Merah Putih Raksasa Kembali Menyapa Langit Kediri, Pemkot Buka Peluang untuk Pelaku Usaha Lokal

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Angin yang menusuk dan hawa dingin di lereng Gunung Klotok tak menyurutkan langkah ratusan orang. Dengan semangat kemerdekaan, mereka kembali membawa bentangan Merah Putih raksasa berukuran 60×40 meter untuk dikibarkan di kawasan puncak Gunung Klotok, Kota Kediri.

Bendera seluas sekitar 2.400 meter persegi itu kembali menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Kediri.

Pengibaran tahun ini sekaligus menjadi kali keempat bendera berukuran raksasa tersebut digunakan. Sebelumnya, bendera yang sama telah dikibarkan dalam tiga agenda serupa.

Di balik ukurannya yang mencolok, ada persoalan yang tak sederhana: bagaimana membuat kain raksasa tetap kuat ketika harus berhadapan langsung dengan angin, hujan, dan medan terbuka di kawasan Gunung Klotok.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, HM Bambang Priyambodo, mengatakan pengadaan bendera berukuran raksasa tidak dilakukan setiap tahun.

Pertimbangannya tak lepas dari kemampuan anggaran serta kebutuhan akan material dengan spesifikasi tertentu.

Untuk pengadaan tahun ini, bendera dibuat di Solo. Menurut Bambang, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan ketersediaan bahan sekaligus kualitas material yang dibutuhkan.

“Yang dicari memang kualitasnya. Karena di sana medannya juga agak sulit. Apalagi ukurannya 60 x 40. Kalau bahannya jelek, di atas itu langsung rusak,” ujar Bambang.

Ukuran bendera yang mencapai puluhan meter membuat pemilihan kain tidak bisa dilakukan sembarangan. Material harus memiliki ketahanan yang cukup untuk digunakan di ruang terbuka dan menghadapi perubahan cuaca.

Pemkot Kediri, kata Bambang, sebenarnya telah berupaya mencari material yang sesuai di wilayah Kediri. Sejumlah lokasi sempat disurvei untuk menemukan bahan dengan spesifikasi yang dibutuhkan dan tetap sesuai dengan kemampuan anggaran.

Namun, keterbatasan ketersediaan bahan menjadi salah satu kendala.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan produksi bendera raksasa dilakukan di Kota Kediri pada masa mendatang.

Bambang menyatakan terbuka jika warga maupun pelaku usaha lokal dapat mengerjakan pembuatan bendera serupa. Syaratnya, material yang digunakan harus tersedia dan mampu memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan.

Bagi Bambang, tempat pembuatan bukanlah persoalan utama. Yang jauh lebih penting adalah kualitas bahan dan kesesuaian harga dengan spesifikasi yang dibutuhkan.

“Yang penting harganya masuk dan bahannya sesuai dengan yang kita minta,” tegasnya.

Enam Bulan untuk Sebuah Merah Putih Raksasa

Membuat bendera berukuran 60×40 meter bukan pekerjaan singkat. Proses pembuatannya membutuhkan waktu sekitar enam bulan.

Material yang digunakan pun harus memiliki daya tahan terhadap air. Sebab, setelah dibawa ke Gunung Klotok, bendera akan berada di ruang terbuka dan menghadapi terpaan angin serta hujan.

“Jadi memang harus yang bagus karena penggunaannya di luar dan medannya juga agak sulit,” kata Bambang.

Kondisi alam menjadi tantangan tersendiri bagi bendera tersebut.

Setiap kali dibentangkan di Gunung Klotok, kain raksasa itu harus berhadapan dengan angin dan cuaca terbuka. Karena itu, kerusakan pada sejumlah bagian menjadi sesuatu yang sulit sepenuhnya dihindari.

Setelah tiga kali digunakan dalam pengibaran sebelumnya, kondisi bendera kini mulai menunjukkan sejumlah kerusakan.

Namun, kerusakan tersebut masih dapat diperbaiki. Karena itu, bendera tetap digunakan kembali untuk pengibaran keempat tahun ini.

Bambang memperkirakan, dari sisi ketahanan material, bendera raksasa tersebut idealnya mengalami penggantian sekitar tiga tahun sekali. Pertimbangannya bukan semata-mata usia kain, tetapi intensitas penggunaan dan kondisi medan tempat bendera dikibarkan.

“Kalau secara kualitas kain, harusnya sekitar tiga tahun sekali, karena pemakaiannya tidak sehari dua hari,” jelasnya.

Peluang bagi Pelaku Usaha Kota Kediri

Di balik kebutuhan akan material berkualitas, pengadaan Merah Putih raksasa juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.

Pemkot Kediri berharap, pada pengadaan berikutnya, pembuatan bendera raksasa tidak harus selalu dilakukan di luar daerah. Warga maupun pelaku usaha di Kota Kediri berpeluang mengambil bagian jika mampu menyediakan bahan dan mengerjakannya sesuai standar yang dibutuhkan.

Bagi Pemkot Kediri, kualitas tetap menjadi garis utama.

Sebab, ketika Merah Putih berukuran 60×40 meter dibentangkan di lereng Gunung Klotok, yang dipertaruhkan bukan hanya kekuatan jahitan dan kain. Bendera itu harus mampu bertahan di tengah alam sekaligus menjaga simbol kemerdekaan tetap berkibar.

Dari Solo hingga lereng Gunung Klotok, perjalanan bendera raksasa tersebut menunjukkan bahwa sebuah bentangan Merah Putih membutuhkan persiapan panjang sebelum akhirnya dapat menantang angin dan menyapa langit Kediri.

Jurnalis: Anisa Fadila