman. Kelompok ini membuktikan bahwa warisan budaya tidak akan pudar selama masih ada pelaku seni yang setia menjaga tradisi dan generasi muda yang bersedia melanjutkan jejak para pendahulunya. Di tengah dunia yang terus bergerak maju, mereka menjadi pengingat bahwa identitas budaya adalah akar yang tak boleh tercerabut dari tanah kelahirannya.



