KEDIRI – Hampir tiga bulan warga Kota Kediri harus memutar setelah Jembatan Kaliombo 1 ditutup untuk dibangun ulang. Kini, tanda-tanda akses itu kembali terbuka mulai terlihat. Pihak Pemerintah Kota Kediri melalui Kepala Dinas PUPR, Endang Kartika Sari yang juga menjabat Pj. Sekda Kota Kediri, membenarkan jika poiak pelaksana tengah melakukam pekerjaan besar terakhir yaitu pengaspalan.
Pekerja yang dikebut mulai Kamis kemarin, dan ditargetkan rampung Jumat besok. Progres pembangunan jembatan yang menghubungkan kawasan Alun-Alun dengan Lingkungan Jetis itu kini mencapai sekitar 80–90 persen.
Pengawas lapangan PPK 2.1 Provinsi Jawa Timur, Oski Ardianto, mengatakan setelah pengaspalan selesai, progres pekerjaan utama diperkirakan menembus lebih dari 90 persen.
Namun, aspal yang menghampar belum berarti kendaraan bisa langsung melintas. Sejumlah pekerjaan penyempurnaan masih harus diselesaikan, mulai pemasangan kerb, pasangan batu, railing, hingga pekerjaan di bagian bawah jembatan.
Pihak pelaksana juga masih harus memastikan kesiapan jembatan untuk menerima lalu lintas, termasuk kendaraan berat. Rekayasa lalu lintas pun disiapkan agar pembukaan akses tidak mengganggu keselamatan pekerja maupun pengguna jalan.
Percepatan proyek dilakukan dengan menambah tenaga kerja dan menerapkan metode fast track. Sekitar 30 pekerja terampil dikerahkan dalam pola kerja hingga 24 jam.
Pelaksana Jembatan Kaliombo 1, Sukisno, mengatakan pengaspalan mencakup badan jembatan, plat injak, serta ruas jalan di kedua sisi. Setelah itu, pekerjaan seperti groundsill, bronjong, dan pemulihan pasangan batu lama masih perlu dituntaskan.
Jembatan Kaliombo 1 ditutup sejak 29 Mei 2026 untuk dibongkar total dan dibangun ulang. Jembatan yang telah berdiri sejak 1940 itu semula ditargetkan selesai pada 11 Desember 2026.
Kini, percepatan pekerjaan membuka peluang jembatan kembali dilintasi lebih cepat. Jika tahapan teknis dan persiapan pembukaan berjalan sesuai rencana, warga Kediri berpeluang kembali menggunakan akses tersebut pada akhir Agustus atau awal September.
Jurnalis: Anisa Fadila – Navima Aulya Sava



