KEDIRI – Larangan pelajar SMP mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah belum sepenuhnya dipatuhi. Di Kota Kediri, Jawa Timur, sejumlah siswa masih terlihat membawa sepeda motor menuju sekolah, salah satunya di kawasan Jalan Raya Gayam, sekitar SMPN 6 Kota Kediri.
Jumlahnya memang disebut sudah jauh berkurang dibanding sebelumnya. Namun, beberapa pelajar masih terlihat mengendarai sepeda motor sendiri saat berangkat maupun berada di sekitar lingkungan sekolah.
Kepala SMPN 6 Kota Kediri, Budi Pramono, mengatakan pihak sekolah bersama kepolisian telah berulang kali memberikan imbauan kepada orang tua agar mengantar anak ke sekolah dan tidak membiarkan mereka membawa sepeda motor sendiri.
“Namun semua kembali ke orang tua. Mungkin orang tua terpaksa membiarkan anak membawa motor karena tidak bisa mengantar,” kata Budi.
Menurut Budi, sosialisasi yang dilakukan kepolisian beberapa waktu lalu cukup berdampak. Jumlah siswa yang membawa sepeda motor ke sekolah kini menurun. Meski demikian, pihak sekolah belum mengetahui secara pasti alasan masih adanya siswa yang tetap memilih mengendarai motor sendiri.
Sekolah, lanjut Budi, mendukung langkah kepolisian untuk melakukan penindakan terhadap pelajar yang masih membawa sepeda motor. Menurut dia, pembinaan dan tindakan diperlukan agar siswa memahami risiko serta tidak mengulangi pelanggaran.
“Kalau diberi tindakan dari kepolisian itu justru bagus agar mereka jera,” ujarnya.
Budi mengatakan bentuk tindakan tidak hanya berupa penilangan. Menurut dia, petugas juga dapat memberikan pembinaan seperti push up hingga menyita sepeda motor untuk kemudian diambil oleh orang tua.
“Karena jika hanya sosialisasi tidak memberikan efek jera,” ungkapnya.
Di sisi lain, pihak sekolah telah menyampaikan larangan membawa sepeda motor kepada para wali murid. Sebagai alternatif, siswa dapat diantar orang tua, menggunakan sepeda, transportasi umum, maupun layanan ojek online.
SMPN 6 Kota Kediri bahkan menyediakan area parkir khusus bagi siswa yang menggunakan sepeda.
“Kami menyediakan tempat parkir sepeda ontel. Kami persilakan, ada tempat parkirnya. Mayoritas sekarang diantar orang tua atau naik ojek online,” jelas Budi.
Selain itu, keberadaan bus Satria yang melintas di kawasan sekolah juga dapat menjadi pilihan transportasi bagi para pelajar. Sekolah mengimbau orang tua memanfaatkan fasilitas tersebut agar anak tidak perlu mengendarai sepeda motor sendiri.
Budi menegaskan, persoalan pelajar membawa sepeda motor ke sekolah bukan semata-mata tanggung jawab pihak sekolah. Pengawasan orang tua juga menjadi bagian penting untuk memastikan anak tidak mengendarai kendaraan bermotor sebelum memenuhi ketentuan yang berlaku.
Masih ditemukannya pelajar SMP membawa sepeda motor di Jalan Raya Gayam menunjukkan bahwa persoalan tersebut belum sepenuhnya selesai di Kota Kediri. Upaya pencegahan melalui edukasi, pengawasan orang tua, serta pembinaan dan penindakan dari kepolisian dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Jurnalis: Sigit Cahya Setyawan



