KEDIRI — Peristiwa yang seharusnya tak pernah terjadi itu akhirnya terkonfirmasi. Sebanyak 73 siswa dari tiga sekolah dasar di Kota Kediri — SDN Ketami 1, SDN Ketami 2, dan SDN Tempurejo 1 — menjadi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Biang keroknya: sup kacang merah kentang yang tercemar bakteri Escherichia coli (E. coli) dengan kadar mencapai 147 — jauh melampaui ambang aman.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr. Hamida, Sp.P, mengungkap hasil uji laboratorium dari sampel makanan tanggal 22 April lalu. Hasilnya mengejutkan. Pada menu ayam teriyaki ditemukan kandungan E. coli sebesar 2, sedangkan sup kacang merah kentang mencatatkan angka 147. Hanya menu orak-arik tahu wortel yang dinyatakan aman dikonsumsi bagi puluhan tunas bangsa ini.
“E. coli adalah bakteri patogen yang seharusnya tidak ada sama sekali dalam makanan. Kontaminasi kemungkinan besar terjadi setelah proses memasak — misalnya karena jeda terlalu lama antara makanan matang dan saat didistribusikan,” terang dr. Hamida, Senin (27/4).
Bermula dari Bau Tak Sedap
Kepala SDN Tempurejo 1, Nita Ekaningkarti, menceritakan kronologi kejadian secara rinci. Paket MBG tiba di sekolah sekitar pukul 10.30–11.00 WIB dengan menu burger, sup kacang merah, dan ayam saus teriyaki. Awalnya tak ada yang mencurigai apapun — hingga seorang guru kelas 2 melaporkan satu porsi makanan yang tercium bau tidak sedap.
“Laporan itu langsung kami teruskan ke PIC dan pihak SPPG. Petugas datang mengambil sampel, tapi saat itu belum ada siswa yang mengeluh sakit,” ujar Nita.
Kekhawatiran baru mencuat keesokan harinya. Satu per satu siswa mulai melapor sakit perut, diare tak berhenti, hingga muntah-muntah. Total 10 siswa di SDN Tempurejo 1 terdampak — 8 siswa kelas 6 dan 2 siswa kelas 4. Yang membuat miris, Nita sendiri sempat mencicipi makanan tersebut sekitar pukul 09.00 dan tak merasakan kelainan apapun.
“Saya duga ada perbedaan daya tahan tubuh antara orang dewasa dan anak-anak,” imbuhnya.
SDN Ketami 2 Paling Parah

Dari tiga sekolah yang terdampak, SDN Ketami 2 mencatat korban terbanyak: 53 siswa. Kepala sekolahnya, Hermin, memastikan seluruh siswa kini telah kembali masuk dan mengikuti pembelajaran secara normal.
Sementara dr. Hamida menambahkan, dari total 73 korban, tiga siswa sempat tidak masuk sekolah — namun bukan lagi karena gejala keracunan. Satu siswa mengalami batuk pilek biasa, dua siswa lainnya ada keperluan keluarga.
Dapur Penyuplai Disetop, Distribusi Dialihkan
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati sebelumnya telah mengambil langkah tegas. Operasional SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) penyuplai makanan dihentikan sementara setelah evaluasi menemukan celah prosedur — salah satunya uji organoleptik (penilaian kualitas makanan secara sensoris) yang belum dijalankan secara menyeluruh.
“Dari hasil laboratorium ditemukan bakteri E. coli. Survei kehigienisan juga menunjukkan uji organoleptik belum dilakukan di SPPG tersebut,” tegas Vinanda, Jumat (24/4).
Sebagai langkah antisipasi, distribusi MBG di sekolah-sekolah terdampak kini dialihkan sementara ke dapur SPPG Mojoroto. Meski begitu, Senin (27/4), para siswa tetap menerima menu MBG seperti biasa.
Kapolres Kediri Kota, AKBP Anggi Saputra Ibrahim, menyatakan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Satgas MBG Kota Kediri untuk memastikan kejadian serupa tak terulang. Dinas Kesehatan pun telah memberikan peringatan keras kepada penyedia makanan agar lebih ketat menerapkan standar operasional prosedur — mulai dari sanitasi bahan baku, proses pengolahan, hingga ketepatan waktu distribusi.









